Kawasan Timur Indonesia akan melangsungkan dialog global mengenai masa depan energi bersih dunia. Konferensi Internasional bertajuk “International Conference on Energy Transition and Critical Mineral” dengan mengurusng tema utama ‘Melindungi Masa Depan: Kolaborasi Global Mineral Kritis untuk Transisi Energi Berkelanjutan’ dijadwalkan berlangsung pada 14–16 Juli 2026 bertempat di Universitas Hasanuddin dan Hotel Aryaduta, Makassar.
Kegiatan ini diinisiasi koalisi Eastern Indonesia NGOs bertujuan untuk menjawab tantangan perihal rantai pasok global mineral kritis, terutama nikel, yang menjadi komponen kunci baterai kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan.
Indonesia memiliki peran krusial sebagai produsen nikel besar di dunia dengan total sumber daya mencapai 140,3 juta ton dan cadangan sebesar 49,26 juta ton. Dari sumber daya tersebut sebagian besar terkonsentrasi di Kawasan Timur Indonesia, mencakup wilayah Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Papua Barat. Hingga April 2024, tercatat sebanyak 330 Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel telah tersebar di wilayah tersebut.
Namun, di balik masifnya ekstrativisme nikel di Indonesia telah memicu lonjakan penggunaan PLTU Captive batubara, dengan kapasitas yang diproyeksikan mencapai 15.405 MW pada tahun 2025. Selain dampak iklim, ekspansi pertambangan sejak 2019 telah menyebabkan deforestasi, degradasi lahan, pencemaran air, serta ancaman terhadap hak asasi manusia dan keberlangsungan spesies endemik.
Wadah Kolaboratif Demi Keberlanjutan
Rahmat, selaku Ketua Panitia penyelenggara, menegaskan bahwa konferensi ini dirancang untuk menjadi wadah kolaboratif lintas sektor yang tidak hanya membahas aspek ekonomi, tetapi juga keadilan bagi masyarakat terdampak.
“Konferensi ini adalah momentum penting bagi Kawasan Timur Indonesia, untuk menunjukkan bahwa transisi energi tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang justru merusak lingkungan dan mengabaikan hak-hak masyarakat lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini ingin memastikan bahwa narasi mineral kritis bukan hanya soal keuntungan pasar global, melainkan tentang bagaimana kita melindungi masa depan ekosistem dan martabat manusia di garis depan pertambangan.
“Melalui kolaborasi global ini, kami berharap lahir rekomendasi kebijakan yang kuat untuk mendorong industri nikel yang rendah karbon, transparan, dan menjunjung tinggi prinsip HAM,” tegas Rahmat, yang juga merupakan Kepala Advokasi WALHI Sulsel.

Membangun Diskursus Global
Konferensi ini akan menghadirkan beragam perspektif, mulai dari pejabat tinggi negara seperti Menteri PPN/Bappenas, Menteri HAM, hingga diplomat mancanegara. Kehadiran mereka diharapkan dapat menyelaraskan dinamika pasar global dengan kebutuhan perlindungan lingkungan di tingkat tapak.
Selain pihak pemerintah, konferensi ini juga menekankan partisipasi dari masyarakat akar rumput. Perwakilan masyarakat adat dari Tobelo, Karunsi’e, hingga pejuang perempuan dari Pulau Obi akan berbagi realitas kehidupan di sekitar lingkar tambang.
“Terbangunnya komitmen bersama berbagai stakeholder untuk memperkuat advokasi dan implementasi transisi energi berkeadilan di Indonesia,” terangnya.
Isu-isu sensitif seperti keselamatan pekerja, dampak tailing dari teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), hingga perlindungan pembela HAM akan menjadi fokus dalam sesi diskusi tematik.
Penyelenggara menargetkan hasil konrket yakni pemahaman bersama antar pemangku kepentingan mengenai urgensi dekarbonisasi industri di Indonesia Timur. Penguatan jejaring kolaborasi strategis antara aktor lokal, nasional, dan internasional dalam tata kelola mineral kritis.
Selain itu juga perumusan rekomendasi kebijakan strategis yang akan menjadi rujukan bagi pemerintah dan pelaku industri.
“Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah perumusan Naskah Deklarasi Eastern Indonesia sebagai bentuk komitmen bersama untuk memperkuat advokasi dan implementasi transisi energi yang inklusif dan berdaulat,” pungkas Rahmat.
Untuk selengkapnya bisa mengunjungi websitenya di https://eastindonesiacriticalmineral.com/ dan Instagram @ eastindoconference.