Search
Close this search box.
Search

Tutupan Mangrove Indonesia Menyusut, Berbagai Tekanan Terus Terjadi

Tutupan Mangrove Indonesia Menyusut, Berbagai Tekanan Terus Terjadi

Indonesia memiliki salah satu tutupan mangrove terluas di dunia sekitar 3,4–3,44 juta hektar menurut peta nasional terbaru yang dikutip dari The State of The World’s Mangroves 2024. Mangrove ini menyebar di hampir semua provinsi pesisir dan memainkan peran krusial bagi ketahanan pesisir, mata pencaharian nelayan kecil, serta penyimpanan karbon alami yang besar.

Mangrove, dalam banyak diskusi, sering diperlakukan seperti objek mati. Ia diukur, dipetakan, dihitung cadangan karbonnya, lalu dijadikan argumen pembangunan berkelanjutan. Padahal, kerusakan mangrove bukan hanya persoalan ekologi. Mangrove menjadi cermin dari kondisi psikologis kita sebagai masyarakat yaitu cara kita memandang waktu, keuntungan, rasa aman, dan relasi dengan alam.

Riset yang dilakukan oleh Virni Budi Arifanti bersama 5 peneliti lainnya tahun 2022 menunjukkan bahwa dalam periode 2009–2019 terjadi deforestasi sekitar 182.091 ha mangrove di Indonesia. Riset yang dipublikasikan di onlinelibrary.wiley.com menjelaskan bahwa konversi lahan untuk tambak (akuakultur), perluasan lahan pertanian, pembangunan pesisir, serta pencemaran adalah penyebab utama. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun laju kehilangan global melambat, tekanan lokal tetap tinggi.

Sebagai contoh, di Kuri Caddi, Kabupaten Maros tambak menjadi salah satu penyebab mangrove dibabat. Berdasarkan pemberitaan dari detik.com, Kawasan hutan lindung mangrove di kawasan Pantai Kuri Caddi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) ternyata dibabat sejak awal 2024.

Tim Unit Tipidter Polres Maros melakukan penyidikan di lokasi pembabatan mangrove seluas 6 hektare yang kini diubah menjadi empang. (Foto: Reinhard Soplantila/detikSulsel)

Lahan yang diduga dibabat warga berinisial AM itu kemudian diubah menjadi empang hingga dicurigai telah mengantongi sertifikat hak milik (SHM). Namun faktanya adalah SHM-nya itu tahun 2009. Pemeriksaan dari ahli tata ruang bahwa lokasi tersebut pada 2012 masuk dalam kawasan ekosistem lindung mangrove.

Mengapa kehilangan mangrove berbahaya?

  1. Kerugian ekosistem dan biodiversitas. Mangrove adalah habitat penting bagi banyak spesies ikan, crustacea, dan burung.

  2. Dampak sosial-ekonomi. Berkurangnya area mangrove menurunkan produktivitas perikanan dan pendapatan komunitas pesisir.

  3. Emisi karbon. Konversi mangrove melepaskan karbon tersimpan di biomassa dan tanah gambut pesisir. Studi mencatat emisi signifikan ketika mangrove dikonversi, sehingga kerugian mangrove juga berdampak pada target iklim.

Peran Masyarakat Pesisir

Meski telah memiliki peta mangrove nasional dan berbagai regulasi, tantangan utama masih terletak pada tata kelola di tingkat lokal. Tumpang tindih kewenangan, lemahnya pengawasan, dan kepentingan ekonomi jangka pendek sering kali mengalahkan upaya perlindungan mangrove.

Di sejumlah wilayah, masyarakat pesisir justru menjadi aktor kunci dalam menjaga mangrove. Praktik pengelolaan berbasis komunitas, seperti sistem buka-tutup wilayah tangkap dan larangan penebangan mangrove, terbukti mampu menjaga ekosistem sekaligus mendukung ekonomi lokal.

Direktur Eksekutif Yayasan Bonebula, Andi Anwar saat memberikan penjelasan target kegiatan dalam launching kegiatan. (Foto: YKL Indonesia)

Di Donggola, Sulawesi Tengah masyarakat bahu membahu merestorasi mangrove di sepanjang pesisirnya. Hal itu tidak terlepas dari manfaat dari mangrove sebagai benteng alami saat terjadinya peristiwa tsunami pada tahun 2018. Yayasan Bobenula dan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia mendampingi warga untuk menanam, memperluasan tutupan mangrove.

Nirwan Dessibali Direktur Eksekutif YKL Indonesia jika terdapat enam desa yang telah menjadi sasaran untuk memulihkan mangrove.

“Kami percaya kekuatan aksi lokal. Enam desa ini telah melalui tahapan panjang, studi pustaka, pemetaan partisipatif, hingga pengesahan rencana rehabilitasi yang clear and clean. Ini bukan hanya soal teknik, tapi juga membangun rasa kepemilikan masyarakat terhadap kawasan mangrove mereka,” ujarnya yang dikutip dari Jaring Nusa pada peringatan Hari Mangrove Sedunia 2025.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada rehabilitasi, tetapi juga pada tahapan penting seperti monitoring, evaluasi, dan perawatan selama dua tahun ke depan. Data pertumbuhan akan dikumpulkan secara berkala untuk memastikan keberhasilan rehabilitasi dan menjadi dasar pembelajaran untuk wilayah lain.

Foto utama: Peserta melihat lebih dekat upaya rehabilitasi mangrove di Kuri Caddi dengan menggunakan perahu warga. (Foto: Jaring Nusa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *