Sebanyak 35 relawan yang terdiri dari pemuda, mahasiswa, dan warga lokal menggelar aksi kebersihan pesisir bertajuk “Aksi Untuk Bumi” di Pantai Kelurahan Gambesi, Kota Ternate, pada Sabtu, 3 Oktober 2026, mulai pukul 08.30 hingga 10.00 WIT. Inisiatif kolaboratif ini digerakkan oleh Kaum Muda Pencinta Alam (KMPA) Estuaria Maluku Utara bersama Perkumpulan Pakativa, serta didukung oleh Grand Demokrasi Institut Maluku Utara, Arsipala, Mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Khairun (Unkhair), dan masyarakat Kelurahan Gambesi.
Aksi ini difokuskan pada pembersihan dan pengumpulan sampah plastik yang berserakan di sepanjang pesisir pantai, khususnya di kawasan ekosistem hutan mangrove Gambesi.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama satu setengah jam tersebut, para peserta berhasil mengumpulkan sebanyak 52 karung sampah berukuran besar. Berdasarkan identifikasi jenis sampah di lokasi, material yang mendominasi adalah kemasan minuman plastik, wadah styrofoam, dan pakaian bekas, di samping botol plastik, jeriken, serta berbagai sisa limbah rumah tangga. Sampah-sampah ini ditemukan berserakan di pasir hitam sekitar perahu nelayan, tersangkut di semak-semak, hingga masuk ke bawah rimbunan dan sela-sela akar mangrove.
Seluruh sampah yang terkumpul langsung diangkut menggunakan armada kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate untuk dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Koordinator Aksi, Nadra, menyampaikan apresiasinya atas dukungan DLH Kota Ternate yang menyediakan armada angkutan sampah sehingga penanganan sampah hasil aksi dapat berjalan cepat dan lancar.
“Dalam aksi ini kami mendapat dukungan dari DLH kota Ternate sebagai penyedia armada angkutan sampah,” ujarnya.
Persoalan sampah di pesisir Gambesi ini mencerminkan tantangan lingkungan yang lebih luas di Kota Ternate. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate tahun 2025, volume sampah yang diangkut oleh petugas kebersihan setiap harinya mencapai 100 hingga 120 ton. Angka tersebut hanya mencakup sampah yang berhasil terangkut, sementara sebagian sampah yang dibuang sembarangan hanyut melalui saluran drainase menuju daratan, pesisir, hingga bermuara di laut.

Kawasan Pantai Gambesi memiliki arti strategis bagi pelestarian lingkungan di Ternate. Lokasi ini merupakan satu-satunya pantai di Kota Ternate yang masih memiliki hutan mangrove alami dengan keanekaragaman lebih dari 3 jenis spesies mangrove. Ekosistem mangrove di Gambesi berfungsi penting sebagai benteng alami penahan abrasi pantai, tempat berkembang biak (spawning ground) berbagai biota laut, serta penyangga utama kehidupan masyarakat pesisir.
Namun, akumulasi sampah plastik yang menumpuk hingga ke area bawah rimbunan mangrove menjadi ancaman nyata bagi pertumbuhan dan keberlanjutan ekosistem tersebut. Jika dibiarkan, pencemaran ini tidak hanya merusak estetika pantai, tetapi juga merusak ruang hidup biota laut serta mengancam sumber penghidupan warga pesisir.
Perwakilan penyelenggara, Suhar, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni pembersihan pantai biasa.
“Pesan kami sederhana, pantai bukan tempat untuk mewariskan sampah, dan laut bukan tempat untuk menumpahkan segala sisa kehidupan kita,” ujar Suhar.
Suhar menekankan bahwa pembersihan pantai harus diimbangi dengan perubahan kebiasaan dari rumah tangga, seperti mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, dan tidak membuang limbah sembarangan. Ia juga berharap pemerintah hadir dengan kebijakan serta pengawasan yang tegas agar kerja keras masyarakat di lapangan tidak sia-sia.
Kegiatan Aksi Untuk Bumi ini mengusung gerakan kampanye dengan tagar #jagakampung, #rawatbudaya, dan #lestarikanalam. Pendekatan ini mencerminkan fokus Pakativa dalam literasi budaya ekologi, di mana menjaga laut dan pesisir merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas dan warisan budaya masyarakat kepulauan Maluku Utara. Sementara itu, KMPA Estuaria memanfaatkan momentum ini untuk membangun kesadaran kolektif serta memperkuat jaringan pemuda dalam mengampanyekan bahaya sampah plastik di Kota Ternate.
Aksi ditutup dengan pembuatan video testimoni kampanye lingkungan oleh seluruh peserta yang menyerukan pesan bersama:
“Kami yang tergabung dalam Aksi Untuk Bumi mengajak seluruh masyarakat Maluku Utara khususnya Kota Ternate untuk menjaga lingkungan dari bahaya sampah plastik, sebagaimana Torang jaga alam, alam jaga Torang,” pungkasnya.
Foto utama: Sebanyak 52 karung sampah berhasil dikumpulkan oleh peserta aksi. (Foto: Pakativa)