Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan laut, sebuah inisiatif luar biasa muncul dari tangan-tangan muda di Maluku. Moluccas Coastal Care (MCC), sebuah NGO lokal yang digerakkan oleh para profesional muda, telah menyelesaikan fase tujuh bulan program pengelolaan perikanan berbasis masyarakat di Negeri Rutong, Kecamatan Timur Selatan, Pulau Ambon.
Program ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi lintas disiplin ilmu dan pelibatan aktif masyarakat lokal dapat menciptakan jalan baru menuju pelestarian pesisir yang berkelanjutan.
Hedwig Inggrid, perwakilan dari MCC, dalam sharing session yang diselenggarakan oleh Jaring Nusa pada Kamis (23/04/2026) menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan sebuah gerakan yang menyatukan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal.
“MCC beranggotakan anak muda yang bergerak dari beberapa bidang ilmu yang berbeda. Kami semua memiliki beberapa bidang ilmu yang berbeda. Namun kami bisa bekerja sama dan bertukar pikiran karena kami sama-sama memiliki kerinduan untuk menjaga dan mengelola pesisir,” ungkap Inggrid.
Potensi Alam dan Kekuatan Adat di Negeri Rutong
Pemilihan Negeri Rutong sebagai lokasi proyek didasarkan pada survei mendalam menggunakan empat pilar acuan: Community-Based Fisheries Management (CBFM), pengamanan hak (security right), ketahanan pangan (food security), dan inklusi keuangan. Rutong menonjol karena memiliki sumber daya manusia yang kuat dengan sekitar 70 nelayan serta kondisi ekosistem laut yang masih terjaga baik.
“Rutong memiliki tiga ekosistem yakni mangrove, lamun, dan terumbu karang yang dalam kondisi baik. Kemudian ada musik tangkap yang berjalan sepanjang tahun,” papar Inggrid.
Selain kekayaan alam, Rutong memiliki dukungan regulasi adat dan pemerintah yang kuat, seperti aturan larang tangkap untuk komoditas lola, teripang, dan lobster, serta peraturan terkait Masyarakat Hukum Adat (MHA). Namun, tantangan utama yang ditemukan adalah rantai pasar yang masih sangat pendek di mana nelayan langsung menjual hasil tangkapannya ke rumah-rumah warga tanpa adanya pengepul atau pengolahan pasca-tangkap.

Literasi Data dalam Pengambilan Keputusan
Salah satu fokus utama MCC selama tujuh bulan adalah membangun literasi data di tingkat komunitas. Bagi MCC, data adalah fondasi dari segala kebijakan yang akan diambil di masa depan.
“Kenapa fokusnya pada data? Karena dengan data kita bisa menggambarkan keadaan komunitas. Kita bisa memetakkan potensi sumber daya. Dan yang terakhir adalah data itu penting untuk pengambilan keputusan,” tegas Inggrid.
Melalui kegiatan landing monitoring, MCC mencatat nama spesies, jumlah tangkapan, berat, hingga harga jual secara detail. Proses ini dilakukan dengan prinsip transparansi dan persetujuan dari nelayan.
“Hal ini dilakukan agar mendapat kepercayaan dari masyarakat ketika diambil datanya,” tambahnya.
Dengan data ini, masyarakat dapat memahami apakah mereka menangkap ikan yang sudah dewasa atau masih kecil, serta bagaimana fluktuasi pendapatan mereka dari waktu ke waktu. Selain itu, data ini berfungsi menjaga sejarah lisan agar tetap akurat, misalnya dalam mencatat ukuran ikan yang pernah tertangkap di perairan desa.
Edukasi Kreatif Melalui Simulasi “Baku Pancing”
Mendorong kesadaran masyarakat tidak dilakukan secara menggurui, melainkan melalui pendekatan edukasi yang menyenangkan. Salah satu metode yang digunakan adalah permainan simulasi bertajuk “Baku Pancing”.
Dalam permainan ini, masyarakat berperan sebagai nelayan yang awalnya menangkap segala jenis ikan tanpa aturan. Namun, ketika stok ikan habis dalam simulasi tersebut, masyarakat mulai menyadari dampak dari pengambilan sumber daya secara sesuka hati.
Inggrid menceritakan bagaimana masyarakat sendiri yang kemudian mengusulkan adanya pengawasan.
“Maka MCC di sini mengarahkan kepada masyarakat apa yang harus kita lakukan sehingga masyarakat berpendapat dan sepakati bahwa harus adanya kewang untuk mengawasi,” jelasnya.
Melalui simulasi ini, peran Kewang (lembaga adat pengawas hutan dan laut) diaktifkan kembali untuk menghimbau masyarakat agar tidak menangkap spesies tertentu yang dilindungi atau masih kecil. Hasilnya, masyarakat menyadari bahwa mereka mampu mengelola perikanan mereka sendiri secara kolektif.

Diversifikasi Ekonomi dan Strategi Inklusi Sosial
Untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, MCC juga menyasar pada pengolahan hasil perikanan. Masyarakat diajarkan untuk memberikan nilai tambah pada tangkapan mereka melalui pembuatan produk olahan seperti nugget ikan, otak-otak, dan ikan isi. Strategi ini memiliki dua tujuan utama: meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memperbaiki gizi keluarga.
Selain pengolahan produk, MCC juga memberikan edukasi terkait literasi keuangan.
“MCC akan melakukan edukasi literasi keuangan agar masyarakat memiliki pemahaman terkait bagaimana cara mengelola pendapatan hasil jualan hasil tangkap mereka agar mereka bisa memahami bahwa penghasilan mereka itu bisa mungkin bisa juga ditabung sebagai persiapan di masa mendatang,” kata Inggrid.
Hal ini sangat krusial mengingat partisipasi masyarakat dalam kelompok simpan pinjam di Rutong sebelumnya masih sangat terbatas. Kunci keberhasilan MCC terletak pada cara mereka memposisikan diri di tengah masyarakat.
Mereka tidak datang sebagai tamu, melainkan memilih untuk tinggal dan hidup bersama warga Rutong. Setiap hari Rabu, mereka membuka Rumah Belajar untuk memberikan edukasi bahasa Inggris bagi anak-anak desa.
“MCC memilih tinggal dan menjadi masyarakat di sana. Karena dengan memilih tinggal MCC sendiri bukan hanya semakin dekat dengan masyarakat, tetapi juga bisa merasakan apa yang mereka butuhkan,” ungkap Inggrid.
Pendekatan ini memastikan bahwa masyarakat tidak melihat MCC hanya sebagai pengumpul data, tetapi sebagai mitra yang memberikan kontribusi nyata. Selain itu, keterlibatan aktif anak muda lokal Rutong menjadi prioritas agar mereka siap menjadi pemimpin komunitas di masa depan dan memahami bahwa menjadi penggerak NGO menjadi salah satu pilihan karir yang dapat diambil.
Tantangan Armada, Infrastruktur, dan Ancaman Iklim
Meskipun banyak praktik baik yang telah dilakukan, tantangan besar masih membayangi. Rutong saat ini hanya memiliki 11 armada nelayan, dengan hanya empat yang bermesin sedangkan sisanya masih menggunakan dayung. Keterbatasan armada ini menghambat nelayan untuk menjangkau wilayah tangkap yang lebih jauh. Selain itu, ketiadaan fasilitas penyimpanan (cold storage) memaksa nelayan menjual ikan dengan harga murah di bawah harga pasar agar cepat habis.
Status Rutong sebagai “Kampung Nelayan Merah Putih” memberikan harapan dengan rencana pembangunan cold storage, namun Inggrid memberikan catatan kritis mengenai kesiapan masyarakat lokal.
“Jangan-jangan pembangunan ini sebenarnya lebih dirasakan manfaatnya bukan masyarakat Rutong sendiri, tetapi lebih dirasakan oleh masyarakat luar,” ujarnya mengingatkan pentingnya kesiapan armada nelayan lokal.
Tantangan paling berat tetaplah perubahan iklim yang mulai dirasakan dampaknya melalui penurunan aktivitas nelayan yang secara langsung memukul kondisi ekonomi rumah tangga. Perjalanan MCC di Negeri Rutong memberikan pelajaran berharga bahwa pemulihan lingkungan laut harus sejalan dengan penguatan ekonomi dan pendidikan masyarakatnya.
Melalui data yang akurat, edukasi yang partisipatif, dan keterlibatan aktif generasi muda, kemandirian pengelolaan perikanan bukan lagi sekadar impian. Upaya ini diharapkan dapat menyelaraskan program “Rutong Hijau” yang sudah ada dengan “Rutong Biru” demi keberlanjutan wilayah pesisir Ambon yang lebih tangguh.