Indonesia terdaftar sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau yang dilaporkan mencapai 17.508. Bagi Indonesia, peran pulau-pulau kecil terluarnya menandai batas terluar wilayah maritim negara dan memainkan peran kunci dalam keamanan nasional dan hubungan internasional.
Namun sebagai negara kepulauan, Indonesia terus menghadapi resiko bencana akibat krisis iklim dan tekanan lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Harahap, Masselink, dan Boulton (2025) menunjukkan bahwa pulau-pulau kecil tidak hanya terpapar satu jenis ancaman, tetapi menghadapi multi-hazard risk secara bersamaan.
Jurnal yang dipublikasikan International Journal of Disaster Risk Reduction menganalisis pulau-pulau kecil terluar di Indonesia dengan melihat berbagai faktor seperti tingkat paparran wilayah, bahaya alam dan kerentaran sosial dan lingkungan. Dalam paparannya menjelaskan bahwa pulau dengan elevasi rendah, garis pantai terbuka dan ekosistem pesisir yang terdegradasi memiliki resiko yang tinggi terhadap abrasi, banjir rob dan gelombang ekstrem.
“Keberadaan penghalang alami seperti hutan bakau, terumbu karang, dan padang lamun meningkatkan ketahanan inheren pulau-pulau tersebut, meskipun rencana pembangunan yang sedang berlangsung untuk pulau-pulau kecil terpencil mengancam keberadaan ekosistem ini,” terangnya.

Pulau -pulau kecil terluar Indonesia berfungsi sebagai penanda batas luar negara dan memengaruhi luas wilayahnya. Terdapat 42 pulau kecil terluar berpenghuni dan 69 pulau kecil terluar tak berpenghuni. Pulau terluar berpenghuni terkecil adalah Pelampong (6) di perbatasan Singapura dan Indonesia, dengan luas hanya 0,01 km² . Pulau terluar berpenghuni terbesar adalah Kolepom (24) di perbatasan Australia dan Indonesia, dengan luas 11.665 km².
Penelitian tersebut menganalisis risiko pesisir di pulau-pulau kecil terluar Indonesia dengan menggabungkan faktor bahaya alam, tingkat paparan wilayah, serta kerentanan sosial dan lingkungan. Hasil riset menunjukkan bahwa pulau dengan elevasi rendah, garis pantai terbuka, dan ekosistem pesisir yang terdegradasi memiliki tingkat risiko yang jauh lebih tinggi terhadap abrasi, gelombang ekstrem, dan banjir pesisir.
“Setiap wilayah pesisir di seluruh dunia rentan terhadap bahaya, yang berpotensi menyebabkan kerusakan ekosistem, hilangnya nyawa, dan kerugian finansial atau sosial yang signifikan,” tulis peneliti.
Di wilayah KTI, kondisi ini terlihat jelas di sejumlah pulau kecil seperti pulau-pulau di Spermonde (Sulawesi Selatan), Pulau Rote (Nusa Tenggara Timur), serta pulau-pulau kecil di Maluku dan Maluku Utara. Di kawasan tersebut, abrasi pantai dan gelombang laut ekstrem semakin sering terjadi, sementara naiknya muka air laut meningkatkan risiko banjir rob dan hilangnya daratan.

Penilaian lokal terhadap tren permukaan laut di setiap lokasi mengungkapkan bahwa pulau-pulau di bagian utara Papua yang menghadap Samudra Pasifik Barat, seperti Bras, Befondi, dan Liki, diidentifikasi memiliki tren permukaan laut tertinggi.
“Tren kenaikan permukaan laut di wilayah ini mencapai 5,05 mm/tahun, yang lebih tinggi dari tren permukaan laut rata-rata di Indonesia sebesar 4,68 mm/tahun,” terang peneliti.
Di Pulau Rote, misalnya, beberapa desa pesisir mulai mengalami penyempitan garis pantai yang berdampak langsung pada permukiman dan lahan produktif warga. Sementara di gugusan Spermonde, nelayan di pulau-pulau kecil menghadapi kesulitan melaut lebih sering akibat cuaca ekstrem, ekosistem terumbu karang yang rusak sehingga berdampak pada ketahanan ekonomi rumah tangga.
Temuan dari analisis ini menunjukkan bahwa adaptasi risiko pesisir yang efektif untuk pulau-pulau kecil terpencil harus mengadopsi pendekatan multi-sektoral.
“Pendekatan ini tidak hanya harus mengatasi risiko bencana langsung, tetapi juga tantangan jangka panjang yang ditimbulkan oleh berbagai bahaya berantai, pertumbuhan paparan, dan dinamika kerentanan,” pungkas peneliti.