Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia (KTI) kembali sukses menyelenggarakan kegiatan sharing session daring pada Rabu, 22 Juli 2026 dengan tema utama “Pengelolaan Perikanan dan Ruang Laut, Praktek Baik Dari Masyarakat Pesisir Berbasis Kearifan Lokal.” Pertemuan ini menjadi panggung penting bagi suara-suara dari pelosok pesisir untuk menceritakan bagaimana kearifan lokal menjadi benteng terakhir dalam menjaga kelestarian laut Indonesia.
Kevin Sairullah, seorang pemuda dari komunitas Orang Bajau di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo berbagi cerita tentang tempat tinggalnya. Dalam paparannya yang emosional namun terstruktur, Kevin berbagi kisah tentang ketangguhan komunitasnya dalam mengelola ruang hidup di tengah tantangan modernitas. Ia menegaskan bahwa bagi Orang Bajau, laut adalah identitas yang telah mereka jaga jauh sebelum administrasi negara menyentuh wilayah mereka.
“Saya memilih istilah ‘Orang Bajau’, bukan masyarakat Bajau. Saya memilih istilah tersebut karena lebih mencerminkan identitas komunitas ini sebagai kelompok yang memiliki sejarah, budaya, pengetahuan, dan hubungan yang sangat erat dengan laut,” terang Kevin.
“Bagi kami orang Bajau yang ada di Tilamuta, kami meyakini laut bukan hanya sumber mata pencaharian, tapi juga sebagai tempat membentuk pengetahuan dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” tambahnya.
Sejarah dan Identitas
Kevin membuka sesinya dengan menekankan aspek sejarah dan identitas yang mendalam. Orang Bajau di perairan Boalemo diperkirakan telah hadir jauh sebelum tahun 1812, menjadikan mereka salah satu komunitas tertua di Provinsi Gorontalo.
Saat ini, populasi mereka mencapai sekitar 1.789 jiwa yang hidup berdampingan di wilayah pesisir dengan arsitektur rumah khas yang sangat berdekatan. Bagi mereka, hubungan dengan laut melampaui sekadar urusan ekonomi; laut adalah ruang sosial, budaya, dan ekologis yang menyatu dalam keseharian.
Kedekatan ini tercermin dalam berbagai aktivitas tradisional. Kevin menjelaskan praktek membersihkan perahu atau Lepa di perairan dangkal dengan cara membakar bagian bawah perahu untuk menghilangkan lumut dan kerang agar perahu dapat melaju cepat kembali. Tak hanya itu, vegetasi pesisir seperti mangrove atau Bangko dan padang lamun atau Samo memiliki fungsi vital.

“Kami menggunakan sudah sejak lama bangko untuk kebutuhan kami. Tidak hanya sebagai tempat mencari ikan dan kepiting, sekaligus digunakan untuk pengobatan tradisional,” ungkap Kevin mengenai fungsi medis dari ekosistem mangrove.
Kearifan ini juga terwujud dalam pembagian waktu dan jarak melaut melalui tradisi Sakei dan Bapongka yang hingga kini masih dipertahankan oleh pemuda dan nelayan di Tilamuta. Tradisi-tradisi ini menjadi bukti bahwa laut adalah tempat pembentukan pengetahuan bagi mereka.
“Aktivitas melaut tentunya masih memiliki nilai sosial dan budaya yang sangat kuat bagi kami orang Bajau,” tambahnya, menegaskan bahwa melaut adalah sebuah prosesi kebudayaan yang sakral,” ujarnya.
Tata Kelola Ruang Laut
Salah satu bagian paling menarik dari presentasi Kevin adalah bagaimana Orang Bajau membagi ruang laut mereka secara fungsional tanpa memerlukan batas administrasi formal. Pengelolaan didasarkan pada pengalaman, pengamatan alam, dan nilai budaya yang dipahami bersama secara kolektif.
Mereka mengenal pemisahan zona berdasarkan habitat biota dan teknik penangkapan, sehingga antara nelayan gurita dan pemanah tradisional dapat beroperasi tanpa saling mengganggu.
“Setiap kelompok nelayan memiliki ruang kelola yang berbeda sehingga aktivitas penangkapan dapat berlangsung tanpa saling mengganggu,” jelas Kevin.
Dalam pembagian ruang ini, peran perempuan Orang Bajau sangatlah sentral. Mereka memiliki wilayah kelola khusus di perairan dangkal dan hamparan terumbu karang yang disebut Sapa. Di pulau- pulau seperti Pagarang, Talipodo, Kubor, Kabak, dan Tinumang, para perempuan mengumpulkan berbagai biota seperti kerang Bialola, gurita, dan siput laut sesuai musimnya. Sapa menjadi ruang yang paling sering dimanfaatkan oleh nelayan perempuan karena kondisinya yang tenang dan kaya akan biota pesisir.

Selain ruang ekonomi, terdapat pula ruang spiritual yang sangat dihormati, yakni Pulau Malena atau yang dikenal oleh orang luar sebagai Pulau Botak. Pulau ini adalah lokasi ritual upacara adat seperti tolak bala dan tidak boleh dimasuki secara bebas oleh siapapun.
“Hanya orang yang berkunjung pada umumnya itu harus meminta izin dan minta izinnya itu kepada ketua adat,” tegas Kevin.
Menariknya, karena akses yang dibatasi oleh aturan adat ini, kondisi ekosistem laut di sekitar Pulau Malena jauh lebih baik dan lestari dibandingkan wilayah lainnya, membuktikan bahwa hukum adat efektif dalam menjaga konservasi laut.
Mendorong Pengakuan Hak Tenurial
Meskipun telah menjaga laut selama berabad-abad, Orang Bajau Tilamuta menyadari bahwa kearifan lokal mereka membutuhkan pengakuan legal untuk menghadapi ancaman eksternal seperti eksploitasi pihak luar dan privatisasi ruang laut. Kevin menekankan pentingnya pengakuan hak untuk mengakses, mengelola, dan menjaga laut sebagai ruang hidup generasi mendatang.
Saat ini, komunitas mereka bersama organisasi Japesda, pemerintah desa, karang taruna, dan tokoh adat tengah mendorong upaya pemetaan partisipatif. Pemetaan ini bertujuan untuk mendokumentasikan secara spasial wilayah tangkap, jalur pelayaran, dan kawasan penting tradisional agar memiliki kekuatan hukum.
“Upaya yang saat ini kami dorong meliputi pemetaan partisipatif. Kemudian juga saat ini mendorong pengakuan melalui kebijakan desa, mendorong lahirnya peraturan desa atau Perdes yang mengakui dan melindungi hak akses serta hak kelola nelayan tradisional,” papar Kevin mengenai langkah-langkah strategis yang sedang ditempuh.
Kolaborasi multipihak menjadi kunci untuk mencegah konflik dan memastikan ruang laut tetap menjadi milik bersama. Sebagai penutup yang kuat, Kevin mengutip pesan-pesan dari para tetua adat dan nelayan. Tokoh adat Mboda Singg memberikan pesan yang mendalam.
“Laut ini bukan milik satu orang. Laut adalah titipan untuk anak cucu. Karena itu ada tempat yang dijaga ada tempat yang dihormati,” tutupnya.