Search
Close this search box.
Search

Gerakan Anak Muda Melindungi Pesisir, Laut dan Pulau Kecil di Indonesia Bukan Sekadar Peduli, Melainkan Bentuk Perlawanan

Gerakan Anak Muda Melindungi Pesisir, Laut dan Pulau Kecil di Indonesia Bukan Sekadar Peduli, Melainkan Bentuk Perlawanan

Pada bulan Desember 2000, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 22 Mei sebagai International Day for Biological Diversity (IDB). Kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai hari keanekaragaman hayati internasional. 

Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran serta menumbuhkan kecintaan terhadap kelestarian keanekaragaman hayati atau biodiversitas. 

Hari Keanekaragaman Hayati Internasional mengusung tema berbeda tiap tahunnya yang ditentukan oleh sekretariat PBB. Tahun ini, tema perigatan adalah “Harmony with nature and sustainable development”.

Pada momen hari keanekaragaman hayati internasional kali ini, Jaring Nusa menggelar sharing session dengan mengangkat topik diskusi yang fokus mengulas tentang peran anak muda sebagai agent of change penyelamatan lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (21/05/2025) yang berlangsung secara daring ini juga menegaskan posisi dan peran anak muda dalam memastikan perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya pada wilayah pesisir, laut dan pulau kecil. Ini akan menjadi topik yang sangat menarik diperbincangkan oleh kaum muda.

Upaya MCC Melindungi Pesisir

Moluccas Coastal Care atau lebih dikenal dengan MCC merupakan Organisasi Non Pemerintah yang bergerak di bidang perikanan dan lingkungan guna menyelamatkan ekosistem di wilayah pesisir dan pulau – pulau kecil.

“MCC sejak awal pembentukan di tahun 2017 punya mimpi untuk melindungi 3 ekosistem penting yakni mangrove, lamun dan terumbu karang bisa tetap berada pada pesisir jangan sampai hilang atau rusak,” terang Teria, Direktur MCC.

Sejauh ini, Moluccas Coastal Care mempunyai tiga program utama yakni mengedukasi anak – anak usia dini agar mereka mengenal Terumbu karang, Lamun dan Mangrove yang ada di wilayah pesisir, penyelamatan lingkungan dan pohon harapan.

“Sebelumnya kami telah mengunjungi beberapa daerah untuk melihat ekosistem pesisir dan pulau kecil. Langkah pertama kita menanam mangrove Ambon,” ujar Teria.

“Persoalan sampah menghalangi mangrove untuk tumbuh, sehingga kami bekerja sama dengan LIPI untuk mengatasi hal tersebut. Dari 2017 dan 2020 mangrovenya sudah tumbuh dengan baik,” tambahnya.

Aksi kampanye yang dilakukan oleh MCC bersama anak muda untuk menyuarakan pesan peduli lingkungan di Ambon. (Foto: MCC)

Selain aksi konservasi, MCC juga melakukan kegiatan edukasi untuk memberikan pengetahuan lingkungan terhadap masyarakat. Selain itu juga melakukan aksi-aksi kreatif untuk mengajak anak muda bertindak.

“Di Maluku kita dekat dengan ekosistem laut, sehingga kami memberikan edukasi juga kepada masyarakat untuk semakin menguatkan upaya masyarakat dalam menjaga lingkungannya,” jelasnya.

“Kami berupaya untuk terus mendorong anak muda terlibat aksi-aksi pelestarian untuk melanjutkan kerja-kerja yang telah kami lakukan,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan jika tantangan yang dihadapi oleh MCC sendiri terkait pelibatan mereka dalam perumusan kebijakan di tingkat daerah. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus bertindak.

“Tantangannya adalah kita tidak dilibatkan dalam perumusan kebijakan, sehingga kami berupaya terus bergerak secara langsung untuk mengatasi persoalan lingkungan yang ada,” kata Teria..

Kesempatan tersebut juga digunakan oleh Teria untuk memberikan semangat kepada anak muda dalam melestarikan lingkungan. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci untuk semakin melebarkan peluang kolaborasi dengan pihak lain.

“Kita bisa tetap maju dan berperan aktif. Supaya ketika kita konsisten menjalankan, kemungkinan peluang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak akan semakin besar,” pungkasnya.

Alarm Bahaya Terumbu Karang Negeri Liang

Direktur Eksekutif Jala Ina, M. Yusuf Sangadji turut berbagi pembelajaran tentang upaya yang telah dilakukan oleh Jala Ina dalam melestarikan lingkungan. Menurutnya, terumbu karang yang menjadi ekosistem esensial di Indonesia sungguh memprihatinkan keberlangsungannya.

Ia mengutip data dari LIPI pada tahun 2017 yang mengungkap luas terumbu karang mencapai 2,7 juta hektar. Sayangnya dari jumlah tersebut menunjukkan sebanyak 33% terumbu karang dalam kondisi buruk di tahun 2020.

“Ada beberapa faktor utama yang mengancam eksistensi terumbu karang yaitu penangkapan ikan secara destruktif, industri ekstraktif, krisis iklim, hingga kebijakan yang serampangan,” jelasnya.

Kondisi terumbu karang di Negeri Liang, Maluku Tengah. (Foto: Jala Ina)

Namun ia menyayangkan jika masyarakat lokal yang banyak disalahkan atas kerusakan ekosistem terumbu karang. Sedangkan yang banyak tidak dilihat adalah dampak industri skala besar yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang.

“Masyarakat lokal sering disalahkan, padahal perusak terbesar adalah korporasi dan kebijakan negara. Bahwa pemberi dampak terhadap terbesar ada di level elit, kebijakan negara yang serampangan,” ujar Noen, sapaan akrabnya.

Ia mencontohkan upaya yang dilakukan oleh Jala Ina untuk konservasi terumbu karang di Negeri Liang, Kabupaten Maluku Tengah yang kondisi terumbu karangnya memprihatinkan.

“Jala Ina telah melakukan riset tutupan karang di Negeri Liang, dibawah 5 persen. Keadaan ekosistem di pesisir dan pulau kecil tidak baik-baik saja,” jelasnya.

Upaya yang dilakukan oleh Jala Ina sendiri dengan melakukan pemulihan terumbu karang serta penelitian untuk mendapatkan data yang jelas serta penanganan yang tepat.

“Kami telah membuat 20 bank karang, dilanjutkan dengan riset tutupan karang sebagai basis ilmiah untuk melihat dan memetakan tindakan yang lebih adaptif,” terangnya.

Menurutnya masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki praktik pelestarian lingkungan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Tetapi akses masyarakat terhadap wilayah pesisir dan laut semakin kecil. Masyarakat pesisir bukan pemeran utama, tapi dianggap tidak punya kemampuan dan kompeten untuk menjaga laut. 

“Atas nama konservasi, atas nama pelestarian lingkungan, praktik-praktik baik yang dilakukan oleh masyarakat tidak menjadi pedoman utama dalam membuat kebijakan,” kata Noen.

“Terumbu karang bukan sekedar objek wisata, tetapi pondasi kehidupan masyarakat pesisir, laut dan pulau-pulau kecil,” pungkasnya.

Anak Muda Melindungi Teluk Palu

Cerita anak muda yang berupaya melestarikan pesisir datang dari Teluk Palu melalui komunitas Mangrove Ranger. Muhammad Najib, Sekretaris Mangrove Rangers menjelaskan jika komunitasnya merupakan gerakan kolektif untuk aksi konservasi mangrove.

“Kami bermula tahun 2018, termasuk masih sangat muda. Secara historis dulu kita punya mangrove tapi sekarang tidak ada (hanya sebagian kecil). Pada awalnya terdapat 30-40 komunitas yang kami undang untuk melakukan aksi penanaman mangrove,” terangnya.

Ekosistem mangrove di Teluk Palu merupakan ekosistem penting untuk melindungi pesisirnya. Sayangnya, luasan mangrove khususnya di Kota Palu dan Kabupaten Donggala sangat sedikit.

Berdasarkan data dari Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia mencatat luasan mangrove di Kota Palu dan Kabupaten Donggala masing-masing 0,9 hektar dan 58,21 hektar. 

Khusus di Kota Palu sendiri dalam rentang waktu 19 tahun luasan mangrovenya terus mengalami penurunan. Pada tahun 2001-2005 luasannya 2,9 hektar, lalu pada tahun 2013-2015 bertambah sebanyak 4,4 hektar namun selama rentang tahun 2018-2019 berkurang menjadi 0,9 hektar.

Kegiatan penanaman mangrove siswa SD Islam Cahaya Khalifah bersama Mangrove Rangers di Pantai Dupa, Palu pada Februari 2025. (Foto: Mangrove Rangers)

Ia juga menceritakan tantangan yang dihadapi dalam aksi konservasi mangrove. Pertama Teluk Palu menjadi lokasi sampah kiriman yang menyebabkan mangrove sulit tumbuh. Kedua adalah peristiwa tsunami yang menghantam sehingga mangrove yang telah ditanam seketika hilang.

“Penanaman mangrove tertutup oleh sampah dan tiap hari kita juga kumpul sampahnya. Selain itu terjadi peristiwa tsunami, menghantam 3000 lebih mangrove yang kita tanam,” jelas Najib.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat komunitas Mangrove Rangers untuk konsisten melakukan aksi konservasi mangrove. 

“Sejak 2019 kita sudah berhasil merestorasi sekitar 5 hektar, dengan jumlah mangrove sebanyak 70 ribu,” tambahnya.

Selain melakukan aksi konservasi, pemberian edukasi juga dilakukan untuk memberikan pengetahuan untuk menjaga mangrove, khususnya pada anak muda.

“Selain kami rajin menanam yang biasanya 2-3 dalam sebulan, kita juga aktif dalam proses edukasi khususnya pada anak-anak muda. Kita sadar bahwa kita tidak selama akan aktif, harapannya edukasi yang dilakukan melahirkan generasi yang baru.

“Anak-anak muda harus peduli dan sadar. Belajar dari sejarah Kota Palu, sehingga kita harus rajin menanam yang juga akan merasakan dampaknya,” harapnya.

Aksi Muda Jaga Iklim

Aurelia Salsabila, Ketua Umum Penjaga Laut Indonesia menjelaskan jika anak muda memiliki kekuatan sosial dan kultural dengan populasinya yang besar. Modal tersebut menurutnya menjadi potensi yang harus dimaksimalkan khususnya dalam upaya melestarikan lingkungan.

“Anak muda dibekali modal kreatif dengan pendekatan inovatif. Hal tersebut memungkinkan untuk terus terhubung dengan berjejaring secara luas,” terangnya.

Krisis iklim yang terjadi saat ini merupakan hasil akumulasi aktivitas destruktif yang mengakibatkan saat ini dampaknya dirasakan. Menurutnya, secara global saat ini keanekaragaman hayati terus menurun.

“Krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, tapi sekarang. Kita sebagai generasi muda tidak hanya mewarisi masalah ini tapi kita punya kekuatan untuk memberikan solusi,” ungkap Susan, sapaan akrabnya. 

Beberapa Aksi Muda Jaga Iklim yang dilakukan di berbagai daerah pada tahun 2024. (Foto: Penjaga Laut Indonesia)

Aksi Muda Jaga Iklim merupakan inisiatif yang dilakukan oleh Penjaga Laut Indonesia sejak tahun 2021. Penjaga Laut Indonesia sendiri merupakan wadah bagi anak muda untuk bergerak bersama secara kreatif, kolektif dan positif dalam menjaga laut Indonesia yang berkeadilan dan berkelanjutan.

“Gerakan ini sebagai wujud aksi nyata pemuda Indonesia dalam menanggulangi dampak krisis iklim melalui gerakan kolektif,” ujarnya..

Ia juga memaparkan pencapaian yang didapatkan selama kegiatan Aksi Muda Jaga Iklim dari tahun 2021 hingga 2024. Terdapat 2.225 titik aksi di 38 provinsi di Indonesia dengan melibatkan 126.192 anak muda dan 436 kolaborator yang bertindak secara kolektif.

“Dari kegiatan tersebut kita berhasil menanam 112.630 bibit pohon dan mangrove. Berhasil mengumpulkan 61.815 kilogram sampah. 3.564 koral yang ditransplantasi dan adopsi serta 160 tukik yang dilepasliarkan,” jelasnya.

Terakhir ia memberi pesan bahwa biodeversitas bukanlah warisan dari masa lalu, melainkan sebuah titipan untuk masa depan.

“Saatnya ana muda bersuara, beraksi dan berdampak,” pungkasnya.

 

Foto utama: Aksi pembentangan bendera 100 meter dalam rangkaian Aksi Muda Jaga Iklim di Dusun Binasangkara, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Minggu ((13/9/2024)). (Foto: WALHI Sulsel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *