Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar hamparan air. Laut adalah ruang hidup yang menyediakan ikan, udang, kepiting, sekaligus menjadi jalur transportasi dan bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, wajah pesisir Merauke perlahan berubah. Di beberapa titik, akar-akar mangrove dipenuhi sampah plastik dan jaring nelayan yang sudah tidak terpakai. Gelombang pasang yang datang semakin sulit diprediksi, sementara perubahan musim membuat aktivitas nelayan tidak lagi mengikuti pola yang selama ini mereka kenal. Perubahan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana krisis iklim mulai dirasakan oleh masyarakat pesisir di ujung timur Indonesia.
Mangrove merupakan benteng alami bagi pesisir Merauke. Hutan ini mampu meredam energi gelombang, mengurangi abrasi, menyerap karbon dalam jumlah besar, serta menjadi tempat pembesaran berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting yang menopang ekonomi masyarakat. Ketika mangrove rusak, bukan hanya pohonnya yang hilang, tetapi juga perlindungan bagi kawasan pesisir dan sumber penghidupan masyarakat.
Persoalan di pesisir Merauke tidak hanya berasal dari perubahan iklim. Aktivitas manusia turut memberikan tekanan terhadap ekosistem. Laporan Mongabay Indonesia menunjukkan bahwa jaring bekas yang ditinggalkan nelayan sering tersangkut di kawasan mangrove Muara Kali Maro. Dalam beberapa kasus, warga bahkan harus memotong ranting mangrove untuk melepaskan jaring tersebut. Sampah plastik yang terbawa arus sungai memperburuk kondisi dan menghambat pertumbuhan vegetasi mangrove.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, harapan muncul dari masyarakat sendiri. Kelompok perempuan di Kelurahan Kamahedoga mengumpulkan jaring bekas untuk dibersihkan dan dijual kembali melalui pendampingan. Inisiatif ini bukan hanya mengurangi sampah di kawasan mangrove, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Semangat serupa juga terlihat dari generasi muda Merauke. Berbagai komunitas lingkungan bersama Yayasan EcoNusa mengadakan penanaman mangrove, aksi bersih pantai, serta kampanye pengurangan sampah plastik. Dilansir dari Antara News, melalui media sosial, mereka mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga pesisir bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.
Upaya-upaya tersebut menunjukkan bahwa adaptasi terhadap krisis iklim tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Aksi sederhana seperti membersihkan pantai, menanam mangrove, memilah sampah, hingga mendokumentasikan perubahan lingkungan dapat menjadi bagian dari solusi. Ketika dilakukan secara kolektif, tindakan kecil mampu membangun ketangguhan masyarakat pesisir menghadapi perubahan yang semakin tidak menentu.
Masa depan pesisir Merauke bergantung pada kemampuan semua pihak untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian. Pemerintah, masyarakat adat, nelayan, organisasi lingkungan, perguruan tinggi, dan generasi muda perlu berjalan bersama. Sebab, ketika mangrove tetap tumbuh dan laut tetap sehat, yang dijaga bukan hanya ekosistem pesisir, tetapi juga keberlangsungan hidup masyarakat yang menggantungkan masa depannya pada laut.
Foto utama: Salah satu warga sedang menyisir area mangrove di Kampung Payum. (Foto: Agapitus Batbual/Mongabay Indonesia)
Penulis: Aini Chairunnisa, sekretariat Jaring Nusa