Kontainer Jatuh dan Cemari Lautan, Jala Ina Desak Perusahaan Tanggung Jawab

Kontainer Jatuh dan Cemari Lautan, Jala Ina Desak Perusahaan Tanggung Jawab

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Ambon, 30 Maret 2023 – Ratusan ikan ditemukan mati akibat Insiden jatuhnya sebuah kontainer dari KM Dorolonda, di Pelabuhan Laut Namlea, Kabupaten Buru saat aktivitas bongkar muat, Selasa (28/3/2023) lalu. Direktur Eksekutif Jala Ina, M Yusuf Sangadji mendesak perusahaan bertanggung jawab atas tercemarnya wilayah sekitar pelabuhan.

Kontainer yang jatuh dan meracuni ratusan ikan itu diduga berisi barang kimia berbahaya. Dari kesaksian warga yang ditemui Jala Ina di lokasi kejadian, bau menyengat memang tercium pasca jatuhnya kontainer itu. Dugaan sementara, kontainer berisi bahan kimia berbahaya yang akan digunakan untuk tambang emas di Gunung Botak.

“Perusahaan harus bertanggung jawab atas pencemaran yang terjadi. Mereka harus memulihkan wilayah yang tercemar. Mengapa? Karena kondisinya berpotensi
membahayakan masyarakat yang tinggal di sekitar pelabuhan. Kita tidak bisa memastikan berapa lama zat berbahaya itu mencemari lautan,” kata Yusuf Sangadji, Kamis (30/3/2023).

Kata Yusuf, perusahaan harus bertanggung jawab pada pencemaran lingkungan terutama pada wilayah laut. Ini tertuang dalam Pasal 27 UU Perindustrian dan Pasal 87 Ayat (1) UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (UUPPLH).

“Pemerintah juga harus mengeluarkan respon cepat sebagai perlindungan terhadap biota laut utamanya ikan dan terumbu karang, karena ekosistem tersebut memiliki peran yang signifikan baik terhadap laut maupun mata pencaharian para nelayan di sekitar wilayah pelabuhan,” ujar Yusuf.

Selain itu, Jala Ina juga menyebut peristiwa di Pelabuhan Laut Namlea, hanyalah satu dari sekian banyak kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas tambang di Teluk Kayeli.

Seperti diketahui, tambang emas di Teluk Kayeli, Kabupaten Buru menggunakan merkuri dan sianida, bahan yang diduga dibawa oleh kontainer yang jatuh dan mencemari lautan di pelabuhan Namlea. Yusuf meminta semua pihak tidak melupakan dampak yang terjadi akibat aktivitas tambang yang terbukti merusak ekosistem dan lingkungan di Gunung Botak.

“Peristiwa ini adalah pengingat untuk kita semua terhadap apa yang terjadi di lokasi penambangan. Yang ada di dalam kontainer itu kan dugaannya bahan kimia berbahaya untuk tambang. Bisa dibayangkan, bahan kimia itu sudah bertahun-tahun juga dipakai untuk aktivitas tambang,” kata Yusuf.

Jala Ina juga meminta pemerintah dan pihak Syahbandar mengklarifikasi peristiwa jatuhnya kontainer ini demi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Entah disengaja atau tidak disengaja, baik perusahaan maupun pihak pelabuhan harus terbuka pada publik atas hasil investigasi mereka soal jatuhnya kontainer ini serta siapa dan untuk apa barang di dalam kontainer itu,” ujarnya.

Sebelumnya, ratusan ikan terpantau mati di sekitar perairan Pelabuhan Laut Namlea, Kota Namlea, Kabupaten Buru. Ikan-ikan ini mati setelah sebuah kontainer jatuh ke laut saat proses bongkar muat dilakukan. Dugaan sementara, kontainer berisi bahan kimia berbahaya yang akan digunakan untuk tambang emas di Gunung Botak.

 

Rilis Jala Ina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *