Lembaga Swadaya Masyarakat Moluccas Coastal Care (MCC) secara intensif menggelar rangkaian program pelestarian lingkungan di wilayah Maluku melalui inisiatif bertajuk “Roots of Energy”. Rangkaian kegiatan ini mencakup pembinaan generasi muda melalui Kewang Muda Maluku Angkatan IV serta aksi nyata mitigasi perubahan iklim dengan mendistribusikan ribuan anakan pohon produktif kepada masyarakat.
Penguatan Karakter Penjaga Alam di Negeri Haruku Pada 12–14 Februari 2026, MCC menyelenggarakan Kewang Muda Maluku Angkatan IV di Rumah Kewang Negeri Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Kegiatan yang dibuka oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku ini bertujuan membentuk karakter pemuda sebagai pelindung ekosistem hutan dan laut berbasis kearifan lokal.
Sebanyak 21 peserta dari berbagai latar belakang komunitas dan wilayah adat mengikuti pelatihan intensif mengenai spiritualitas adat, pengelolaan sampah, hingga rencana aksi lingkungan.
Program ini didukung penuh oleh PT PLN (Persero) UIW Maluku dan Maluku Utara sebagai bagian dari komitmen pelestarian pesisir. Sejak dimulai pada 2021, program ini telah mencetak 79 alumni yang tersebar di seluruh Maluku. Ketua MCC, S. Teria Salhuteru, menekankan pentingnya internalisasi nilai adat dalam menjaga alam.
“Anak muda Maluku harus memahami bahwa hutan dan laut adalah satu kesatuan energi kehidupan. Melalui Kewang Muda, kami ingin menanamkan kembali nilai-nilai kewang sebagai sistem penjagaan alam berbasis kearifan lokal,” ungkapnya.

Teria juga menambahkan bahwa tantangan seperti degradasi pesisir dan perubahan iklim di wilayah kepulauan sangat mendesak.
“Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap ekosistem sekaligus kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang sangat bergantung pada sumber daya alam,” tuturnya.
Satu Rumah, Satu Pohon, Satu Harapan
Distribusi 1.350 Bibit Pohon untuk Ketahanan Iklim di Ambon Sebagai langkah konkret adaptasi iklim, MCC bersama PLN Peduli dan Kewang Muda Maluku membagikan 1.350 bibit pohon produktif di kawasan JMP, Kota Ambon. Bantuan bibit yang terdiri dari Cengkeh Raja, Langsat, Pala, dan Lenggua ini merupakan kontribusi dari BPDAS Wae Batu Merah untuk mendukung pemulihan lahan di berbagai negeri, mulai dari Oma hingga Mamala.
Melalui tema “Satu Rumah, Satu Pohon, Satu Harapan”, tercatat 97 warga berpartisipasi mengambil bibit untuk ditanam di lingkungan masing-masing. Teria Salhuteru menjelaskan bahwa sebagai daerah kepulauan, Maluku sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem.

“Jika tidak diantisipasi, krisis iklim dapat mempercepat kerusakan ekosistem dan melemahkan sumber penghidupan masyarakat,” tegasnya.
Penanaman ini dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga kualitas air dan tanah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.
“Pulau kecil memiliki keterbatasan ruang dan sumber daya. Setiap pohon yang di tanam adalah perlindungan lingkungan sekaligus investasi ekonomi keluarga. Ini adalah bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim berbasis komunitas,” tambah Teria.
Menutup rangkaian kegiatan tersebut, Teria mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mulai bergerak dari unit terkecil, yakni keluarga.
“Satu rumah menanam satu pohon berarti satu keluarga ikut menjaga masa depan pulau,” pungkasnya.
Artikel ini disadur dari RRI.co.id dan ANTARA Maluku