Search
Close this search box.
Search

Refleksi Hari Kesehatan Mental: Ketika Krisis Iklim Menguji Mental Pesisir Makassar

Refleksi Hari Kesehatan Mental: Ketika Krisis Iklim Menguji Mental Pesisir Makassar

“Deh, panasnya kaue Makassar; 5 Mataharinya ini Makassar; Panas memang tong ini Kota Daeng”

Kalimat di atas hanyalah sebagian kecil dari berbagai keluhan warga Makassar yang dapat baca di media sosial, obrolan di warung kopi bahkan dalam pertemuan ilmiah sekalipun. Nyatanya, cuaca yang panas memang kita rasakan dalam beberapa pekan terakhir.

Suhu yang tinggi membuat kita akan mencari tempat yang sejuk seperti di ruangan yang berAC atau pada ruang terbuka hijau (RTH). Namun, ada hal yang jarang kita sadari. Selain dampak panas terhadap tubuh, dampak lainnya juga terhadap kesehatan mental!

Riset yang dilakukan oleh Lea Baecker bersama 3 peneliti lainnya King’s College London mengungkap fakta yang menarik. Studi yang dipublikasikan pada Journal of Climate Change and Health tahun 2025 ini menjelaskan suhu yang panas sangat terkait dengan gangguan psikologis seperti cemas, stres hingga peningkatan resiko bunuh diri.

Mereka mengungkap jika suhu yang panas dapat memicu kelelahan fisik, dehidrasi hingga gangguan tidur. Hal tersebut memberikan tekanan terhadap sistem saraf manusia yang membuat kita rentan stres. Semakin diperparah lagi dengan kondisi penyakit yang diderita sehingga membuat kita tidak berdaya.

Kelompok rentan yang paling terdampak terhadap kondisi tersebut. Daya tahan tubuh yang rendah pada lansia, anak-anak yang masih dalam proses perkembangan, paparan langsung suhu panas bagi para pekerja di luar ruangan hingga warga yang kurang mampu untuk mengakses pendingin memiliki resiko yang sangat besar.

Kondisi Suhu di Indonesia

Data dari riset tersebut memberikan gambaran bagaimana suhu yang panas sangat berdampak terhadap kondisi psikologis kita. Lantas bagaimana dengan suhu di Indonesia?

Sebuah riset yang dirilis oleh The Guardian menyebut, Indonesia mengalami 122 hari dengan suhu yang berbahaya pada tahun 2024.  Kajian dari Urban Head Stress in Indonesia menganalisis suhu udara dalam rentang tahun 1983 – 2016. Hasilnya menunjukkan sebanyak 14 hari panas ekstrem terjadi di Indonesia setiap tahun.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini merilis suhu udara maksimum dalam rentang 22-29 September 2025. Laporan BMKG menjelaskan jika suhu sering menembus 35-37°C.  Bahkan Makassar mencatat suhu tertinggi di Indonesia yakni 37°C pada 27 September 2025.

Grafik suhu Kota Makassar Bulan Oktober. (Grafis: accuweather.com)

Makassar dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan suhu yang konsisten di atas 30°C. Data dari Weather Spark menunjukkan hingga Agustus – November, rerata suhu di atas 30°C. Terlebih bulan Oktober diperkirakan sebagai bulan terpanas dengan prediksi suhunya di tas 32°C.

Kondisi Makassar yang masuk dalam kota pesisir dapat memperparah kondisi kesehatan mental penduduknya. Penelitian dari Asri Maharani bersama 4 peneliti lainnya yang diterbitkan di Scientific Reports, Nature menjelaskan orang yang tinggal di daerah pesisir memiliki peluang yang lebih tinggi mengalami gangguan psikologis seperti depresi.

Bertindak Atasi Krisis Iklim

Suhu yang panas menjadi salah satu dampak nyata dari krisis iklim. Cuaca ekstrim akibat krisis iklim telah menyebabkan berbagai kerugian yang sangat besar secara global. Data dari World Meteorological Organization (WMO) menyebut dampak dari cuaca ekstrim tersebut menyebabkan 2,1 juta kematian dan kerugian ekonomi mencapai 4,3 triliun dollar selama 5 dekade terakhir.

Sebuah studi meta-analisis yang dilakukan oleh Liu bersama 10 peneliti lainnya menjelaskan terjadi peningkatan 2,2% mortalitas yang disebabkan kesehatan mental pada setiap kenaikan 1°C. Riset yang dipublikasikan di Environment International tahun 2021 juga menjelaskan bahwa gangguan kesehatan ini mengurangi angka harapan hidup hingga 20 tahun.

Melihat kondisi tersebut perlu upaya yang tinggi dan kerja keras serta komitmen berkelanjutan dari berbagai stakeholder untuk mengatasi cuaca ekstrem akibat dari krisis iklim yang telah menyebabkan berbagai gangguan psikologis. Makassar sebagai kota dengan salah satu suhu tertinggi di Indonesia serta letaknya pada daerah pesisir menambah tekanan mental penduduknya.

Ruang terbuka hijau (RTH) memiliki peran sentral untuk mengatasi suhu yang ekstrim. Pohon yang rindang dan menjulang tinggi mampu mengurangi suhu. Namun sayangnya di Makassar sendiri luasan RTH tidaklah terlalu besar.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar menyebut hanya 12,42% pada tahun 2024. Tercatat pada tahun 2022 RTH sebesar, 10,99%, tahun 2023 sebesar 11,74. Walaupun mengalami peningkatan, namun masih jauh dari standar sebesar 30%. Sehingga penting bagi pemerintah untuk memperluas RTH di tengah masifnya pembangunan Makassar saat ini.

Selain itu hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membuat kebijakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan mulai dari evaluasi jumlah kendaraan, mengurangi penggunaan plastik hingga melihat kembali rencana pembangunan PSEL Makassar.

Hal tersebut diperkuat lagi dengan literasi lingkungan dan kesehatan mental. Terakhir adalah memperkuat riset kolaborasi dengan akademisi serta lembaga terkait untuk melihat dampak suhu yang tinggi dengan kesehatan mental.

 

Penulis: Muhammad Riszky (Sekretariat Jaring Nusa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *