Search
Close this search box.
Search

WALHI SULSEL Terbitkan Buletin Fakta Ekologi Maret 2026: Menguak Krisis Ekologi Dari Hulu Ke Hilir

WALHI SULSEL Terbitkan Buletin Fakta Ekologi Maret 2026: Menguak Krisis Ekologi Dari Hulu Ke Hilir

Departemen Riset dan Keterlibatan Publik WALHI Sulawesi Selatan resmi menerbitkan Buletin Fakta Ekologi Edisi Maret 2026 dengan tajuk utama “Krisis Yang Mengalir, Dari Hulu Yang Tercemar Hingga Pesisir Yang Terancam Ekstraksi”. Edisi kali ini memanfaatkan momentum Hari Air Sedunia untuk menyoroti berbagai ancaman nyata terhadap keberlanjutan sumber daya air dan lingkungan hidup di Sulawesi Selatan.

Tragedi Tumpahan Minyak PT Vale di Luwu Timur Laporan utama dalam buletin ini mengungkap dampak destruktif dari tumpahan minyak jenis Marine Fuel Oil (MFO) milik PT Vale Indonesia yang terjadi pada Oktober 2025 di Luwu Timur. Investigasi WALHI menemukan bahwa lebih dari 90.000 liter minyak mencemari aliran Sungai Koromusilu sepanjang 18,77 kilometer hingga bermuara di Danau Towuti.

Akibatnya, 82 hektare sawah rusak total, terjadi kematian fauna massal, dan warga terpapar limbah B3 tanpa perlengkapan keselamatan. Hingga awal 2026, proses ganti rugi masih tersendat dan pemulihan lingkungan dinilai belum tuntas meski ada klaim sepihak dari perusahaan.

Solidaritas Rakyat di Bonto Bahari dan Gerakan Bili-Bili Buletin ini juga memuat keberhasilan masyarakat Desa Lemo-lemo, Bulukumba, dalam menangguhkan proyek Industri Petrokimia yang mengancam kawasan konservasi Tahura. Penolakan keras warga didasarkan pada kekhawatiran pencemaran laut dan hilangnya ruang hidup lintas generasi.

Selain itu, terdapat kisah inspiratif dari Yayasan Pendidikan Lingkungan (YPL) yang konsisten melakukan advokasi dan aksi nyata untuk menyelamatkan DAS Jeneberang dan Waduk Bili-Bili melalui pemberdayaan masyarakat dan inovasi konservasi.

Sampul Fakta ekologi WALHI Sulsel.

Krisis Air di Untia dan Dampak Eksploitasi Industri Di pesisir Makassar, masyarakat Kampung Nelayan Untia terus berjuang melawan krisis air bersih yang memaksa mereka membeli air dengan harga mahal selama puluhan tahun. Situasi ini diperparah dengan bayang-bayang proyek reklamasi yang mengancam ekosistem mangrove dan mata pencaharian nelayan.

Secara sistemik, buletin ini menegaskan bahwa kelangkaan air saat ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan krisis yang diciptakan akibat masifnya konsumsi air oleh industri smelter dan privatisasi hak atas air yang mengabaikan kebutuhan domestik warga.

Buletin ini menjadi “alarm” atas pola kelalaian sistemik korporasi dan peran negara yang seringkali lebih berpihak pada industri daripada melindungi hak ekologis rakyat. WALHI Sulawesi Selatan mengajak seluruh pihak untuk memperkuat solidaritas ekologis demi keadilan lingkungan di masa depan.

Selengkapnya dapat dibaca disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *