Pagi di pesisir Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, dimulai dengan doa. Sebelum perahu bergerak ke laut lepas, para nelayan berkumpul menggelar upacara adat. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, tradisi ini membuka rezeki sekaligus membawa keselamatan bagi mereka yang mencari nafkah di laut, sebagaimana dicatat Tempo. Mereka dikenal sebagai patorani, nelayan yang khusus mencari telur ikan terbang.
Nama patorani merujuk pada kata To-rani, yang bermakna orang yang berani. Patorani adalah nelayan musiman yang waktunya bergantung pada bulan dan musim, dan menempuh perairan yang sangat jauh, mendekati pulau-pulau lain.
Jejak Sejarah: Dari “To Barani” ke Patorani
Menurut catatan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII, tradisi ini diperkirakan muncul sekitar tahun 1672. Tutur yang beredar, seperti dikutip Cita Tanah Mahardika, menyebutkan pasukan laut Karaeng Galesong menangkap banyak ikan terbang saat berlayar. Ketika warga bertanya siapa yang membawanya, dijawab bahwa mereka adalah to barani, pemberani utusan raja. Dari sebutan itu, ikan terbang dikenal sebagai jukuk torani, dan para pencarinya disebut patorani.
Kisah ini bersumber dari tutur lisan, jadi penanggalannya sebaiknya dibaca sebagai perkiraan. Menariknya, nilai telur ikan terbang berubah drastis. Dulu telurnya hanya dipakai sebagai campuran sayur atau dijual murah. Kini ia menjadi komoditas ekspor.
Ritual Sebelum Melaut
Setiap pelayaran dimulai dengan ritual. Menurut Etnis.id, keluarga nelayan menyiapkan sesajian, antara lain pisang raja, kue lapis, telur ayam, serta nasi ketan putih dan hitam. Punggawa kemudian membacakan doa agar hasil tangkapan melimpah.
Bagi warga, upacara ini lebih dari sekadar ritual. Kajian di Desa Palalakang mencatat tradisi ini dipandang sebagai sarana memberi semangat, menyatukan, dan membesarkan semangat para nelayan. Di tengah risiko laut lepas yang sulit diprediksi, adat menjadi pegangan batin sebelum berangkat.

Kerja Sama di Atas Perahu
Di atas perahu, kerja patorani tidak berjalan sendiri. Struktur punggawa (pemimpin kapal) dan sawi (anak buah) mengatur peran masing-masing. Menurut riset Universitas Negeri Makassar di Desa Mangindara, peran keduanya tidak terlepas dari modal sosial yang mereka bangun. Kepercayaan, jaringan, solidaritas, dan norma membentuk kerja sama yang kokoh, di dalam maupun di luar perahu.
Komoditas Bernilai Tinggi
Telur ikan terbang adalah komoditas bernilai tinggi dan pemasarannya sudah menembus pasar internasional. Harian Fajar melaporkan telur ikan terbang nelayan Takalar menembus pasar ekspor Korea Selatan, dan mencatat Takalar sebagai salah satu penghasil terbesar di Sulawesi Selatan.
Sebagai gambaran, studi di Dusun Jempang, Kalukuang mencatat rata-rata penerimaan responden sekitar Rp123,7 juta per musim, dengan biaya sekitar Rp47 juta dan pendapatan sekitar Rp76,7 juta, dengan rata-rata empat tenaga kerja. Angka ini berasal dari satu dusun, sehingga lebih tepat dibaca sebagai potret kasus, bukan rata-rata seluruh Galesong.
Tantangan di Rantai Pemasaran
Persoalannya ada pada rantai pemasaran. Riset distribusi di Galesong menemukan alurnya satu arah: nelayan menjual ke papalele, lalu ke pedagang pengumpul, kemudian ke eksportir. Eksportir memperoleh margin terbesar, sekitar Rp50.000 per kilogram.
Di hulu, kajian di Galesong Selatan mencatat bahwa nelayan meminjam modal setiap hendak berangkat mencari telur ikan terbang, yang melemahkan daya tawar mereka. Kajian LP2M UNM 2024 menambahkan bahwa harga masih dikuasai eksportir dan penerapan bauran pemasaran belum maksimal.
Patorani adalah warisan budaya sekaligus tumpuan hidup keluarga pesisir. Kisahnya memperlihatkan keberanian di laut, kekuatan adat di darat, dan ketimpangan yang masih perlu dibenahi. Melestarikan patorani berarti menjaga tradisinya sekaligus memastikan nelayan menikmati hasil jerih payahnya secara adil.