Pramuka dan EcoNusa Jaga Ekosistem Mangrove Lewat Badge Challenge

Pramuka dan EcoNusa Jaga Ekosistem Mangrove Lewat Badge Challenge

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Peta Mangrove Nasional 2021 yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan bahwa total luas ekosistem mangrove Indonesia mencapai
3.364.076 hektare atau 20,37 persen dari total luas mangrove dunia. Sementara itu, penelitian Bank Dunia baru-baru ini menemukan bahwa mangrove di Indonesia bernilai rata-rata sekitar US$15.000 sampai $50.000 per hektar.

Meski demikian, ekosistem mangrove banyak yang hilang akibat alih fungsi lahan. Data Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mencatat sekitar 931 ribu hektare hutan mangrove perlu direhabilitasi.

Kwarnas Gerakan Pramuka dan Yayasan EcoNusa berkolaborasi menjaga kelestarian ekosistem mangrove melalui mangrove badge challenge sebagai bagian dari Tanda
Kecakapan Khusus (TKK) bagi anggota Pramuka pada tingkat Siaga, Penggalang, Penegak, hingga Pandega. Tiap anggota Pramuka wajib melewati tantangan (challenge) untuk mendapatkan badge.

“Workshop Modul Belajar Mangrove ini merupakan salah satu cara dalam pendidikan dan pembinaan Gerakan Pramuka terkait upaya pembentukan generasi muda yang peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup,” kata Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Budi Waseso, saat membuka Workshop Modul Belajar Mangrove di area Bumi Perkemahan Cibubur, Selasa, 14 November 2023.

Ketua Kwarnas Pramuka Budi Waseso (Foto: Econusa)

DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Tangerang Kota, Bekasi, Depok, dan Provinsi Maluku adalah Kwartir Cabang dan Kwartir Daerah yang ditugasi untuk uji coba mangrove badge challenge. Setelah masa uji coba, mangrove badge challenge akan diimplementasikan di seluruh Indonesia pada 2024-2025 oleh lebih dari 25 juta anggota Pramuka.

Selanjutnya, Kwarnas Gerakan Pramuka berencana mengajukan badge mangrove tersebut ke tingkat dunia melalui beberapa tahap pada 2025 hingga 2028. Jika semua berjalan lancar, mangrove badge ini akan menjadi badge pertama yang diusulkan oleh Pramuka Indonesia ke Asia-Pacific Scout Region, World Organization of the Scout Movement.

Budi menyampaikan, mangrove badge challenge merupakan bagian dari upaya melestarikan lingkungan hidup yang menjadi tujuan Gerakan Pramuka. Menurutnya, baik dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka maupun di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, pelestarian lingkungan hidup dinilai sangat penting.

Ia menambahkan, hutan mangrove dapat mencegah dan mengurangi pemanasan global. Jika hutan mangrove hilang, pemanasan global berpotensi meningkat.

“Dengan adanya hutan mangrove, niscaya manusia dapat memiliki kehidupan yang lebih aman, nyaman, dan sejahtera,” ujarnya.

Para peserta menunjukkan modul buku saku mangrove badge challenge (Foto: Econusa)

Pada kesempatan yang sama, CEO Yayasan EcoNusa, Bustar Maitar, mengatakan mangrove badge challenge merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antara Yayasan EcoNusa dengan Kwarnas Gerakan Pramuka pada 2022.

Mangrove Indonesia mampu menyimpan 3,14 miliar ton karbon dioksida atau sepertiga dari stok karbon pesisir dunia, sehingga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim global.

“Hutan mangrove memiliki kemampuan tiga kali lebih besar dalam menyerap gas rumah kaca dibanding hutan tropis. Mangrove juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir. Masyarakat bisa menangkap ikan, kepiting, hingga kerang dari ekosistem tersebut,” katanya.

Bustar berharap mangrove badge challenge ini bisa menjadi wadah anggota Pramuka untuk melakukan aksi besar menjaga kelestarian lingkungan.

“Ini sesuai dengan tujuan Gerakan Pramuka agar setiap anggotanya menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup, juga sejalan dengan misi Yayasan EcoNusa dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *