Search
Close this search box.
Search

Pembukaan Perdana Buka Tutup, Nelayan Bonetambu Memulai Babak Baru Konservasi Lokal

Pembukaan Perdana Buka Tutup, Nelayan Bonetambu Memulai Babak Baru Konservasi Lokal

Hujan mengiringi nelayan di Pulau Bonetambu saat secara resmi membuka area buka tutup gurita yang telah ditutup selama 3 bulan. Sekalipun hujan melanda, tidak menyurutkan kurang lebih 40 nelayan untuk menangkap gurita pada Jumat (5/12/2025).

Kegiatan ini merupakan hal yang pertama kali diterapkan oleh nelayan di Pulau Bonetambu. Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia yang mendampingi nelayan untuk menerapkan buka tutup penangkapan gurita.

Berbagai pertemuan peningkatan kapasitas yang telah dilakukan sebelumnya, membentuk pengetahuan dan kesadaran masyarakat Pulau Bonetambu tentang pentingnya pengelolaan perikanan berkelanjutan. Masyarakat telah menyusun kesepakatan bersama mengenai sistem buka-tutup atau mekanisme pengelolaan area penangkapan ikan skala kecil.

Kesepakatan ini melibatkan serta mendapat dukungan dari pihak-pihak terkait, seperti pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya yang dianggap penting. 

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat demokratisasi hak kelola lokal sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Sebagai tindak lanjut, masyarakat akan melakukan pembukaan wilayah buka tutup area penangkapan ikan skala kecil.

Melindungi Wilayah Tangkap

Muhammad Fauzi Rafiq, Koordinator Pemberdayaan dan Advokasi YKL Indonesia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya nelayan untuk mempertahankan wilayah tangkapnya dengan menerapkan buka tutup penangkapan gurita. 

“Buka tutup area penangkapan gurita di Pulau Bonetambu merupakan tahap pertama, dimana mereka melakukan hal tersebut bukan hadir secara langsung tetapi lahir dari pembelajaran bersama dari mempelajari pentingnya berkelompok,” terangnya.

YKL Indonesia memberikan pengarahan kepada nelayan sebelum membuka area buka tutup yang diterapkan untuk pertama kali. (Foto: Riszky/Jaring Nusa)

Selain itu nelayan juga melihat siklus hidup gurita, hasil tangkapan, musim gurita, kondisi terumbu karang hingga belajar langsung ke Pulau Langkai dan Lanjukang yang telah menerapkan sistem buka-tutup terlebih dulu,” tambah Oci, sapaan akrabnya.

Untuk tahap pertama, area yang ditutup seluas 71,44 hektar dengan waktu 3 bulan area penangkapan gurita dibuka secara bersama-sama. Bukan hanya habitat terumbu karang yang akan pulih tetapi juga biota yang bernilai ekonomi semakin berlimpah hingga mempengaruhi kondisi perekonomian nelayan Pulau Bonetambu.

“Cuaca yang kurang bersahabat membatasi nelayan untuk mengeksplor seluruh wilayah yang telah dibuka, sehingga hasil tangkapan kurang maksimal,” ujarnya.

Namun beberapa nelayan bahagia dengan durasi sekitar setengah jam bisa mendapat tangkapan gurita dengan berat 3,36 kg yang selama ini jarang didapatkan di sekitar Pulau Bonetambu. 

“Total hasil tangkapan gurita nelayan mencapai 16,94 kilogram. Selain gurita beberapa nelayan juga mendapatkan lobster serta sotong. Dengan adanya hasil ini kita berharap cuaca kembali membaik sehingga tangkapan bisa lebih maksimal,” tutup Oci.

Sementara itu Daeng Gassing, tokoh masyarakat Pulau Bonetambu, menegaskan kembali komitmen para nelayan dalam menjaga wilayah perairan dari praktek penangkapan ikan ilegal, khususnya pengeboman ikan dan penyalahgunaan oleh pihak luar.

Langkah-langkah pengawasan ketat, termasuk sistem buka-tutup area, telah diterapkan untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem terumbu karang.

“Pengawasan dilakukan tiap malam untuk memastikan tidak ada yang masuk dalam area buka tutup,” ungkapnya.

Daeng Gassing menekankan larangan keras terhadap pengeboman karena dampaknya yang merusak. Dampak dari praktik destruktif sangat fatal bagi lingkungan.

“Karena itu (pengebom) dilarang betul kalau di pulau. Pertama merusak terumbu karang, kedua ikan mati dan ketiga rumah-rumah warga rusak akibat getaran,” terangnya.

Di tengah cuaca yang kurang baik, tidak menyurutkan antusias nelayan untuk mencari gurita di area yang dibuka. (Foto: Riszky/Jaring Nusa)

Perluasan Area Buka Tutup

Daeng Gassing juga memaparkan rencana perluasan zona tutup tangkap. Area yang ditutup saat ini baru mencapai barat daya. Rencana ke depan akan dilakukan secara bertahap.

“Kita  bersyukur karena upaya tersebut telah menghasilkan perkembangan, meskipun prosesnya mungkin baru berlangsung sekitar tiga bulan,” ujar Daeng Gassing.

Rencana perluasan area tutup akan dibagi dalam beberapa tahapan. Tahap pertama meliputi area barat daya (sudah berjalan). Tahap kedua meluas dari barat daya ke barat tapak. Tahap ketiga mencakup barat tapak hingga utara barat laut.

Upaya perlindungan ini juga telah mendapatkan dukungan kelembagaan. Daeng Gassing melaporkan bahwa ia telah berkomunikasi dan bertemu dengan pihak-pihak terkait, termasuk Kepala Dinas di tingkat provinsi, dan bersyukur upaya tersebut mulai menunjukkan hasil.

“Berkat penerapan buka tutup, kami membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk melindungi pulau dan melestarikan keanekaragaman di Bonetambu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *