Search
Close this search box.
Search

Membaca Praktik Sasi sebagai Sistem Konservasi Tradisional

Membaca Praktik Sasi sebagai Sistem Konservasi Tradisional

Beberapa tahun terakhir, hilirisasi, krisis iklim dan berbagai bencana ekologis menjadi sebuah berita hangat dan terus menjadi perbincangan panjang sampai detik ini. Perampasan ruang hidup, kriminalisasi, intimidasi antara pihak perusahaan terhadap masyarakat adat masih massif terjadi, lebih dari itu, konflik horizontal antara sesama masyarakat sebagai buah dari perbedaan padangan atas arah pembangunan industri menjadi pemandangan yang mencerminkan situasi Indonesia saat ini.

Tentu saja, eksistensi permasalahan yang terjadi mendatangkan pertanyaan besar terkait dengan bagaimana seharusnya hubungan yang terjalin antara alam dan manusia itu sendiri. Hadirnya industri menjadi ancaman tersendiri bagi eksistensi masyarakat adat serta menjadi penyebab dan penyumbang utama kerusakan dan bencana ekologis yang terjadi selama ini.

Maka dari itu, pekerjaan terbesar dalam era perkembangan industri yang memiliki beragam wajah ini dibalik narasi ekonomi ini adalah bagaimana dalam merawat dan menjaga eksistensi alam dan masyarakat adat untuk bisa terus hidup berdampingan.

Kegiatan-kegiatan restorasi, reboisasi, konservasi akhirnya menjadi sebuah agenda inti dalam aksi-aksi penyelamatan lingkungan hidup. Berbagai lembaga, komunitas, aksi kolektif, kemudian menempuh upaya konservasi dalam mengimbangi kerusakan-kerusakan yang dihasilkan oleh para pelaku industri.

Aksi ini mengingatkan kembali para komunitas masyarakat adat di berbagai tempat yang sudah berhasil melakukan praktik penting dalam upaya menjaga ketahanan pangan, dan upaya pelestarian alam. Di Papua praktik ini dikenal dengan sebutan sasi, sasi merupakan tradisi leluhur yang mengajarkan tentang upaya pelestarian alam, baik di darat maupun di laut.

Egek adalah warisan kearifan lokal Suku Moi di Malaumkarta, Sorong, Papua Barat Daya—cara turun-temurun mereka mengelola laut dengan bijak. (Foto: Roberto Yekwam & Megan Alexis/Econusa)

Bagi warga Papua, khususnya di wilayah pesisir, sasi menjadi ritual adat rutin untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut dan menjaga ketahanan pangan. Sasi mengajarkan nilai-nilai kepada masyarakat untuk bisa melebur dengan alam, sekaligus membiarkan biota laut yang dilindungi dapat berkembang biak alami sebelum siap ditangkap.

Sasi menjadi contoh kearifan lokal yang terus lestari hingga kini, praktiknya terus berjalan baik selama berabad-abad yang membuktikan bahwa budaya dapat berjalan beriringan dengan perkembangan zaman di tengah arus perubahan. Oleh karenanya, sasi perlu dijaga sebagai penguat identitas dan landasan dalam upaya konservasi sumber daya alam.

Di berbagai tempat, sasi memiliki beragam nama yang berbeda, namun secara mendasar memiliki konsep yang sama. Suku Matbat menyebut sasi dengan sebutan samson, Warga distrik Karas Fakfak menyebut sasi dengan nama kera-kera, serta masyarakat sorong dan sekitarnya mengenal sasi dengan sebutan egek.

Semuanya memiliki fungsi dan konsep yang sama, sebagai upaya menjaga ketahanan pangan dan sekaligus juga menjadi contoh praktik terbaik pelestarian ekosistem. Sayangnya, lagi-lagi keberlanjutan sasi saat ini kian terancam oleh hadirnya pertambangan, sampah, kerusakan ekosistem mangrove, karang, abrasi pantai hingga hadirnya industri pariwisata.

Ekosistem adalah sistem ekologi yang terbentuk dari hubungan timbal balik tidak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya, dan dalam hal ini relasi antara alam dan masyarakat adat menjadi perwujudannya. Konsep sasi yang diimplementasikan oleh berbagai komunitas masyarakat adat di Papua menegaskan bahwa keberlangsungan lingkungan, bidoversitas, serta keanekaragaman hayati yang dimiliki bisa hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat adat.

Pembatasan jangka waktu yang diberikan oleh konsep sasi bukan tanpa alasan, tujuan utama dari perhitungan tersebut adalah memberikan waktu bagi biota laut untuk berkembang biak atau juga bagi tanaman untuk berbuah kembali. Selain itu hadirnya sasi juga menjadikan tameng tersediri bagi masyarakat adat untuk terhindar dari segala bentuk keserakahan, serta melindungi wilayah mereka dari segala bentuk ancaman kerusakan.

Masyarakat di kampung Kampung Folley, Distrik Misool Timur, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat menerapkan sasi sebagai bagian dari upaya konservasi. (Foto: Wahyu Candra/Mongabay)

Kehadiran sasi menjadi perwujudan konservasi berbasis budaya, sasi di Papua menjadi tradisi yang harus dilestarikan, hadirnya sasi bisa menjadi contoh bagi pemerintah dalam memberikan kebijakan berbasis konservasi, atau bagi komunitas masyarakat adat lainnya dalam melakukan upaya yang sama untuk menjaga keberlangsungan ekosistem.

Alam berserta keanekaragaman hayatinya tidak bisa dilepaskan dari kehadiran masyarakat adat, merekalah yang mempunyai peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, diakui secara global, bahkan oleh The Washington Post, sebagai penjaga hutan tropis terbaik dunia, inilah bukti dari pentingnya menjaga keutuhan dan eksistensi masyarakat adat.

Sasi bukan konsep yang hadir begitu saja tanpa alasan, tanpa manfaat dan tanpa dampak bagi kehidupan. Sasi merupakan bentuk penghormatan manusia kepada alam yang menghidupinya, dipisahkannya masyarakat adat dari alam yang menghidupinya adalah jalan tercepat menuju bencana.

Pengakuan atas wilayah adat menjadi instrumen penting dalam narasi keberlanjutan, mereka tidak bisa dipindahkan, atau dijanjikan kekayaan, alam adalah kekayaan mereka, tidak ada alasan apapun untuk bisa memisahkan keduanya, baik itu alasan sosial, politik, ataupun industri lewat izin negara.

Foto utama: Hasil laut yang didapatkan oleh nelayan saay pembukaan Egek yang dilakukan oleh masyarakat Suku Moi di Malaumkarta, Sorong, Papua Barat Daya tahun 2025. (Foto: Roberto Yekwam & Megan Alexis/Econusa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *