Spesies Air Paling Rawan Perubahan Iklim

Spesies Air Paling Rawan Perubahan Iklim

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Peneliti menyebut perubahan iklim berdampak signifikan terhadap beragam spesies yang hidup di air. Dampak tersebut bahkan bisa mengakibatkan penurunan populasi.

“Spesies-spesies yang hidup di lingkungan air menjadi salah satu yang pertama merasakan dampak dari perubahan iklim,” kata Amir Hamidy, Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam acara Media Lounge Discussion, di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (28/2/2024).

Contohnya, seperti yang diduga dialami oleh katak merah (Leptophryne cruentata)–spesies katak yang hanya ditemukan Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Amir menjelaskan, hasil pemantauan selama 40 tahun, yang dilakukan oleh para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lembaga terkait, menunjukkan distribusi katak tersebut mengalami penurunan, menjauhi ketinggian yang biasanya mereka tempati.

Hal tersebut dinilai ada hubungannya dengan perubahan suhu yang terjadi di daerah itu, serta perubahan siklus reproduksi yang berdampak pada waktu berkembangbiaknya katak merah.

Amir menguraikan, imbas dari perubahan ini adalah adanya spesies-spesies yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan iklim, namun ada juga yang tidak mampu bertahan, terutama saat terjadi perubahan iklim secara ekstrem. Sebagai contoh, perubahan siklus air akan berdampak langsung pada perilaku reproduksi spesies-spesies tersebut.

“Imbasnya bagaimana? Ada spesies yang bisa survive (bertahan), ada spesies yang tidak bisa survive. Yang khawatir itu adalah ketika spesies-spesies ini tidak bisa survive dengan perubahan iklim yang sangat ekstrem,” katanya.

Contoh nyata lainnya, dari dampak perubahan iklim terhadap spesies adalah penurunan populasi katak panama di berbagai belahan dunia akibat kenaikan suhu dan perubahan lingkungan lainnya.

Amir mengaku juga mengamati secara langsung perubahan perilaku katak ketika suhu turun secara signifikan, yang menunjukkan perbedaan metabolisme yang signifikan antara spesies yang berdarah panas dan berdarah dingin.

“Ada perubahan yang saya amati dari perilaku katak ketika suhu itu turun 4 derajat. Jadi benar-benar secara fisiologi mungkin karena kita manusia adalah berdarah panas,” tutur Amir.

“Jadi, metabolism kita ini stabil. Tapi bagi fauna-fauna yang berdarah dingin, itu langsung drop metabolism-nya. Jika suhunya melebihi toleransi dia, dia akan mati. Sama halnya ketika panas,” imbuhnya.

Amir mengatakan, pemahaman akan dampak perubahan iklim terhadap spesies-spesies ini sangat penting untuk upaya konservasi dan perlindungan biodiversitas. Langkah-langkah mitigasi yang tepat perlu dilakukan untuk meminimalkan dampak negatifnya terhadap ekosistem dan kehidupan berbagai spesies di bumi ini.

Foto utama: Philoria knowlesi yang baru ditemukan, katak gunung yang sudah terancam punah yang menyebut rumah hutan hujan Gondwana Queensland./Foto: The Guardian

Artikel ini terbit di betahita.id. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *