Saat ini dunia diperhadapkan situasi yang kian parah dampak krisis iklim. Akumulasi dari berbagai faktor penyebab telah mempengaruhi setiap lini kehidupan. Perjanjian Paris yang menjadi pedoman bagi 196 negara untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat celcius pada tahun 2030 seakan jauh api dari panggang.
Meningkatnya suhu global, naiknya permukaan air laut hingga bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi. Copernicus Climate Change Service (C3S), suatu lembaga riset Uni Eropa dalam laporan terbaru menyebut, tahun 2023 kenaikan suhu harian mencapai lebih dari 1,5 derajat celcius yang pada tahun 2024 naik 1,62 derajat celcius di atas suhu rata-rata pra industri.
Indonesia juga tidak terlepas dari dampak krisis iklim itu sendiri. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam publikasinya tahun 2016 menunjukkan dampak krisis iklim akan menyebabkan kenaikan suhu berkisar 0,5 hingga 3,92 derajat Celcius pada tahun 2100. Kemudian terjadi kenaikan muka air laut yang mencapai 175 cm tahun 2100. Sementara itu naiknya permukaan air laut sebagai salah satu dampak krisis iklim telah menyebabkan kerentanan bagi Indonesia.
Jaring Nusa, koalisi yang fokus pada isu pesisir, laut, pulau-pulau kecil menyebut lebih dari 12.000 desa pesisir terdampak langsung perubahan iklim dan ratusan pulau kecil terancam tenggelam. Analisis WALHI melihat dampak permukaan air laut terhadap wilayah di Kawasan Timur Indonesia.
Dampak nyata dari abrasi yang terjadi pada makan keluarga Sultan Hasanuddin, Pahlawan Nasional Raja Gowa ke-16 di di kompleks Makam Kassibumbung, di Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang.
Pada tahun 2022, lokasi kompleks makam keluarga Sultan Hasanuddin hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir Pantai. Hal tersebut diprediksi akan hilang seiring berjalannya waktu. Kehilangan salah satu area sejarah tersebut akan menghilangkan juga identitas dan menjadi bukti bahwa dampak krisis iklim telah menyebabkan abrasi yang parah di wilayah pesisir.
Berangkat dari itu, Jaring Nusa berinisiatif untuk membuat liputan khusus mengenai dampak krisis iklim yang akan menggerus kompleks makan keluarga Sultan Hasanuddin. Mengetahui lebih dalam penyebab yang semakin memperparah abrasi dan bagaimana upaya yang dilakukan untuk mencegah hal tersebut semakin parah.
Liputan ini merupakan hasil dari pengamatan langsung dan perbincangan mendalam bersama para narasumber mulai tokoh adat, warga pesisir, dan pemuda lokal yang membuka kisah tentang ketahanan, kearifan, dan kecemasan mereka terhadap ancaman krisis iklim.
Kami membagi tulisan menjadi empat bagian pertama sejarah Kompleks Makam I Sabbelo’mo Daeng Takontu, kedua abrasi yang perlahan menenggelamkan Desa Punaga, ketiga yaitu merajut harapan melalui budidaya rumput laut.
Pada bagian keempat kami menampilkan beberapa foto esai untuk menggambarkan ketiga tulisan yang dibuat. Dalam narasi-narasi yang kami rangkum, terlihat jelas bahwa Desa Punaga tidak hanya menyimpan warisan yang mulai tenggelam, tetapi juga harapan yang terus tumbuh di tangan generasi yang tak mau menyerah pada keadaan.
Dipelukan Kassi Bumbung: Kisah Perempuan yang Melahirkan Ayam Jantan Dari Timur
Krisis Iklim Perlahan Mengikis Pesisir Desa Punaga: Kisah Kompleks Makam Terancam Hilang
Agara’ dari Punaga: Kisah Warga Pesisir yang Merajut Harapan Melalui Rumput Laut
Liputan selengkapnya dapat dibaca disini.