Search
Close this search box.
Search

Upaya Selamatkan Hiu dan Pari di Inanwatan

Upaya Selamatkan Hiu dan Pari di Inanwatan

Di Distrik Inanwatan, Sorong Selatan, aktivitas melaut merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir. Setiap hari, para nelayan turun ke laut untuk mencari udang, terutama jenis udang banana (Penaeus merguiensis), yang menjadi salah satu sumber penghidupan utama.

Untuk menangkap udang, nelayan biasanya menggunakan jaring insang tiga lapis atau trammel net. Namun, penggunaan alat tangkap ini tidak hanya menangkap udang. Berbagai jenis biota laut lainnya kerap tidak sengaja  tertangkap, termasuk ikan hiu dan pari.

Di Inanwatan, hiu dan pari umumnya tidak memiliki nilai jual di pasar lokal maupun di tengah masyarakat. Karena itu, dua biota laut tersebut sering kali tidak dimanfaatkan.

Beberapa jenis hiu dan pari yang tercatat tertangkap dan berhasil diidentifikasi oleh tim lapangan EcoNusa antara lain pari burung (Rhinoptera javanica), pari pasir (Dasyatis parvonigra), pari (Himantura uarnak), pari (Aetomylaeus nichofii), dan pari (Glaucostegus typus). Sedangkan untuk jenis hiu, di antaranya adalah hiu sutra (Carcharhinus falciformis) dan hiu martil (Sphyrna lewini).

Meski sering dianggap tidak bernilai ekonomis, hiu dan pari sebenarnya memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistem laut. Hiu, misalnya, dikenal sebagai predator puncak dalam rantai makanan. Keberadaannya membantu mengatur populasi organisme lain di laut sehingga menjaga keseimbangan ekosistem.

Jika populasi hiu menurun atau terancam, keseimbangan alami dalam ekosistem laut dapat terganggu. Hal ini pada akhirnya juga dapat berdampak pada keberlanjutan sumber daya perikanan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat pesisir.

Nelayan mengambil tangkapan yang terjaring. (Foto: Econusa)

Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan berbagai kebijakan untuk melindungi beberapa spesies hiu dan pari yang terancam punah. Melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, sejumlah regulasi telah diterbitkan untuk membatasi pemanfaatan bahkan memberikan perlindungan penuh bagi beberapa spesies tertentu.

Namun, perlindungan spesies laut tidak hanya bergantung pada kebijakan. Peran masyarakat, khususnya nelayan, menjadi sangat penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Karena itu memperkuat kesadaran tersebut melalui pendekatan pendampingan kepada kelompok nelayan. Tim lapangan Yayasan Econusa di Inanwatan melakukan edukasi terkait hal ini. Nelayan diperkenalkan pada peran ekologis hiu dan pari, sekaligus pentingnya menjaga keberadaan mereka di alam.

Edukasi ini juga membantu nelayan memahami bagaimana bersikap ketika hiu atau pari tertangkap secara tidak sengaja di jaring mereka.

Langkah yang dianjurkan sebenarnya sederhana namun penting dilakukan. Ketika jaring diangkat dan terlihat ada hiu dan pari, nelayan diimbau untuk segera melepaskannya kembali ke laut dengan hati-hati agar tetap hidup.

Melalui upaya kecil seperti ini, nelayan tidak hanya menjaga laut tetap sehat, tetapi juga ikut berkontribusi dalam melindungi spesies laut yang semakin terancam. Karena pada akhirnya, keberlanjutan laut juga berarti keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung padanya.

Foto utama: ikan pari yang tertangkap jaring. (Foto: EcoNusa /Abdul Muis)
Artikel ini dimuat oleh Econusa. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *