Search
Close this search box.
Search

Mikroplastik Ditemukan di Bawah Permukaan Laut Kepulauan Indonesia, Ambon Jadi Titik Tertinggi

Mikroplastik Ditemukan di Bawah Permukaan Laut Kepulauan Indonesia, Ambon Jadi Titik Tertinggi

Penelitian terbaru yang terbit di jurnal Frontiers in Marine Science mengungkapkan bahwa mikroplastik tidak hanya mengapung di permukaan laut, tetapi juga menyebar hingga kedalaman lima meter di perairan kepulauan Indonesia.

Penelitian berjudul Microplastic occurrence in sub-surface waters of the Indonesian archipelago dipublikasikan pada Maret 2024 oleh tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dipimpin oleh M. R. Cordova.

“Selama ini penelitian mikroplastik di Indonesia lebih banyak fokus pada permukaan laut atau sedimen di dasar. Kami ingin melihat apa yang terjadi di lapisan sub-permukaan, karena justru di sana banyak organisme laut hidup,” kata para peneliti.

35 Lokasi, Hampir 1 Juta Liter Air Disaring

Dalam penelitian ini, tim mengambil sampel di 35 lokasi yang tersebar di tujuh wilayah laut Indonesia. Prosesnya dilakukan dengan metode simultaneous pump sampling pada kedalaman lima meter.

“Kami menyaring hampir satu juta liter air laut dan melintasi lebih dari lima ribu kilometer jalur laut. Dari semua sampel, kami temukan mikroplastik ada di mana-mana, tanpa terkecuali,” terang mereka.

Hasil itu menandakan bahwa pencemaran plastik telah meluas, tidak hanya di daerah padat aktivitas manusia, tetapi juga di kawasan terpencil.

Ambon Lebih Tinggi dari Jawa

Yang mengejutkan, konsentrasi tertinggi mikroplastik bukan ditemukan di Jawa bagian utara yang padat penduduk, melainkan di Ambon.

“Kami menemukan bahwa jumlah mikroplastik di Ambon secara signifikan lebih tinggi dibandingkan di Jawa bagian utara,” tulis para peneliti.

Temuan ini mengindikasikan faktor lingkungan turut berperan. “Arus laut di Jawa lebih cepat, sehingga plastik yang masuk bisa segera terdorong keluar. Sementara di Ambon, laju penggantian air lebih lambat, sehingga partikel plastik cenderung menetap lebih lama.”

Serat Pakaian hingga Fragmen Plastik

Dari hasil analisis, lebih dari 52 persen partikel mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat (fiber). Sisanya berupa fragmen yang diduga berasal dari pecahan plastik besar yang terdegradasi.

“Sebagian besar serat ini kemungkinan berasal dari pakaian sintetis, jaring nelayan, atau tali plastik yang terlepas ke laut,” jelas tim peneliti.

Ukuran partikel yang dominan sangat kecil, di bawah 500 mikrometer. “Ukuran ini menunjukkan bahwa sebagian besar adalah mikroplastik sekunder, yaitu plastik besar yang hancur menjadi potongan kecil,” kata Cordova.

Polypropylene hingga PET

Melalui analisis laboratorium dengan µ-Raman spectroscopy, tim menemukan jenis polimer yang paling banyak adalah polypropylene, polyethylene, nylon, dan PET (polyethylene terephthalate). Keempat jenis plastik ini mencakup hampir 70 persen dari semua partikel.

“Ini adalah plastik yang sehari-hari kita gunakan. Kantong belanja, botol minuman, serat kain, dan jaring nelayan, semuanya ada di laut kita dalam bentuk mikroplastik,” ujar Cordova.

Ancaman Bagi Pulau Kecil

Studi ini memberi peringatan keras terutama untuk pulau-pulau kecil di Indonesia. Dengan pengelolaan sampah yang terbatas, sampah plastik lebih mudah masuk ke laut. Begitu terpecah menjadi mikroplastik, partikel ini tak hanya mengapung, tetapi juga menyebar ke lapisan sub-permukaan.

“Partikel mikroplastik di kedalaman lima meter dapat berinteraksi langsung dengan plankton dan ikan. Ini bisa menimbulkan risiko ekologis yang besar,” tulis para peneliti.

Masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut juga bisa terdampak. “Kalau ikan mengonsumsi mikroplastik, maka pada akhirnya partikel ini bisa masuk ke rantai makanan manusia,” jelas Cordova.

“Polusi mikroplastik bukan lagi masalah di permukaan, tapi sudah menembus ke kolom air. Ini harus segera ditangani melalui kebijakan pengurangan plastik sekali pakai, perbaikan sistem pengelolaan sampah, dan konservasi laut,” tulis tim peneliti.

Foto utama: MCC bersama 68 orang relawan mengangkat sampah khusus plastik di pesisir pantai Tita lama, Desa Nusantara, Banda Naira pada September 2024. Dalam waktu 1 jam satu berhasil mengangkat sebanyak 44 karung dengan berat 736,11 Kg. (Foto: RRI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *