Search
Close this search box.
Search

Dipelukan Kassi Bumbung: Kisah Perempuan yang Melahirkan Ayam Jantan Dari Timur

Dipelukan Kassi Bumbung: Kisah Perempuan yang Melahirkan Ayam Jantan Dari Timur

Matahari terik mengiringi perjalanan menuju Desa Punaga, Kecamatan Laikang. Berjarak 16 kilometer dari pusat Kota Takalar. Dapat ditempuh sekitar 35 menit menggunakan sepeda motor.

Di Desa Punaga, kami disambut dengan ramah oleh B. Tarru Maddolangan, seorang tokoh adat yang menjadi juru kunci Kompleks Makam I Sabbelo’mo Daeng Takontu, ibunda pahlawan nasional Sultan Hasanuddin atau yang dikenal dengan sebutan ayam jantan dari timur. Beliau mengenakan lipa’ sa’be (sarung khas Makassar) dan songkok recca, sangat antusias menceritakan kisah I Sabbelo’mo Daeng Takontu. Didampingi oleh istrinya, Daeng Janne dan Sakri Daeng Sibali.

Mengenal I Sabbelo’mo Daeng Takontu

I Sabbelo’mo Daeng Takontu lahir dan tumbuh di Kassi Bumbung, sebuah dusun di Desa Punaga. Ia merupakan putri dari Raja ke Empat Punaga, I Bobang Daeng Limpo. Ketika masih gadis, ia bernama I Sabbe Layana. Namanya kemudian berubah menjadi I Sabbelo’mo Daeng Takontu setelah menikah dengan Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Tambahan kata Lo’mo pada namanya, menjadi tanda bahwa derajatnya semakin meningkat.

Pertemuan antara Sultan Malikussaid dengan I Sabbelo’mo Daeng Takontu sangat menarik. Sebagaimana yang disampaikan oleh B. Tarru Maddolangan, bahwa sebenarnya Raja Gowa pada masa itu, meminta ata (hamba/budak) kepada Raja Punaga untuk menumbuk pude’ (biji pohon punaga yang telah dikeringkan) di kerajaan Gowa. Pude’ biasanya digunakan untuk acara-acara penting seperti pernikahan. Alih-alih mengirim ata, Raja Punaga justru mengutus putrinya untuk berangkat ke Gowa.

Setelah 40 hari berada di Kerajaan Gowa, I Sabbelo’mo Daeng Takontu seperti memiliki karomah. Setiap malam Jumat, timbul cahaya yang berasal dari kemaluannya. Hal yang tidak biasa tersebut, memancing rekan-rekannya yang lain untuk melapor ke Raja Gowa.

Mendapat laporan tersebut, Raja Gowa pun memerintahkan pasukan berkuda untuk memanggil Raja Punaga agar segera menghadap.

Setibanya di Kerajaan Gowa, I Bobang Daeng Limpo bertanya kepada Raja Gowa mengapa ia diminta untuk menghadap. Raja Gowa justru balik bertanya, siapa anak yang diutus ke Kerajaan Gowa untuk menumbuk (menghaluskan) pude’? Akhirnya Raja Punaga berterus terang, jika yang diutus adalah putrinya.

Bajikangngangi anakku akkusiang mange ri sombaya, daripada anakna taua,” kata B. Tarru Maddolangan.

Raja Gowa kembali bertanya, apakah putrinya ketika di Punaga, setiap malam jum’at juga menimbulkan cahaya dari kemaluannya? Raja Punaga menjawab tidak pernah!

Pada saat itulah, Raja Gowa menyampaikan jika ia memiliki putra bernama Malikussaid atau I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung. Mereka berdua pun akhirnya dinikahkan.

Tarru Maddolangan terlihat antusias saat menceritakan sejarah Kompleks Makam I Sabbelo’mo Daeng Takontu. (Foto: Jaring Nusa)

Sultan Hasanuddin Hampir Dimakamkan di Punaga

Ketika kerajaan Gowa sedang kacau, Sultan Malikussaid pindah ke Punaga. Di Punaga, terdapat Gua yang menjadi benteng pertahanan pada masa itu. Karena itu pula, di Punaga terdapat Balla Pangkaya. Di Balla Pangkaya, Sultan Hasanuddin menghembuskan nafas terakhirnya menurut penuturan B. Tarru Maddolangan. Tak jauh dari bekas bangunan Balla Pangkaya, terdapat sebuah sumur tua yang diyakini sebagai peninggalan I Sabbelo’mo Daeng Takontu.

Sebelum Sultan Hasanuddin wafat, beliau berpesan ketika ia meninggal disini (Punaga) maka hendaklah dikuburkan di samping makam ibunya. Makam sudah digali, namun pihak kerajaan datang meminta untuk disemayamkan di Gowa.

Na kana; nu sarea baji’ mami, tanu sarea kodi mami,” ujar B. Tarru Maddolangan yang menceritakan dengan penuh antusias..

Orang-orang bersepakat untuk mencari baiknya. Mayat Sultan Hasanuddin dibawa ke Gowa secara gotong royong karena pada saat itu belum ada kendaraan.

“Se’re-se’re pa’rasangang ngantara ki naung,” tambahnya.

Makam I Bobang Daeng Limpo, yang merupakan Kakek Sultan Hasanuddin & Raja ke 4 Punaga. (Foto: Jaring Nusa)

Cagar Budaya Makam I Sabbelo’mo Daeng Takontu

Makam tersebut telah dijaga dan dirawat secara turun-temurun oleh B. Tarru Maddolangan.  Bahkan, B. Tarru Maddolangan pun tak pernah tahu ia sudah keturunan keberapa.

Tahun 2005 yang lalu, kompleks makam tersebut sempat dipugar. Ia bercerita ketika awal kompleks makam tersebut dirintis, kepala pemeliharaan dinas kebudayaan meminta untuk mencari sanak keluarga atau keturunannya terlebih dahulu.

“Meskipun tidak digaji, saya tetap bersihkan karena nenek moyangku ini. Apalagi digaji,” tuturnya.

Dalam kompleks makam tersebut, terdapat 488 makam. Diantaranya adalah I Bobang Daeng Limpo (Kakek Sultan Hasanuddin & Raja ke 4 Punaga), Tete’ Daeng Taiji (Nenek Sultan Hasanuddin), I Sabbelo’mo daeng Takontu (Ibu Sultan Hasanuddin), I Pate Daeng Nisali (Istri Sultan Hasanuddin), Garese Daeng Menyambeang (Paman Sultan Hasanuddin) dan Yanisi Daeng Tarimang (Bibi Sultan Hasanuddin).

Makam yang terdapat dalam kompleks memiliki ketinggian yang berbeda. Hal tersebut menjadi simbol, semakin tinggi makamnya, maka semakin tinggi pula jabatan atau kasta orang tersebut.

Foto utama: Garis pantai yang semakin dekat dengan kompleks makam. (Foto: Jaring Nusa)

Liputan selengkapnya dapat dibaca disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *