Desa Punaga memiliki daya tarik yang sangat besar baik dari segi potensi sumber daya alam serta potensi wisata sejarahnya. Kompleks Makam I Sabbelo’mo Daeng Takontu merupakan cagar budaya yang dilindungi oleh negara, menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban dan spiritualitas masyarakat Punaga.
Di tengah upaya dalam mempertahankan eksistensinya, krisis iklim menjadi ancaman nyata yang terus mengintai keberadaan kompleks makam tersebut. Kenaikan muka air laut, abrasi mulai menggerus garis pantai yang sangat dekat dari kompleks makam tersebut.
Tarru Maddolangan, tokoh masyarakat Desa Punaga menjelaskan jika abrasi yang terjadi sudah berlangsung sejak lama. Dulunya, garis pantai dari kompleks makam mencapai 30an meter. Namun kondisinya sekarang hanya berkisar 5-10 meter saja.
“Dulu itu jauh garis pantai dari (kompleks) makam, ada sekitar 30 meter, tapi sekarang semakin dekatmi air lautnya,” ujarnya.
Riset yang dilakukan oleh Dermawan, Malik dan Mannan (2024) menunjukkan jika terjadi perubahan garis pantai di Kabupaten Takalar. Penelitian yang menganalisis dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi (GIS) dalam kurun waktu 2014-2024 mengungkap sebanyak 416,75 hektar perubahan garis pantai diakibatkan oleh abrasi.

Kecamatan Mangarabombang – Laikang sendiri menjadi kecamatan dengan luasan abrasi tersebut yaitu sebanyak 319,85 hektar. Diikuti oleh oleh Kecamatan Galesong Selatan sebesar 51,16 hektar, Kecamatan Galesong 16,33 hektar, Kecamatan Sanrobone 13,12 hektar dan Kecamatan Mappakasunggu sebesar 12,83 hektar.
Upaya untuk mencegah dampak abrasi yang semakin parah dilakukan dengan membuat tanggul penahan ombak pada tahun 2023. Pembangunan tanggul tersebut dilakukan oleh Pemerintah Sulawesi Selatan.
Pembangunan tanggul pun hanya solusi sementara. Dari pantauan penulis terlihat kawat-kawat pagar dari kompleks makam terlihat berkarat akibat ombak yang mengenai kawat tersebut.
Daeng Janne, salah satu warga Desa Punaga yang juga merupakan keluarga penjaga kompleks makam berharap adanya upaya berkelanjutan dalam melindungi cagar budaya agar tetap eksis keberadaannya.
“Kalau kami berharap supaya selalu ada perbaikan bukan hanya dalam makam, tapi juga di sekitar makam, supaya tidak semakin dekatki itu air lautnya,” harapnya.

Sementara Wahyu, salah satu pemuda Desa Punaga menjelaskan jika krisis iklim yang melanda desanya sangat terasa dampaknya.
“Krisis iklim telah menjadi kenyataan yang semakin nyata di Desa Punaga. Dampaknya tidak hanya terlihat pada perubahan cuaca yang ekstrem, tetapi juga pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Desa Punaga secara langsung,” ujarnya.
Ia menceritakan jika abrasi di pesisir Desa Punaga berlangsung dengan sangat masif. Bukan hanya kompleks makam yang terancam melainkan seluruh wilayah yang ada di pesisir Desa Punaga ikut terancam.
“Kenaikan permukaan air laut telah menyebabkan abrasi dan tenggelamnya desa-desa pesisir. Di Desa Punaga setiap tahun hampir 10 meter hilang akibat abrasi, mengancam keberlangsungan hidup masyarakat setempat,” tambah Wahyu.
Krisis iklim ini merupakan tantangan nyata yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi. Ia mendorong berbagai stakeholder memperkuat ketahanan desa untuk mengatasi dampak abrasi yang semakin parah.
Menurutnya, dengan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi yang tepat, desa-desa di Indonesia terkhusus di Desa Punaga dapat menghadapi dan mengurangi dampak krisis iklim secara efektif.
“Pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan perlu bekerja sama dalam memperkuat ketahanan desa melalui edukasi, inovasi teknologi, dan pelestarian lingkungan,” pungkasnya.
Foto utama: Garis pantai yang semakin dekat dengan kompleks makam. (Foto: Jaring Nusa)