Search
Close this search box.
Search

Temuan Nexus3 dan Universitas Tadulako di Weda Bay: 47% Responden Memiliki Kadar Merkuri yang Melebihi Batas Aman

Temuan Nexus3 dan Universitas Tadulako di Weda Bay: 47% Responden Memiliki Kadar Merkuri yang Melebihi Batas Aman

Pada bulan Juli 2024, Nexus3 Foundation bekerja sama dengan Universitas Tadulako, melakukan pengumpulan data primer secara komprehensif melalui pengujian dan analisis sampel lingkungan dan biologi. Sampel tersebut mencakup sedimen, air, ikan, dan darah dari penduduk di sekitar wilayah Weda Bay dan area tambang nikel.

Senin (26 Mei 2025) Nexus3 Foundation bersama Universitas Tadulako merilis laporan penelitian mengenai status lingkungan dan human biomonitoring di daerah Teluk Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara yang menjadi salah satu sentra industri nikel di Indonesia.

Sampel darah warga lokal menunjukkan bahwa 47% responden memiliki nilai kadar merkuri melebihi batas aman 9 µg/L dan 32% responden memiliki nilai kadar arsenik melebihi batas aman 12 µg/L dari total 46 responden. Saat darah warga dibandingkan dengan pekerja industri di kawasan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), konsentrasi logam berat warga lebih tinggi dibandingkan dalam darah pekerja.

“Penelitian ini menjadi peringatan serius terhadap ancaman jangka panjang pajanan logam berat baik terhadap kesehatan masyarakat maupun kelestarian lingkungan. Temuan ini menegaskan perlunya pemantauan lingkungan dan kesehatan secara rutin, serta penegakan hukum terhadap industri pencemar. Kami mendorong keterbukaan data dan kolaborasi semua pihak untuk melindungi masyarakat dan ekosistem”, ujar Prof. Darmawati Darwis, Fakultas MIPA, Universitas Tadulako.

Nikel, sebagai bahan baku penting dalam mempercepat transisi energi, ekspansi industri pertambangan dan pengolahan nikel semakin menjamur di Indonesia. Kebijakan hilirisasi industri mendorong Indonesia memanfaatkan sumber daya nikel laterit yang tumpang tindih dengan hutan hujan tropis dan keanekaragaman hayati.

Masifnya pembukaan dan alih fungsi lahan untuk industri nikel meningkatkan kerusakan lingkungan, ancaman terhadap keanekaragaman hayati, dan berdampak negatif terhadap masyarakat lokal yang kehidupannya bergantung pada sumber daya alam.

Batubara terdampar di area pesisir memengaruhi kualitas air laut dan pantai. (Foto: Nexus3 Foundation)

“Kegiatan industri di Weda, yang dianggap memiliki kepentingan strategis nasional, melepaskan dan memancarkan polutan ke lingkungan secara tidak terkendali. Risiko lingkungan dan kesehatan yang terkait dengan area IWIP dan industri pendukungnya menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat dan pekerjanya,” kata Yuyun Ismawati, pendiri dan Senior Advisor Nexus3.

“Ini bukan contoh yang baik dari objek vital nasional tetapi lebih merupakan proyek mencari keuntungan jangka pendek yang menciptakan penderitaan jangka panjang. Negara seharusnya bertanggung jawab mencegah pajanan terhadap kesehatan warganya dan melindungi hak mereka untuk hidup di lingkungan yang sehat, bukan melindungi industri,” tambahnya.

Lebih jauh lagi, penelitian ini juga melihat potensi risiko pajanan logam berat ke masyarakat lokal lewat konsumsi ikan. Sampel darah diambil dari empat puluh enam responden yang terdiri dari pekerja Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), keluarga nelayan, petani, dan staf puskesmas setempat untuk dilakukan pengujian kadar enam logam berat, yakni arsenik, merkuri, nikel, kadmium, talium, dan timbal.

Tingkat merkuri dan arsenik dalam darah lebih tinggi pada penduduk yang bukan pekerja IWIP. Informasi ini menunjukkan bahwa pajanan utama terhadap arsenik dan merkuri tidak hanya berasal dari pajanan okupasi di kawasan industri tetapi sudah menyebar ke lingkungan.

Temuan ini mengindikasikan adanya pencemaran rantai makanan laut di Teluk Weda. Arsenik, kadmium, timbal, dan merkuri adalah toksikan sistemik yang dapat menyebabkan efek merugikan pada manusia, termasuk penyakit kardiovaskular, gangguan neurologis, kanker, dan gangguan kekebalan tubuh.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap responden, rata-rata konsumsi makanan laut dalam 2 hari sebelum pengambilan sampel darah adalah 2–6 porsi. Paparan reguler terhadap logam-logam berat tersebut melalui jalur makanan dapat menyebabkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang, terutama Penyakit Tidak Menular atau Non-Communicable Diseases.

Foto utama: Komunitas nelayan di antara ekspansi industri nikel. (Foto: Hariyanto Teng/Nexus3)

Untuk hasil riset selengkapnya dapat dibaca di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *