Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia secara resmi meluncurkan beberapa buku yang memotret praktik baik konservasi dan profil perikanan di Kepulauan Spermonde, khususnya di Kota Makassar. Kegiatan ini dilangsungkan pada Sabtu (28/02/2026) dengan dihadiri berbagai unsur mulai dari pemerintah, NGO, akademisi, mahasiswa, industri hingga jurnalis.
Peluncuran ini menjadi langkah strategis dalam mendokumentasikan inisiatif program yang telah berjalan sejak tahun 2021 guna memperkuat kelembagaan dan memastikan keberlanjutan program di masa depan.
Nirwan Dessibali, Direktur YKL Indonesia, menjelaskan bahwa kehadiran buku ini berawal dari keinginan untuk mendokumentasikan program-program di Pulau Langkai, Lanjukang, dan Bonetambu secara lebih baik, tidak sekadar dalam bentuk laporan kegiatan atau foto.
Ia menekankan bahwa pendokumentasian ini penting agar praktik baik yang telah dijalankan bisa direplikasi di tempat lain. Selain itu, Nirwan menyoroti minimnya referensi terkait gurita, baik secara ilmiah maupun populer, saat mereka memulai program pada tahun 2021.
“Kami mencoba memproduksi lebih banyak kontribusi pengetahuan melalui buku ini, yang tidak hanya menyajikan profil biasa tetapi juga membawa cerita bagi khalayak untuk melihat kondisi nyata perikanan gurita,” ujarnya.

Miniatur Kepulauan Spermonde
Alief Fachrul Raazy, Program Manager YKL Indonesia, memberikan gambaran umum mengenai buku-buku yang dipublikasikan, yang berakar dari program Proteksi Gama (Penguatan Ekonomi dan Konservasi Gurita Berbasis Masyarakat).
Buku mengenai Keanekaragaman Hayati Laut Kita Makassar diposisikan sebagai miniatur Kepulauan Spermonde, mengingat tantangan kompleks yang dihadapi pulau-pulau kecil akibat aktivitas perkotaan.
Alief menjelaskan bahwa buku ini tidak hanya bicara angka atau jumlah spesies yang terancam punah, tetapi menangkap tata kelola perlindungan ekosistem melalui sistem “buka-tutup” yang melibatkan masyarakat.
“Di dalam buku ini, kami mempertemukan antara kepentingan konservasi dan ekonomi yang selama ini sering sulit berjalan bersama,” jelas Alief.
Sumber Rujukan yang Kaya
Dalam sesi tanggapan, para akademisi dan praktisi memberikan apresiasi mendalam terhadap karya ini. Imran Lapong, Akademisi ITBM Balik Diwa Makassar, menyatakan bahwa membaca buku ini sama dengan membaca laut.
Ia menilai buku ini sebagai referensi yang sangat menarik dan kompleks karena menyajikan data kuantitatif yang dijelaskan secara deskriptif.
“Referensi mengenai gurita di Indonesia, khususnya di Spermonde, sangat terbatas, dan kehadiran buku ini menjadi rujukan penting yang memotret sisi ekologi, sosial, hingga ekonomi secara mendalam,” terangnya.
Sementara itu Nasdwiana, Akademisi Politani Pangkep, menyoroti bagaimana buku ini berhasil menangkap praktik cerdas warga dalam melakukan konservasi berbasis masyarakat.

Ia menyebut interaksi sosial dan harapan di tengah tekanan ekosistem sebagai sesuatu yang luar biasa, di mana kegiatan ekonomi (perikanan gurita) justru menjadi pendorong utama masyarakat untuk melindungi laut.
“Selain fokus pada aksi warga, buku ini penting karena menyajikan landasan kebijakan dan hukum terkait sistem tata kelola laut, seperti praktik buka-tutup yang prosesnya sangat panjang di lapangan,” ujar Nasdwiana.
NGO sebagai Produksi Pengetahuan
Wahyu Chandra, Jurnalis Mongabay Indonesia memandang YKL Indonesia telah memposisikan diri sebagai produsen pengetahuan. Bagi Wahyu, buku ini adalah sebuah arsip gerakan yang mendokumentasikan apa yang telah dilakukan lembaga untuk masa depan.
“Kemampuan NGO dalam membukukan data primer dari lapangan dalam waktu singkat adalah pencapaian luar biasa yang memberikan sumbangsih nyata bagi ilmu pengetahuan,” jelas Wahyu, yang juga merupakan salah satu penulis buku yang diluncurkan.
Lebih jauh, karya ini meningkatkan legitimasi NGO, mengubah posisi mereka dari sekadar reaktif terhadap kasus menjadi lembaga yang berbasis data lapangan yang kuat dan dapat digunakan oleh mahasiswa hingga pemerintah dalam pengambilan kebijakan.
Melalui peluncuran buku ini, YKL Indonesia berharap data dan cerita dari Spermonde dapat menjadi referensi lintas generasi yang mampu mendorong kebijakan pengelolaan laut yang lebih berkelanjutan.