Di ruang rapat-rapat besar dunia, peta masa depan iklim kerap digambar dengan model global. Ada grafik, ada proyeksi suhu, ada angka-angka kenaikan muka laut. Semua terlihat rapi, logis, dan meyakinkan. Namun, apakah angka-angka itu bisa langsung dipakai untuk menentukan nasib petani di Cirebon, nelayan di Maluku, atau warga pesisir Makassar?
Sebuah kajian yang terbit di jurnal Climatic Change tahun 2025 mencoba menjawab. Penelitian yang dipimpin oleh S. Pedde bersama rekan-rekannya menelaah puluhan studi dan menemukan kenyataan sederhana: skenario global sering kali tidak cocok dipakai di tingkat regional.
“Skenario global hanyalah titik awal. Tanpa penyesuaian regional, kita bisa salah langkah dalam merancang kebijakan,” tulis tim peneliti.
Temuan ini seperti mengetuk pintu logika. Bayangkan, jika sebuah skenario global memprediksi kenaikan suhu rata-rata 2°C, dampaknya di Eropa mungkin berbeda jauh dengan dampak di Asia Tenggara.
Di Indonesia, kenaikan sekecil itu bisa berarti musim tanam bergeser, panen gagal, bahkan lebih banyak hari panas ekstrem yang membahayakan kesehatan.
Kajian ini menekankan bahwa adaptasi iklim harus mempertimbangkan konteks lokal. Di Afrika misalnya, ketahanan pangan sangat terkait dengan curah hujan musiman.
Sementara di Asia Selatan, ancaman utama adalah gelombang panas yang menindas. Indonesia punya cerita sendiri: abrasi pesisir, banjir rob, dan intrusi air laut ke lahan pertanian. Semua itu tidak bisa dibaca hanya dengan angka global.

Lebih jauh, peneliti mengingatkan bahwa skenario global yang terlalu kaku justru bisa berbahaya. Pemerintah bisa terjebak membuat kebijakan umum yang tidak menyentuh kebutuhan nyata warga.
“Penyesuaian regional bukan hanya soal detail teknis, tetapi tentang keadilan iklim,” ungkap laporan tersebut.
Keadilan iklim berarti memastikan kebijakan benar-benar membantu masyarakat paling rentan. Misalnya, nelayan kecil yang kehilangan daerah tangkapan karena laut makin panas, atau masyarakat adat yang wilayah hutannya tergerus karena pola hujan berubah.
Kajian ini sekaligus mengkritik cara dunia melihat perubahan iklim. Kita terlalu sering memandang masalah ini sebagai “angka global”, padahal iklim selalu dialami secara lokal. Suhu yang naik satu derajat terasa berbeda bagi petani jagung di Jawa dan bagi peternak sapi di Kanada.
Lalu apa solusinya? Peneliti menyarankan agar skenario global tetap dipakai, tetapi wajib dilengkapi dengan penyesuaian regional. Artinya, pemerintah, ilmuwan lokal, dan masyarakat harus duduk bersama menyusun gambaran masa depan yang sesuai kondisi mereka.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah kita masih ingin percaya sepenuhnya pada angka global, atau mulai berani menafsirkan ulang sesuai kenyataan di tanah kita?
Karena jika tidak, ancaman perubahan iklim bisa terasa asing di atas kertas, tetapi amat nyata di sawah, di laut, dan di rumah-rumah kita.