Terasi kepala udang kini menjadi sumber penghasilan baru bagi mama-mama di Distrik Inanwatan, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya. Bahan yang sebelumnya dibuang sebagai limbah kini diolah menjadi bumbu masakan bernilai jual dan dipasarkan hingga ke Sorong.
Mama Alfonsina Ginuny mengatakan, mereka mulai memproduksi terasi sejak pertengahan 2024. Hingga akhir 2025, kelompok tersebut telah menghasilkan puluhan kilogram terasi kepala udang. “Ada 50 kilogram terasi, sebagian besar dibawa ke Sorong, ada juga yang dijual ke perusahaan,” katanya saat ditemui dalam Pertemuan Mitra Koperasi: Peningkatan Resiliensi Masyarakat Lokal melalui Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan di Indonesia Timur, di Sorong, Selasa, 24 Februari 2026.
Kelompok mama-mama itu mulai membuat terasi setelah mendapatkan pelatihan dari Yayasan EcoNusa. Selain belajar teknik produksi, mereka juga menerima dukungan peralatan, seperti mesin penggiling (chopper), blender, kompor, dan pisau.
“Dulu juga pernah ada pelatihan dari dinas. Tapi mereka hanya datang memberi pelatihan lalu langsung pulang. Kami tidak bisa praktik karena tidak punya alat-alat,” ujarnya.
Setelah mendapatkan dukungan peralatan, mama-mama langsung memproduksi terasi. Kepala udang hasil tangkapan dibersihkan, kemudian dihaluskan dan dicampur dengan bumbu tradisional, seperti bawang merah dan bawang putih. Setelah itu, adonan diawetkan menggunakan garam dan difermentasi selama satu hingga dua hari.

Proses fermentasi dilakukan secara higienis. Pada tahap penjemuran dan penyimpanan, produk dibungkus dengan kertas bersih dan dilakukan pengeringan berulang untuk menjaga kualitas serta mencegah gangguan mikroorganisme lain.
Hasil produksi mama-mama kemudian dibawa ke Rumah Produksi SIKIM di Sorong untuk dikemas dan dipasarkan. Salah satu titik penjualannya berada di Doberai Gallery and Lounge di Bandara DEO Sorong. Selain melalui SIKIM, mama-mama juga menjual langsung produk mereka. “Pernah juga jual ke perkebunan,” kata Alfonsina.
Penjualan terasi tersebut membuat mama-mama merasa lebih berdaya karena mampu menghasilkan pendapatan tambahan. Uang yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian, seperti membeli bahan dapur.
Manajemen Keuangan
Dari 50 kilogram terasi kepala udang yang terjual, kelompok memperoleh pendapatan sekitar Rp1,9 juta. Uang tersebut tidak langsung dibagikan kepada anggota, melainkan dimasukkan ke kas kelompok. “Separuh untuk kas, sisanya untuk belanja bahan dan dibagikan ke anggota,” ujar Mama Frederika Kewesare
Menurut Ferderika, sistem manajemen keuangan itu dipelajari dari pendamping EcoNusa. Dengan cara tersebut, mereka dapat menjaga keberlanjutan produksi karena modal untuk membeli bahan tetap tersedia.
Foto utama: Mama-mama buat terasi dari kepala udang. (Foto: EcoNusa)
Artikel ini dipublikasikan oleh EcoNusa. Baca artikel sumber.