Search
Close this search box.
Search

Mongabay dan Pemuda Sulawesi Lawan Krisis Iklim Mengenalkan Isu Lingkungan Melalui Zine di Festival Media 2025

Mongabay dan Pemuda Sulawesi Lawan Krisis Iklim Mengenalkan Isu Lingkungan Melalui Zine di Festival Media 2025

Mongabay Indonesia bersama Pemuda Sulawesi Lawan Krisis Iklim mengadakan Lokakarya Zine pada 13-14 September 2025. Lokakarya Zine ini merupakan rangkaian kegiatan dari Festival Media yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen di Benteng Rotterdam, Makassar.

Lokakarya Zine dengan tema Cess! Wattunami Ana’ Muda Carita Lingkungan adalah upaya untuk mengkoneksikan anak muda dengan isu lingkungan. Baik secara personal maupun komunitas. Melalui Zine menjadi medium alternatif yang bebas akses dan ekspresif.

Herli, pelaksana Lokakarya Zine menjelaskan jika kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran anak muda terhadap isu lingkungan yang sedang terjadi di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. 

“Kami ingin banyak orang yang semakin aware dan peduli tentang isu lingkungan. Serta saling berbagi cerita, metode, hingga bersolidaritas untuk mencapai keadilan ekologis,” terangnya.

Kegiatan ini melibatkan anak muda dari beragam usia latar belakang dan usia mulai dari siswa, mahasiswa dan pekerja. Hari pertama dilakukan yaitu memperdalam isu lingkungan yang terjadi di Sulawesi Selatan.

Muhammad Riszky, fasilitator hari pertama menjelaskan bahwa memperdalam isu lingkungan merupakan bentuk untuk mengenalkan isu apa saja yang terjadi saat ini. Adapun isu yang dibahas di hari pertama yaitu pangan, kelautan dan pesisir, energi, krisis iklim dan cerita kota hingga hutan masyarakat adat dan keanekaragaman hayati.

“Kami ingin memberikan pengetahuan bagi peserta yang baru mengenal isu lingkungan dan memperdalam pemahaman bagi peserta yang sudah memiliki banyak informasi mengenai isunya,” ujarnya.

Peserta memaparkan hasil diskusi kelompok membahas isu reklamasi. (Foto: Pemuda Sulawesi Lawan Krisis Iklim)

Salah satu peserta, Nisa menerangkan kegiatan ini memberikannya pengetahuan yang baru tentang isu lingkungan. Ia yang masih pelajar SMK di Makassar ini juga menjelaskan jika melalui Lokakarya Zine ini ada banyak informasi yang tidak didapatkan di sekolah dan juga di media sosialnya.

“Hal-hal yang saya dapatkan dan pelajari yaitu saya sadar bahwa banyaknya isu lingkungan disekitar kita. Bagaimana orang-orang yang tidak mendapatkan haknya dan bagaimana seharusnya peran kita dalam membantu menyuarakan isu tersebut,” ujarnya.

Dari Ide ke Karya Zine

Pada hari kedua, peserta diajak untuk praktik pembuatan zine setelah mendapatkan pengetahuan isu lingkungan pada hari pertama. Mulai dari pagi hingga sore hari antusiasme peserta terlihat dari beragamnya karya yang dibuat.

Tercatat beberapa karya yang dibuat yaitu lukisan, kolase, esai, dan puisi. Ratu, salah satu peserta menjelaskan jika kegiatan ini memberikan perspektif baru untuk mengenalkan isu lingkungan kepada banyak orang.

“Lewat tulisan, potongan gambar, dan lokakarya zine bersama teman-teman dari Pemuda Sulawesi Lawan Krisis Iklim, kami banyak berdiskusi dan merefleksikan situasi krisis iklim, khususnya di Sulawesi Selatan,” ujarnya.

“Di sini saya menuangkan ide dan harapan tentang bagaimana seharusnya kita menjaga bumi bersama,” tambah Ratu, dari Komunitas Baine.

Hasil karya yang dibuat oleh peserta Lokakarya Zine. (Foto: Pemuda Sulwesi Lawan Krisis Iklim)

Sementara itu Arham turut mengapresiasi Lokakarya Zine yang dilakukan. Menurutnya ragam karya yang dituangkan dalam Zine memberikan kontribusi untuk bersuara terkait krisis iklim.

“Lokakarya ini luar biasa, saya belajar banyak, bisa mengekspresikan ide, kreativitas dan cerita tentang suara-suara yang terpinggirkan dan tertindas bahwa krisis iklim adalah krisis kemanusiaan, mesti kita suarakan bersama,” terangnya.

Herli juga menambahkan jika kegiatan Lokakarya Zine ini memberikan kesadaran dan keterlibatan orang muda tentang isu lingkungan.

“Dokumentasi isu lingkungan tidak terbatas pada satu medium melainkan banyak sebagai bentuk kebebasan dan keragaman berekspresi,” ujar Herli, yang juga merupakan Dinamisator Pemuda Sulawesi Lawan Krisis Iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *