Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, Desa Wayabula di Morotai Selatan Barat muncul sebagai contoh nyata ketangguhan masyarakat pesisir. Melalui kepemimpinan Ibu Putri Lolaro Nurmala, Ketua Kelompok Perempuan Nelayan Desa Wayabula berhasil mengubah ancaman kerugian pasca-panen menjadi peluang ekonomi kreatif yang menghidupi keluarga nelayan.
Dalam sharing session yang dilaksanakan oleh Jaring Nusa pada Kamis (23/04/2026) turut membahas mengenai praktik baik pengelolaan pesisir, Ibu Nurmala memaparkan bagaimana peran perempuan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan ekonomi desa saat ekosistem laut dan akses energi sedang tidak menentu.
Ia mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, nelayan di wilayahnya menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat kenaikan biaya operasional dan penurunan hasil tangkapan.
“Lebih banyak pengeluaran dari pendapatannya di dalam 2 tahun ini,” jelasnya, menyoroti ketimpangan antara modal melaut dengan hasil yang didapat.
Namun, di tengah situasi tersebut, kelompok perempuan mengambil peran strategis untuk memastikan tidak ada sumber daya laut yang terbuang sia-sia.
Krisis BBM dan Tantangan Ekologis di Perairan Morotai
Kondisi nelayan di Desa Wayabula sangat bergantung pada ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan stabilitas ekosistem pesisir. Ibu Nurmala melaporkan bahwa saat ini nelayan harus melaut lebih jauh karena wilayah tangkap di sekitar desa sudah mulai berkurang produktivitasnya.
“Nelayan itu sudah agak jauh untuk melaut dari dari desa kami,” ungkapnya.
Ketergantungan pada BBM menjadi beban utama, terutama ketika hasil laut sedang menurun. Ketidakpastian pasokan energi ini seringkali melumpuhkan aktivitas nelayan, sehingga berdampak langsung pada dapur rumah tangga di pesisir. Fenomena ini menunjukkan perlunya perhatian lebih pada upaya konservasi wilayah pesisir agar stok ikan dapat kembali mendekat ke pemukiman nelayan dan menekan biaya bahan bakar.

Mengolah Kelimpahan Menjadi Keuntungan
Masalah unik yang dihadapi Desa Wayabula adalah adanya surplus hasil tangkapan yang justru seringkali merugikan nelayan karena keterbatasan teknologi penyimpanan. Ibu Nurmala menceritakan bahwa dalam satu hari, puluhan armada nelayan bisa mendaratkan berton-ton ikan, namun kapasitas es dan pendingin tidak mencukupi.
“Kadang satu hari itu nelayan bisa mendapatkan 2 sampai 3 ton ikan. Jadi kalau tidak bisa menampung ikan itu maka tidak bisa terselamatkan,” paparnya.
Di sinilah kelompok perempuan nelayan berperan penting. Untuk mencegah ikan-ikan tersebut membusuk dan harganya anjlok, mereka mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Kami dari ibu-ibu ini punya ide membuat ikan abon, membuat ikan sambal roa,” kata Ibu Nurmala.
Produk-produk ini bahkan telah berhasil menembus pasar di luar Morotai.
“Kita bisa ekspor (kirim) ke Ternate begitu,” tambahnya, menunjukkan potensi pasar yang luas bagi produk olahan mereka.
Kehadiran kelompok perempuan nelayan memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan harian rumah tangga. Dengan mengolah ikan yang tidak terjual atau ikan dengan harga rendah, para ibu di desa ini mampu menggandakan penghasilan mereka.
“Kalau yang tadinya pendapatan misalnya 1 hari cuman Rp. 50.000, maka penghasilannya bertambah dan dapat mencapai Rp. 100.000 dalam satu hari,” jelas Ibu Nurmala.
Inisiatif ini tidak hanya membantu stabilitas ekonomi saat musim ikan melimpah, tetapi juga menjadi jaring pengaman saat cuaca buruk atau ketika hasil tangkapan segar sulit dijual. Dengan adanya kegiatan pengolahan, para ibu dapat membantu suami mereka yang bekerja sebagai nelayan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menutupi biaya operasional melaut yang mahal.

Ancaman Infrastruktur dan Perubahan Iklim
Keberlanjutan ekonomi di Desa Wayabula kini dihantui oleh kerusakan infrastruktur akibat cuaca ekstrem dan gelombang besar yang melanda wilayah pesisir. Ibu Nurmala melaporkan kerusakan serius pada jembatan dan dinding penahan pantai yang mengganggu akses distribusi hasil laut.
“Ada gelombang kemarin yang begitu dahsyat. Banyak masyarakat sudah tidak bisa lagi membangun rumah,” ceritanya dengan nada prihatin.
Kerusakan jembatan berakibat fatal bagi distribusi ekonomi karena kapal-kapal besar pengangkut ikan tidak dapat bersandar.
Kondisi ini menyebabkan ikan menumpuk di desa tanpa bisa dikirim ke pasar kota, sehingga menekan harga di tingkat nelayan lokal. Menghadapi berbagai kendala tersebut, Ibu Nurmala selaku ketua kelompok terus menyuarakan aspirasi masyarakatnya kepada pemerintah daerah.
Ia menekankan bahwa kemandirian kelompok perempuan nelayan membutuhkan dukungan modal dan peralatan yang lebih memadai untuk berkembang.
“Kalau mau bikin sambal roa, mau bikin ikan abon itu kita kan butuh butuh anggaran juga,” ungkapnya.
Ibu Nurmala berharap pemerintah dapat memberikan bantuan yang lebih terarah agar kelompok-kelompok usaha di kampungnya dapat berjalan lebih profesional dan berkelanjutan.
“Saya meminta kepada pemerintah setempat kalau bisa ibu-ibu yang ada di kampung ini bisa diberikan bantuan yang lebih bagus lagi agar ke depan kelompok-kelompok yang ada bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Baginya, perhatian pemerintah terhadap infrastruktur fisik dan penguatan modal usaha adalah kunci agar masyarakat Wayabula tetap bisa menggantungkan hidup pada kekayaan laut mereka.