Sungai Indonesia Banjir Mikroplastik

Sungai Indonesia Banjir Mikroplastik

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Tahun 2022 permasalahan lingkungan di Indonesia, salah satu yang sering menjadi perhatian masyarakat adalah sampah plastik di Indonesia. Terbukti dengan ditemukannya partikel mikroplastik dari beberapa komponen kehidupan, mulai dari udara, air, ikan bahkan mikroplastik telah teridentifikasi pada darah manusia, ASI dan paru-paru.

Namun permasalahan tersebut tidak menghentikan kegiatan produksi plastik yang masih berlangsung, bahkan ada lagi permasalahan WTE (Waste to Energy) yaitu mengubah sampah plastik menjadi energi namun hal ini dapat melepaskan mikroplastik beserta bahan beracun plastik ke lingkungan.

Ecoton dalam rilisnya mengungkap jika tahun 2022 sungai di Indonesia dibanjiri mikroplastik. Data tersebut dikumpulkan oleh Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) 2022 yang menguji kandungan mikroplastik di 68 sungai strategis nasional di 24 provinsi di Indonesia.

Bila dirangking, lima provinsi yang teratas dengan kontaminasi partikel mikroplastik tertinggi yaitu, Jawa Timur ditemukan 636 partikel/100 liter, Sumatera Utara ditemukan 520 partikel/100 liter, Sumatera Barat ditemukan 508 partikel/100 liter, Bangka Belitung 497 partikel/100 liter, Sulawesi Tengah 417 partikel/100 liter.

sumber: Ecoton

“Mikroplastik ditemukan hampir di seluruh sungai Indonesia, hanya di sumber air Way Sekampung, dan daerah hulu provinsi Bengkulu tepatnya di Desa Rindu Hati tidak ditemukan mikroplastik,” ujar Rafika Aprilianti, peneliti Ecoton. b

Bahwa mikroplastik dalam air sungai akan mengancam kesehatan manusia. karena 84% bahan baku air minum penduduk Indonesia berasal dari air permukaan, maka diperlukan upaya pengendalian sumber mikroplastik yang dibuang ke sungai dari sampah plastik dan limbah industri khususnya pabrik kertas dan tekstil.

sumber: Ecoton
  • Serat (Fibre) 49,20%, sumbernya dari degradasi kain sintetis akibat kegiatan rumah tangga mencuci kain, laundry dan juga limbah industri tekstil. Serat juga disebabkan oleh limbah kain yang tersebar di lingkungan yang terdegradasi akibat proses alam;
  • Film/Filament 25,60%, berasal dari degradasi sampah plastik sekali pakai (kantong plastik, botol plastik, dan kemasan plastik Single layer (SL));
  • Fragmen 18,60%, berasal dari degradasi sampah plastik sekali pakai jenis (kemasan ML multilayer sachet, tutup botol, botol shampo dan sabun);
  • Pellet merupakan mikroplastik primer yang langsung diproduksi oleh pabrik sebagai bahan baku pembuatan produk plastik;
  • Foam merupakan hasil dari degradasi setiap jenis plastik dengan struktur foam (berbusa), misalnya dari styrofoam atau plastik lainya meliputi poliestirena (PS), polietilena (PS) atau polivinil klorida (PVC).

 

Meningkatnya timbulan sampah menandakan banyak sampah plastik yang bocor ke lingkungan, tempat pembuangan sampah yang kelebihan muatan di setiap daerah dan terjadi pencemaran mikroplastik di 68 sungai Indonesia yang tersebar di 24 provinsi di 9 pulau di Indonesia.

Masalah yang disebabkan oleh mikroplastik lebih besar dari yang biasanya diperkirakan, sehingga dinilai berbahaya dan mengancam keberlangsungan makhluk hidup. Perlu adanya kebijakan dan strategi untuk menyelesaikan masalah persampahan dan tata
kelola sampah.

 

Sumber: Ecoton

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *