Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan bersama Alumni Sekolah Lingkungan Hidup IV Green Youth Celebes meluncurkan buletin khusus berjudul “Anak Muda di Hari Lingkungan Hidup: Fakta Ekologi”. Buletin ini merupakan sebuah refleksi kolektif yang menegaskan bahwa pengetahuan ekologis lahir dari pengalaman hidup mereka yang terdampak langsung oleh krisis iklim.
Meskipun data empiris menunjukkan bahwa 77,4% generasi muda Indonesia menaruh minat tinggi pada isu lingkungan, realitas di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara kesadaran dan tindakan nyata, atau yang dikenal sebagai value-action gap. Fenomena sadar tetapi pasif ini sering kali dipicu oleh eco-anxiety atau kecemasan ekologis, di mana individu merasa krisis lingkungan terlalu besar untuk dihadapi sendirian.
Terkait hal ini, Taufiiqurrahman Yunus, Pimpinan Redaksi Fakta Ekologi, menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam menjaga dan menyarakan kelestarian lingkungan.
“Gerakan lingkungan yang sejati tidak lahir dari kesadaran pasif. Ia bersumber dari keresahan mendalam yang dirawat dengan presisi, kemudian ditransformasikan menjadi arsitektur perubahan yang terstruktur,” ujarnya.
Highlights Tulisan
Salah satu sorotan utama dalam buletin ini adalah kondisi pesisir di Makassar yang kian memprihatinkan. Banyak titik yang seharusnya menjadi ruang rekreasi justru berubah menjadi lokasi pembuangan sampah raksasa, di mana sampah plastik, botol kaca, hingga popok bayi berserakan tanpa pengelolaan yang memadai.

Ironisnya, krisis ini bukan sekadar masalah perilaku masyarakat, melainkan bentuk ketidakhadiran negara dalam menyediakan sistem pengelolaan sampah yang sistematis di wilayah pesisir. Dampaknya sangat nyata; penelitian di TPI Paotere menemukan bahwa hampir 30 persen ikan yang dijual mengandung mikroplastik, yang berarti sampah yang kita buang pada akhirnya kembali ke piring makan kita sendiri.
Generasi muda kini mulai mereposisi peran mereka melalui Green Diplomacy dan diseminasi narasi ilmiah di media sosial. Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk konsumsi konten, tetapi bertransformasi menjadi sarana propaganda isu lingkungan untuk menggalang atensi publik dan memberikan desakan kebijakan kepada pemerintah.
Fatimah Azzahra Akbar dalam tulisannya menambahkan fast fashion telah mengubah cara masyarakat terutama generasi muda dalam memandang pakaian, jika dahulu pakaian dipilih berdasarkan kebutuhan dan ketahanan penggunaannya kini pakaian lebih sering dijadikan simbol identitas, gaya hidup, dan eksistensi sosial.
“Masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar, tetapi juga oleh pilihan sederhana yang kita buat setiap hari. Ketika generasi muda berani mengubah cara mereka tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga menciptakan perubahan bagi bumi yang lebih lestari.”.
Sebagai langkah jangka panjang, terdapat kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan kesadaran dan tanggung jawab ekologis ke dalam profil lulusan dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan lingkungan tidak boleh lagi hanya menjadi materi tambahan, melainkan kompetensi utama untuk membentuk warga negara yang mampu mengambil keputusan secara berkelanjutan.
Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca disini.