Penulis: Rofinus Daton Warat, Ishak Samuel Mandosir, Sopater Kapisa, Claudia Risamasu, Ramlan Jamal
Pojok pelabuhan perikanan Pomako, Mimika, Papua Tengah; tempat kapal-kapal long boat ukuran kecil berlabuh. Waktu Indonesia Timur baru mendekati pukul 7:00 pagi. Barang-barang bawaan telah tersusun rapi di atas kapal yang akan membawa kami ke kampung Atuka.
Sepanjang perjalanan masih berkabut dan dingin. Kapal berlayar tenang meninggalkan muara, menyusuri sungai pesisir yang diapit mangi-mangi (hutan mangrove) yang anggun menjulang tegak seolah mengokohkan diri sebagai cerminan paling nyata dari alam pesisir Papua, melindungi kapal yang kami tumpangi dari hembusan angin kencang dari laut Arafura yang datang dari sisi barat.
Deru mesin kapal berkekuatan 40 PK terdengar konstan, berpadu dengan suara riak air yang terbelah di sisi lambung kapal. Sesekali aroma asin angin laut ikut terbawa masuk, mengingatkan bahwa sungai yang kami susuri tak pernah benar-benar jauh dari Laut Arafura. Kapal melaju dengan gerakan ringan mengikuti permukaan air yang sebagian besar tenang tanpa gelombang.
Namun ketika berpapasan dengan kapal lain, riak gelombang tiba-tiba datang dan membuat badan kapal sedikit bergoyang. Kami yang duduk di dalamnya pun sesekali menggeser posisi, merapatkan pegangan, lalu kembali menyesuaikan duduk sambil membiarkan perjalanan terus membawa kami semakin mendekati jantung bentang mangi-mangi Atuka.
Mangi-mangi yang didominasi oleh Yapako (Rhizophora mucronata) dan Rhizophora apiculata tumbuh berderet membentuk bentang ekosistem pesisir Atuka dari selatan ke utara berdampingan dengan vegetasi hutan tropis dan kebun-kebun kelapa warga. Sesekali terlihat celah-celah di antara hutan mangrove tersebut menyerupai anak sungai yang di bagian depannya terdapat susunan batang-batang kayu seperti memagarinya.
Pojok pelabuhan perikanan Pomako, Mimika, Papua Tengah; tempat kapal-kapal long boat ukuran kecil berlabuh. Waktu Indonesia Timur baru mendekati pukul 7:00 pagi. Barang-barang bawaan telah tersusun rapi di atas kapal yang akan membawa kami ke kampung Atuka.
Sepanjang perjalanan masih berkabut dan dingin. Kapal berlayar tenang meninggalkan muara, menyusuri sungai pesisir yang diapit mangi-mangi (hutan mangrove) yang anggun menjulang tegak seolah mengokohkan diri sebagai cerminan paling nyata dari alam pesisir Papua, melindungi kapal yang kami tumpangi dari hembusan angin kencang dari laut Arafura yang datang dari sisi barat.
Deru mesin kapal berkekuatan 40 PK terdengar konstan, berpadu dengan suara riak air yang terbelah di sisi lambung kapal. Sesekali aroma asin angin laut ikut terbawa masuk, mengingatkan bahwa sungai yang kami susuri tak pernah benar-benar jauh dari Laut Arafura. Kapal melaju dengan gerakan ringan mengikuti permukaan air yang sebagian besar tenang tanpa gelombang.

Namun ketika berpapasan dengan kapal lain, riak gelombang tiba-tiba datang dan membuat badan kapal sedikit bergoyang. Kami yang duduk di dalamnya pun sesekali menggeser posisi, merapatkan pegangan, lalu kembali menyesuaikan duduk sambil membiarkan perjalanan terus membawa kami semakin mendekati jantung bentang mangi-mangi Atuka.
Mangi-mangi yang didominasi oleh Yapako (Rhizophora mucronata) dan Rhizophora apiculata tumbuh berderet membentuk bentang ekosistem pesisir Atuka dari selatan ke utara berdampingan dengan vegetasi hutan tropis dan kebun-kebun kelapa warga. Sesekali terlihat celah-celah di antara hutan mangrove tersebut menyerupai anak sungai yang di bagian depannya terdapat susunan batang-batang kayu seperti memagarinya.
Di antara celah-celah mangrove inilah, alam – hutan mangi-mangi – menyediakan kebutuhan hidup bagi warga Atuka yang telah menjaga hutannya.
“Itu dia pu nama ‘sero’, anak. Sengaja dipasang warga untuk cari ikan, udang dan karaka,” ujar bapak Amatus Tamawiyu, salah satu tetua adat kampung Atuka.
Alat tangkap sederhana ini serupa dengan alat tangkap di tempat lain seperti Sulawesi yang secara nama, fungsi serta cara kerjanya mirip yakni sama-sama memanfaatkan dinamika pasang surut. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui peraturan penempatan alat penangkapan ikan mendefinisikan sero sebagai alat penangkapan ikan yang diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap (traps) atau perangkap ikan perintang berbentuk pagar.
Sero adalah perangkap pasif yang bersifat menetap, terbuat dari susunan pagar (bambu, kayu, atau jaring) yang membentuk penaju untuk mengarahkan dan menjebak ikan menuju ruang penampungan utama saat terjadi pasang surut air laut.
Namun bedanya adalah umumnya sero, seperti contoh di Sulawesi Selatan pemasangannya di wilayah perairan dangkal di pesisir, dipasang tegak lurus terhadap garis pantai dan menyerupai anak panah. Sedangkan di Atuka penempatannya di celah-celah aliran sungai kecil hutan mangrove. Jika umumnya menggunakan jaring, warga Atuka menggunakan anyaman dari pelepah pohon sagu yang masih muda atau nipah.
“Mama-mama anyam pelepah sagu muda untuk jaring ikan di sero. Mama-mama dong pintar bikin itu. Pelepah sagu dorang ambil jauh di dalam mangi-mangi,” kata bapak Amatus yang di usia 73 tahun masih penuh semangat.

Ketika air laut pasang, bapak dan mama, kadang bersama anak-anak mereka, pergi ke sero untuk memasang anyaman pelepah sagu pada susunan kayu yang telah dipasang di celah-celah mangrove. Anyaman itu ditempatkan sedemikian rupa untuk menjebak ikan yang masuk mengikuti air pasang. Pada beberapa celah terdapat dua susunan pagar kayu, satu berada agak ke dalam, sementara yang lainnya dipasang lebih dekat ke bagian luar.
Di sinilah sero tidak hanya menjadi tempat mencari hasil laut. Kebersamaan bapak, mama, dan anak-anak memperlihatkan bagaimana pekerjaan dilakukan sebagai tanggung jawab keluarga.
Ada pembagian peran, saling membantu, sekaligus proses belajar yang berlangsung secara alami dari orang tua kepada anak. Di antara akar-akar mangrove dan perubahan pasang-surut, usaha memenuhi kebutuhan hidup juga menjadi ruang untuk menjaga kebersamaan keluarga.
Ketika air sudah meti (surut), bapak, mama dan anak-anak akan mengambil hasil tangkapan sero. Ikan-ikan, udang dan kepiting yang layak untuk mereka bawa pulang. Sebagian untuk dimakan sebagian lagi untuk jual.
“Kalo su meti tinggal pilih-pilih ikan saja terus bawa pulang. Yang kecil-kecil dilepas biar dia besar dulu,” lanjut cerita bapak Amatus.
Pilihan sederhana untuk melepaskan kembali ikan-ikan berukuran kecil mungkin tidak pernah disebut Amatus sebagai konservasi, pemanfaatan terbatas atau keberlanjutan. Bagi warga Atuka, itu hanyalah cara hidup yang dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka, mengambil yang cukup hari ini, sembari menyisakan kehidupan untuk hari esok.
Di tempat lain, celah di antara mangrove mungkin hanya terlihat sebagai lorong air yang sempit dan berlumpur. Di Atuka, celah itu adalah dapur untuk makan, tempat belajar, tempat bekerja, dan jejak pengetahuan yang diwariskan dari mama dan bapak kepada anak-anak mereka.

Hari ini negara menghadirkan konservasi melalui berbagai bahasa kebijakannya keberlanjutan, pemanfaatan terbatas, perlindungan ekosistem, pengaturan ruang, hingga sistem zonasi. Semua dituangkan dalam peraturan, peta, dokumen perencanaan, dan batas-batas pemanfaatan yang dibuat agar manusia tidak mengambil lebih banyak daripada yang mampu dipulihkan alam.
Di Atuka, ia hidup dalam pengetahuan tentang kapan pasang datang, di celah mana sero dapat dipasang, kapan hasil dapat diambil, apa yang layak dibawa pulang, dan apa yang sebaiknya dikembalikan ke alam. Ketika Amatus mengatakan bahwa ikan-ikan kecil dilepaskan agar tumbuh lebih dahulu, yang tampak bukan sekadar teknik memilih hasil tangkapan, melainkan suatu ukuran tentang cukup. Mengambil untuk kebutuhan hari ini tanpa menutup kemungkinan kehidupan bagi hari esok.
Menurut Amatus, cara hidup semacam itu telah dijalankan turun-temurun sejak generasi para leluhur mereka. Karena itu, apa yang kini kita kenal melalui bahasa konservasi dan keberlanjutan, bagi masyarakat Atuka tidak selalu hadir sebagai konsep baru yang harus diperkenalkan dari luar; sebagian telah lama dipraktikkan sebagai bagian dari hubungan sehari-hari mereka dengan mangi-mangi, air, dan sumber kehidupan.
Foto utama: Celah-celah aliran sungai kecil di hutan mangrove tempat warga Atuka mencari ikan, udang dan karaka (kepiting bakau) (Foto: Penulis)