Di Kampung Kapatcol, Distrik Misool Barat, Raja Ampat, laut tidak hanya tempat mencari makan. Selama setahun penuh, perairan di sisi barat kampung itu dibiarkan tanpa panen. Pada 25 Maret 2024, para perempuan kampung mulai menyelam kembali di wilayah kelola mereka, menandai upacara buka sasi laut, seperti dilaporkan Betahita. Mereka tergabung dalam Kelompok Perempuan Waifuna, yang dipimpin Mama Almina Kacili.
Apa Itu Sasi?
Sasi adalah sistem adat untuk mengelola sumber daya alam di wilayah tertentu yang disepakati bersama, di darat maupun di laut. Tradisi ini masih banyak dijalankan di Indonesia bagian timur, menurut YKAN. Sasi laut memuat aturan tidak tertulis tentang wilayah tangkap, alat, jenis target, serta waktu dan lokasi penangkapan.
Saat sasi ditutup, hasil laut tidak boleh diambil. Lamanya bergantung pada kesepakatan kelompok dan perangkat kampung, dari tiga hingga 12 bulan, sedangkan Waifuna menerapkan satu tahun. Secara historis, wilayah sasi dikelola laki-laki. Di Kapatcol, pengelolanya perempuan.

Hari Buka Sasi: Doa, Persembahan, dan Menyelam
Sasi punya dua tahap: penutupan, ditandai papan pengumuman, dan pembukaan untuk memanen. Pembukaan dimulai dengan ibadah di gereja. Setelah itu perwakilan gereja, pemerintah kampung, tokoh adat, dan warga naik perahu motor sekitar setengah jam menuju lokasi sasi. Upacara ditandai pelarungan pon fapo, persembahan bagi leluhur, lalu pencabutan papan sasi.
Para mama kemudian menyelam, yang disebut molo, sering dengan kacamata selam tradisional dari kayu dan kaca. Di perairan dangkal, warga juga boleh memanen dengan tombak kayu dalam tradisi balobe. Aturannya ketat. Hanya jenis yang disepakati yang boleh diambil, yaitu teripang, lobster, dan lola, dengan batas ukuran: teripang dan lola minimal 15 sentimeter, lobster di atas 6 ons. Panen berlangsung tiga hingga tujuh hari; pada 2024, 25 sampai 28 Maret. Menurut YKAN, tangkapan yang tidak memenuhi ukuran dikembalikan ke laut.
Hasil Laut yang Kembali ke Kampung
Hasil panen dimakan bersama dan sebagian dijual. Uangnya dipakai untuk kegiatan keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta tabungan pendidikan dan kesehatan warga. Antara mencatat dua contoh. Pada 2022, warga bersepakat memakai hasil sasi untuk membantu putra Almina menempuh pendidikan hingga menjadi anggota TNI, yang disebut sebagai putra pertama Kapatcol di sana. Pada 2024, hasil sasi disepakati untuk membantu pengobatan dua anak yang sakit.
Kepala Kampung Kapatcol, Luis Hay, menilai para ibu lebih telaten mengelola sasi. Pendeta Yesaya Kacili mengingatkan bahwa perairan Misool pernah rusak oleh penangkapan ikan dengan bom dan potasium, yang menurutnya mulai berkurang sejak 1999.

Menular ke Kampung Lain, Menunggu Generasi Muda
Keberhasilan Waifuna menginspirasi kelompok Joom Jak Sasi di Kampung Aduwei dan Zakan Day di Kampung Salafen, Misool Utara. Menurut YKAN, ketiganya kini didampingi. Pada April 2026, anggota ketiga kelompok bertemu di Ubud, Bali, untuk bertukar pengalaman, seperti dilaporkan Kompas. Almina, kala itu 63 tahun, ikut hadir sebagai Ketua Sasi Waifuna.
Tantangan berikutnya adalah regenerasi. Almina berharap anak muda Kapatcol ikut mengelola sasi. Salah satu harapan itu ada pada cucunya, Yolanda Kacili, yang bergabung dengan Waifuna pada 2021 dan mengajak perempuan muda lain. Di luar manfaat ekologis, ia melihat sasi sebagai perekat persaudaraan karena warga saling mengalah demi yang paling membutuhkan.
Catatan: Sebagian besar klaim dampak ekologi dan ekonomi berasal dari YKAN, lembaga pendamping Waifuna sejak 2011, dan dari pernyataan tokoh setempat. Antara mencatat sasi bukan sumber utama mata pencaharian warga Kapatcol. Data pemantauan independen soal pemulihan populasi biota belum saya temukan, sehingga dampak ekologisnya sebaiknya dibaca sebagai klaim pendamping, bukan hasil kajian terpisah.
Tahukah Kamu?
- Waifuna berarti berkah dari Tuhan dalam bahasa setempat.
- Menyelam tanpa alat modern untuk mengambil hasil laut disebut molo, sedangkan berburu dengan tombak kayu di perairan dangkal disebut balobe.
- Teripang dan lola baru boleh dipanen jika panjangnya minimal 15 sentimeter.
- Wilayah sasi Waifuna naik dari 32 hektare menjadi 213 hektare pada 2019.
Warisan yang Layak Dijaga
Waifuna menunjukkan bahwa menjaga laut tidak harus lewat larangan dari luar. Ia bisa tumbuh dari adat, gereja, kampung, dan kerja sabar para mama yang menutup laut, menunggu setahun, lalu membaginya untuk kepentingan bersama. Agar tradisi ini bertahan, dukungan bagi regenerasi dan hak kelola perempuan menjadi kunci.
Foto utama: Kelompok Perempuan Waifuna, di Kampung Kapatcol. (Foto: Tri Meilani Ameliya/Antara News)