Blue Forests menggelar talkshow dengan tema Women for Mangrove pada Rabu (11/03/2026). Talkshow ini menghadirkan para perempuan yang berperan dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove. Pada diskusi tersebut kembali ditegaskan ekosistem mangrove bukan sekadar benteng fisik terhadap abrasi, melainkan simbol ketangguhan sosial dan ekonomi, terutama bagi kaum perempuan di wilayah pesisir Indonesia.
Diskusi ini juga menyoroti bagaimana keterkaitan emosional dan fungsional antara perempuan dan alam menjadi kunci keberlanjutan masa depan pesisir. Dr. Ir. Andi Tenriola Rivai, M.Si., perwakilan dari Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Sulawesi Selatan, membuka pembahasan dengan menekankan peran vital mangrove sebagai penjaga keseimbangan alam.
Hilangnya hutan mangrove bukan sekadar hilangnya pepohonan di pinggir laut, melainkan hilangnya proteksi bagi ekosistem yang lebih luas. Andi Tenriola memberikan peringatan keras bahwa kerugian yang dialami pantai akibat degradasi lingkungan akan berdampak langsung pada hilangnya masa depan masyarakat yang bergantung padanya.
“Mangrove adalah penjaga keseimbangan alam. Ketika mangrove hilang, maka pantai akan kehilangan perlindungannya, dan ketika pantai kehilangan, maka masyarakat pesisir kehilangan masa depan mereka,” terangnya.
Namun, di tengah tantangan tersebut, muncul harapan melalui peran aktif perempuan. Menurut Andi Tenriola, perempuan pesisir telah membuktikan bahwa keterlibatan mereka melampaui kegiatan seremonial penanaman. Mereka kini menjadi motor penggerak ekonomi melalui diversifikasi produk mangrove.
Mulai dari pengolahan buah mangrove menjadi produk pangan, pengelolaan unit pembibitan yang sistematis, hingga pengembangan kawasan wisata berbasis konservasi. Hal ini menunjukkan bahwa penyelamatan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi perempuan adalah dua sisi dari koin yang sama.
“Perempuan tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga menjadi sumber kehidupan baru. Ada yang membuat produk makanan dari buah mangrove, mengelola pembibitan, hingga mengembangkan wisata mangrove. Mangrove tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga memberdayakan peran perempuan secara luar biasa,” tambahnya.

Filosofi Keibuan dalam Ekosistem Mangrove
Menyambung perspektif ekologis tersebut, Ratnawaty Fadilah selaku Penasehat Teknis Bidang Sosial Ekonomi Blue Forests, memberikan sudut pandang filosofis yang mendalam. Ia mengibaratkan mangrove sebagai sosok ibu yang tak kenal lelah memberi.
Posisi mangrove yang selalu berada di garis terdepan merupakan bentuk perlindungan nyata bagi pemukiman warga, tambak-tambak budidaya, hingga lahan pertanian dari ancaman intrusi air laut dan badai.
“Mangrove adalah ibu yang sabar, yang memberi segalanya tanpa pernah menuntut. Ia berada di garis terdepan melindungi rumah kita, tambak kita, dan lahan pertanian kita. Seperti seorang ibu yang tidak pernah mengharapkan balasan dari anaknya, begitulah mangrove yang tetap memberi meski kita menebang atau mengeruk isinya,” terangnya.
Ratnawaty menekankan sifat altruisme dari ekosistem ini. Mangrove menyediakan segala kebutuhan protein masyarakat, mulai dari ikan, udang, hingga kepiting, tanpa pernah meminta imbalan.
Bahkan dalam kondisi tragis sekalipun ketika manusia menebang atau mengeruk isinya secara berlebihan mangrove tetap bertahan dan terus berusaha memberikan perlindungan tanpa suara protes.
“Analogi ini digunakan untuk menggugah kesadaran masyarakat agar mulai memperlakukan mangrove dengan penghormatan yang layak, sebagaimana mereka menghormati sosok ibu dalam kehidupan mereka,” ujar Ratna.
Resiliensi Perempuan NTT
Kisah ketangguhan yang lebih spesifik datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Yudit Rofinisana Wangge, Landscape Coordinator Lesser Sunda Blue Forests, menceritakan realitas pahit sekaligus membanggakan tentang perempuan di daerahnya.
Di bawah bayang-bayang budaya patriarki yang sering kali menempatkan perempuan di belakang layar, para perempuan NTT sebenarnya adalah pejuang garis depan yang memikul beban domestik dan lingkungan yang sangat berat.
Tantangan perubahan iklim dan pemanasan global di NTT terasa sangat nyata dengan cuaca ekstrem yang memicu dehidrasi dan kekeringan lahan. Yudit memaparkan betapa tangguhnya perempuan NTT yang harus berjalan kaki sejauh 2 hingga 3 kilometer hanya untuk mendapatkan air minum.

Tak jarang, demi kelangsungan hidup keluarga, mereka harus menempuh perjalanan berbahaya menyeberangi lautan antar pulau, seperti dari Adonara atau Rote menuju Kupang, hanya untuk membeli kebutuhan pokok seperti sayur, beras, dan pakaian.
“Di NTT, secara budaya kami perempuan sering kali berada di belakang layar karena sistem patriarki yang kuat. Namun kenyataannya, beban perempuan sangat berat; kami harus memikul air dari jarak yang jauh. Istilahnya, ‘air sudah dekat’, padahal perjuangannya sangat besar,” terang Yudit.
Yudit menemukan kemiripan yang luar biasa antara karakter fisik mangrove dengan karakter mental perempuan di NTT. Mangrove memiliki sistem perakaran yang sangat kuat, tumbuh secara perlahan namun pasti, menyebar secara luas, dan memiliki daya tahan tinggi terhadap abrasi serta hantaman gelombang laut.
Karakteristik inilah yang menurutnya menjadi representasi paling akurat bagi wanita NTT saat ini. Tetap kokoh berdiri dan terus memberi kehidupan meskipun dihantam oleh berbagai badai kehidupan dan tantangan alam yang semakin berat.
“Perempuan kami sangat tangguh. Di tengah cuaca ekstrem dan pemanasan global, mereka berjalan 2 hingga 3 kilometer demi air minum, atau menyeberangi lautan antar pulau hanya untuk membeli kebutuhan pokok keluarga. Karakter mangrove yang mengakar kuat, tahan abrasi, dan kokoh menghadapi gelombang adalah cerminan sejati dari wanita NTT hari ini,” pungkasnya.
Pelestarian mangrove tidak bisa dilepaskan dari penguatan kapasitas perempuan. Ketika perempuan berdaya, ekosistem mangrove akan terjaga. Sebaliknya, ketika ekosistem mangrove lestari, maka akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi dan perlindungan tempat tinggal akan terjamin.