Search
Close this search box.
Search

Menjembatani Riset dan Aksi Nyata dalam Menjaga Kelestarian Pesisir Indonesia

Menjembatani Riset dan Aksi Nyata dalam Menjaga Kelestarian Pesisir Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Bumi, Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia menyelenggarakan diskusi daring melalui Live Instagram bertajuk “Dari Riset ke Aksi: Peran Kita Jaga Pesisir” pada Rabu, 29 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua aktivis muda yang bergerak di garda terdepan pelestarian laut, yakni Jasmi Nur Tahir dari Green Youth Celebes (GREYS) dan Muhammad Rizki (Yoyo) dari Cita Tanah Mahardika (CTM). Diskusi ini menyoroti pentingnya wilayah pesisir sebagai benteng ekologi serta bagaimana data ilmiah harus dikonversi menjadi tindakan nyata di lapangan.

Pesisir sebagai Penyangga Kehidupan

Wilayah pesisir bukan sekadar garis pantai yang indah, melainkan ekosistem strategis yang menopang kehidupan manusia dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Jasmi, yang merupakan lulusan Ilmu Kelautan, menekankan pentingnya memahami keterhubungan antar-ekosistem. Menurut Jasmi, pesisir memiliki peran vital sebagai penyangga utama kehidupan.

“Pesisir itu sebenarnya bukan sekedar pertemuan antara darat dengan laut, tapi pesisir adalah ekosistem penyangga kehidupan,” ujar Jasmi dalam diskusi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan mangrove yang menyerap karbon, padang lamun sebagai tempat asuhan biota, dan terumbu karang sebagai rumah spesies laut adalah satu kesatuan yang melindungi manusia dari dampak krisis iklim.

Senada dengan Jasmi, Yoyo dari CTM menekankan bahwa Indonesia, dengan 71% wilayahnya berupa lautan, sangat bergantung pada kesehatan pesisir.

“Pangan atau sumber protein yang sering kita konsumsi di daratan utama atau daratan besar itu hari ini sebetulnya diproduksi lebih banyak di wilayah pesisir, lautan dan seterusnya,” ungkap Yoyo.

Potret masyarakat nelayan Pulau Satangnga dan hasil jemuran telur ikan terbang. (Foto: Saenal, CTM)

Baginya, kerusakan pesisir berarti kerentanan bagi komunitas nelayan yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada laut.

Realitas Ancaman: Dari Sampah Hingga Eksploitasi

Diskusi ini juga mengungkap berbagai tantangan serius yang dihadapi wilayah pesisir saat ini, mulai dari pencemaran sampah plastik hingga kerusakan akibat aktivitas destruktif. Jasmi menceritakan pengalamannya di Bira, di mana sampah plastik kiriman dari darat menjadi masalah musiman yang mengkhawatirkan.

“Sampah plastik, yang paling mengejutkan bahwa sampah ini tidak datang dari laut tapi kiriman dari darat,” tuturnya.

Lebih jauh lagi, Jasmi menyoroti adanya eksploitasi keindahan alam pesisir sering kali dikorbankan demi pembangunan ekonomi jangka pendek tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Di sisi lain, Yoyo berbagi temuan dari kerja-kerja CTM di Kepulauan Tanakeke, Takalar. Melalui praktik listening survey atau mendengar cerita harian warga, ia menemukan krisis nyata seperti penurunan hasil laut dan abrasi yang mengancam pemukiman. Penggunaan bom dan bius ikan masih menjadi ancaman destruktif yang menghancurkan terumbu karang di wilayah tersebut.

Salah satu inti dari diskusi ini adalah mengatasi kesenjangan antara hasil riset ilmiah dengan implementasi di lapangan. Jasmi mencontohkan aksi brand audit sampah plastik yang dilakukan GREYS untuk mengidentifikasi produsen sampah, sehingga data tersebut dapat digunakan sebagai alat kampanye dan edukasi yang kuat.

“Riset ini bisa membuat masalah yang tadinya terlihat menjadi terbukti dan ketika sudah terbukti dengan data maka dorongan perubahan yang terjadi juga jadi jauh lebih kuat,” tegas Jasmi.

Brand Audit sampah yang dilakukan oleh Green Youth Celebes di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (Foto: GREYS)

Yoyo menambahkan perspektif mengenai pentingnya riset partisipatif yang melibatkan komunitas sebagai subjek, bukan sekadar objek penelitian. CTM berupaya mendekonstruksi logika pembangunan top-down yang sering mengabaikan pengetahuan lokal.

“Riset itu pada akhirnya sebetulnya bukan milik si penelitinya tetapi adalah milik komunitas itu sendiri,” ujar Yoyo.

Ia menekankan bahwa riset harus dikembalikan kepada komunitas untuk menjadi bahan dialog dan dasar perencanaan tindakan yang mereka inisiasi sendiri.

Aksi Nyata dan Peran Orang Muda

Kedua narasumber sepakat bahwa kesadaran akan krisis harus berlanjut menjadi gerakan nyata. Di Kepulauan Tanakeke, kerja-kerja CTM telah memicu lahirnya organisasi komunitas di Pulau Satanga yang aktif menjaga pulau dan menginisiasi kebun pangan mandiri.

Jasmi juga mengajak kaum muda untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat edukasi dan desakan kebijakan kepada pemerintah. GREYS sendiri aktif melibatkan pemuda lokal dalam lokakarya pemantauan mangrove di Puntondo, Takalar, agar mereka memiliki rasa kepemilikan untuk menjaga ekosistemnya sendiri.

Sebagai penutup, Jasmi mengingatkan bahwa menjaga laut harus dimulai dari perubahan perilaku di daratan.

“Kalau kita mau menjaga laut jangan mulai dari laut tapi mulai dari kebiasaan kita di darat. Karena menjaga pesisir sebenarnya adalah cara paling jujur untuk menjaga diri sendiri,” pesan Jasmi.

Yoyo menekankan bahwa menjaga pesisir adalah menjaga ruang penghidupan bagi semua makhluk yang saling terhubung.

“Menjaga lautan menurutku adalah bagian dari menjaga ruang penghidupan yang sebetulnya seringkali terpinggirkan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *