Yayasan Tunas Bahari Maluku (YTBM) menggelar kegiatan Workshop Literasi Keuangan dan Program Simpan Pinjam untuk Keluarga Nelayan di Negeri Kilwaru, Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya YTBM dalam memperkuat pemahaman masyarakat pesisir terkait literasi keuangan melalui peningkatan pemahaman tentang dasar-dasar pengelolaan keuangan rumah tangga yang menjadi salah satu kegiatan dari program “Pengelolaan perikanan skala kecil berbasis masyarakat”.
Sebanyak 30 peserta terlibat dalam kegiatan ini, yang terdiri dari 11 orang perwakilan Dusun Kilwaru dan 19 orang dari Dusun Maar. Para peserta yang terlibat dalam kegiatan ini merupakan perwakilan rumah tangga nelayan di Negeri Kilwaru.
Sambutan Direktur Yayasan Tunas Bahari Maluku, Syarifudin Azhari Kilbaren, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pengelolaan keuangan, khususnya bagi keluarga nelayan di Negeri Kilwaru. Ia menjelaskan bahwa materi yang disampaikan berfokus pada literasi atau dasar-dasar pendidikan pengelolaan keuangan rumah tangga nelayan seperti cara mengatur pendapatan, mengelola pengeluaran, pentingnya menabung, serta memahami penggunaan pinjaman secara bijak.
Lebih lanjut, direktur YTBM menekankan bahwa diharapkan masyarakat dapat memahami cara sederhana dalam mengatur keuangan rumah tangga, sehingga mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, menghadapi masa-masa sulit, serta merencanakan masa depan dengan lebih baik.
Keterbatasan Data Perikanan
Penjabat Kepala Pemerintah Negeri Kilwaru, Bapak Ahmad Bugis, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif Yayasan Tunas Bahari Maluku yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga membantu pemerintah negeri dalam memperkuat basis data dan informasi masyarakat.
“Kami dari Pemerintah Negeri Kilwaru mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Tunas Bahari Maluku yang telah memilih negeri kami sebagai lokasi pendampingan. Program ini sangat penting, terutama dalam membantu kami menyediakan data dasar yang selama ini masih menjadi keterbatasan di tingkat negeri,” ujarnya.
Pejabat Negeri Kilwaru juga menyoroti bahwa keterbatasan data perikanan selama ini menjadi kendala dalam proses koordinasi dengan Dinas Perikanan, terutama terkait informasi jenis ikan dan hasil tangkapan nelayan. Oleh karena itu, kegiatan ini dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut secara bertahap.
Lebih lanjut, ia berharap masyarakat dapat terus terlibat aktif dalam setiap kegiatan yang difasilitasi oleh Yayasan Tunas Bahari Maluku sebagai bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pelaksanaan workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat nelayan terhadap pengelolaan keuangan yang efektif, khususnya dalam menghadapi pola pendapatan yang tidak menentu akibat ketergantungan pada musim tangkap. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam mendorong terbentuknya kelompok simpan pinjam berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif melalui penyampaian materi dan diskusi interaktif terkait literasi keuangan yang membahas pentingnya pemahaman terkait pendidikan dasar keuangan dengan mengajak peserta untuk mengikuti workshop, diskusi interaktif, serta praktik langsung pencatatan keuangan sederhana.
Peserta diajak untuk menyusun anggaran rumah tangga mulai dari pendapatan dan pengeluaran rumah tangga dengan menggunakan metode “Pohon Anggaran”, pencatatan harian rumah tangga, dan grafik pendapatan vs pengeluaran.
Pada sesi diskusi terkait grafik pendapatan vs pengeluaran didapatkan bahwa pendapatan tertinggi dari hasil melaut nelayan antara bulan Agustus–Desember, adapun korelasi menunjukkan pengeluaran keperluan rumah tangga nelayan rata-rata lebih tinggi dari hasil pendapatan yang berkisar antara Rp. 2.000.000 – Rp. 3.000.000 per bulan.
Pentingnya Literasi Keuangan
Peserta workshop juga diberikan pemahaman terkait pentingnya menabung serta mengelola pinjaman secara bijak. Dalam sesi ini, peserta juga diperkenalkan pada konsep Village Savings and Loans Association (VSLA) sebagai alternatif pinjaman keuangan berbasis komunitas yang inklusif.
Pendekatan VSLA menekankan nilai kebersamaan, transparansi, dan kemandirian dalam pengelolaan dana kelompok. Melalui metode ini, masyarakat diharapkan mampu membangun sistem keuangan lokal. Program VSLA ini merupakan salah satu program yang dapat memberikan fasilitas simpan-pinjam sederhana di masyarakat yang tidak memiliki akses ke layanan keuangan formal.
Adapun tujuan dari program ini yaitu masyarakat dapat memahami konsep kelompok simpan-pinjam desa, di mana program ini memiliki mekanisme pemberian pinjaman yang juga menjadi suatu bentuk asuransi kepada anggota. Dana sosial atau simpanan kelompok dapat diberikan kepada anggota ketika mereka mengalami kesulitan dan juga meningkatkan solidaritas sosial di tingkat dusun dan negeri.
Berdasarkan sesi penyampaian materi yang difasilitasi oleh YTBM terkait dasar-dasar keuangan dan program VSLA, salah satu peserta dari perwakilan Dusun Kilwaru, Bapak Daud Latuconsina menyampaikan kondisi perekonomian masyarakat.
“Sebagian besar masyarakat bergantung pada pendapatan dari hasil nelayan, hasil kebun (kopra), dan pekerjaan proyek,” ujarnya.
Pendapatan tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan perbaikan rumah, sementara sisanya disisihkan untuk tabungan.
Namun, pendapatan nelayan tidak menentu karena sangat bergantung pada cuaca. Saat cuaca baik, hasil tangkapan meningkat, sedangkan saat cuaca buruk nelayan tidak melaut dan tidak memperoleh penghasilan. Kondisi ini membuat masyarakat harus mengatur pengeluaran secara hati-hati.
Meskipun sudah berupaya menabung dengan cara menyimpan uang hasil tangkapan di dalam lemari, namun tabungan sering digunakan kembali ketika pendapatan menurun.
Melalui kegiatan ini, YTBM tidak hanya menghadirkan ruang belajar bersama, tetapi juga membuka peluang terbentuknya sistem pengelolaan keuangan berbasis komunitas yang inklusif dan berkelanjutan. Ke depan, inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan melalui pembentukan kelompok simpan pinjam oleh rumah tangga nelayan sebagai salah satu upaya untuk memberikan akses layanan keuangan kepada masyarakat di Negeri Kilwaru Melalui program VSLA/Kelompok Simpan Pinjam.