Search
Close this search box.
Search

Agara’ dari Punaga: Kisah Warga Pesisir Merajut Harapan lewat Rumput Laut

Agara’ dari Punaga: Kisah Warga Pesisir Merajut Harapan lewat Rumput Laut

Bagi masyarakat Kabupaten Takalar, rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan yang dibudidayakan di hampir sepanjang pesisir Takalar. Komoditas ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga nelayan, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah.

Data BPS menunjukkan bahwa produksi rumput laut Kabupaten Takalar merupakan yang terbesar di Sulawesi Selatan pada tahun 2022 sebesar 528.504 ton dengan nilai produksinya mencapai Rp 3.309.535.000. Produksi rumput laut meningkat dari tahun 2021 sebanyak 527.624 ton dengan nilai produksi Rp 2.869.085.956.

Salah satu wilayah penghasil rumput laut yang cukup menonjol di Kabupaten Takalar adalah Kecamatan Mangarabombang. Luas wilayah Kecamatan Mangarabombang tercatat 100,14 Km2 yang terdiri dari 11 desa dan 1 kelurahan. Berdasarkan dara BPS tahun 2023 menunjukkan jumlah penduduknya mencapai 44.904 jiwa.

Desa Punaga, Kecamatan Laikang (sebelum pemekaran merupakan bagian dari Kecamatan Mangarabombang) menjadikan rumput laut sebagai salah satu komoditas yang dibudidayakan hampir di sepanjang pesisir desa. Adapun warga banyak membudidayakan jenis Eucheuma Cottonii atau biasa disebut dengan agara. Budidaya ini telah menjadi tumpuan ekonomi bagi banyak warga.

Salah satu pembudidaya rumput laut di Desa Punaga sedang menjemur rumput lautnya yang baru dipanen.

Kasim, satu dari sekian banyak warga di Desa Punaga yang membudidayakan rumput laut. Ia menjelaskan jika budidaya rumput laut menjadi mata pencaharian karena mudah untuk dibudidayakan.

“Rumput laut memang menjadi mata pencaharian yang banyak dilakukan oleh warga karena cukup mudah untuk dilakukan dan bibitnya juga tidak sulit didapatkan,” ujar Kasim sambil mengamati rumput laut yang tengah dijemur di bawah terik matahari.

Budidaya rumput laut di Desa Punaga. (Foto: Jaring Nusa)

Ia membudidayakan jenis Eucheuma Cottonii berwarna hijau. Walaupun harganya fluktuatif tergantung permintaan pasar, ia mengaku tetap menjadikan rumput laut sebagai mata pencaharian.

“Untuk per kilo, rumput laut dijual dengan harga sekitar Rp 13.000 sampai Rp 15.000,” terangnya.

Salah satu penelitian dari Saputra, dkk (2022) menyebut jika pendapatan budidaya rumput laut di Desa Punaga menjadi 500 ton per tahunnya. Jumlah warga di Desa Punaga sendiri sebanyak 2.680 jiwa pada tahun 2023.

Tingginya produksi rumput laut ini mencerminkan potensi dan keberlanjutan sektor budidaya rumput laut di Kabupaten Takalar, khususnya di Desa Punaga. Selain didukung oleh kondisi geografis yang strategis dan perairan yang relatif tenang sehingga budidaya rumput laut banyak dilakukan oleh warga.

Pengembangan industri pengolahan rumput laut dan penguatan rantai pasok diharapkan semakin meningkat yang juga berdampak terhadap nilai tambah. Membuka lapangan kerja dan tentu meningkatkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

“Harapan kami semoga harga rumput laut tidak turun bahkan naik. Juga pemerintah memudahkan akses bibit dan penjualan agar kami bisa terus membudidayakan agara,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *