Perkumpulan Pakativa bersama Kaum Muda Pencinta Alam Estuaria Maluku Utara mengajak masyarakat Kota Ternate ikut dalam aksi bersih pantai di pesisir Kelurahan Gambesi, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan bertajuk ” Aksi untuk Bumi” ini dimulai pukul 07.00 WIT dan terbuka untuk siapa saja yang ingin terlibat.
Aksi ini digelar karena kondisi pesisir Gambesi yang dipenuhi sampah. Botol plastik, kemasan, jeriken, dan berbagai limbah rumah tangga terlihat berserakan di bibir pantai, bahkan masuk hingga ke bawah rimbunan ekosistem mangrove.
Sampah yang ditinggalkan hari ini akan menjadi beban bagi laut dan generasi yang akan datang. Karena itu, aksi bersih pantai tidak hanya soal memungut sampah, tetapi juga mengurangi produksi sampah dan membangun kesadaran bahwa menjaga pesisir adalah tanggung jawab bersama.
Warga, pelajar, mahasiswa, komunitas pemuda, hingga keluarga dipersilakan hadir. Titik kumpul berada di pesisir Gambesi, Kota Ternate.
Sampah Menumpuk di Bawah Mangrove
Sampah di Gambesi tampak menyebar di sepanjang garis pantai. Sebagian tersangkut di akar dan semak, sebagian lagi menumpuk di pasir hitam dekat perahu-perahu yang bersandar. Padahal kawasan ini memiliki ekosistem mangrove yang berfungsi menahan abrasi, menjadi tempat berkembang biak biota laut, dan menyangga kehidupan pesisir.
Menurut Pakativa dan Estuaria, kondisi ini berakar pada kurangnya kesadaran masyarakat serta kebijakan yang belum tegas soal sampah. Akibatnya, pesisir yang seharusnya terjaga justru menjadi tempat sampah bertemu dengan ekosistem yang rentan.
Persoalan ini bukan hanya masalah Gambesi. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate tahun 2025, sampah yang diangkut petugas kebersihan setiap hari bisa mencapai 100 hingga 120 ton. Angka itu hanya menggambarkan sampah yang berhasil terangkut. Tidak semua sampah berakhir di tempat pengelolaan.

Sampah yang dibuang sembarangan tidak hilang begitu saja. Ia berpindah dari rumah ke jalan, dari jalan ke drainase, dari daratan ke laut, lalu kembali kepada masyarakat dalam bentuk pencemaran, kerusakan ekosistem, gangguan bagi biota laut, dan ancaman kesehatan.
Pakativa dan Estuaria menilai kota kepulauan seperti Ternate tidak cukup hanya sibuk mengangkut sampah setelah menumpuk. Pembenahan sistem harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengolahan, pengawasan, dan edukasi, hingga kebijakan serta aturan yang tegas.
Pantai Bukan Tempat Mewariskan Sampah
Suhar, Manager Program Pakativa mengatakan kondisi pantai Gambesi saat ini memprihatinkan, terutama karena sampah plastik yang menumpuk di garis pantai.
“Kondisi pantai gambesi hari ini merupakan salah satu pantai di Kota Ternate yang sangat banyak sampahnya. Hasil pantauan teman-teman kaum muda Estuaria, sampah di pantai gambesi berasal dari aktivitas pembuangan sampah di aliran sungai mati kemudian di bawah oleh air saat hujan menuju hilir sehingga sampah tersebut kembali ke pesisir melalui hempasan ombak. Selain itu ada sampah kiriman (sampah plastik yang di buang langsung ke laut dan terdampar di pantai gambesi),” jelasnya.
“Kalau kita turun langsung ke pantai Gambesi, sampah itu terlihat jelas. Ada botol plastik, kemasan, jeriken, dan macam-macam sisa rumah tangga. Yang paling memprihatinkan, sampahnya berserakan sampai ke bawah mangrove,” tambah Suhar.
Ada juga hutan mangrove yang bisa disebut satu-satunya pantai di kota Ternate yang masih memiliki hutan mangrove yang jenisnya lebih dari 3 jenis di pantai Gambesi. Sehingga keberadaan sampah plastik cukup menjadi ancaman untuk pertumbuhan ekosistem mangrovenya.
“Padahal mangrove itu penjaga pesisir kita. Kalau terus dibiarkan, yang rusak bukan hanya pemandangan, tetapi juga ruang hidup biota laut dan sumber penghidupan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremoni membersihkan pantai.

“Pesan kami sederhana, pantai bukan tempat untuk mewariskan sampah, dan laut bukan tempat untuk menumpahkan segala sisa kehidupan kita,” ujarnya.
Menurutnya, membersihkan pantai itu penting, tetapi yang lebih penting adalah mengubah kebiasaan dari rumah masing-masing, mulai dari mengurangi sampah, memilah, sampai tidak membuang sembarangan.
“Kami juga berharap pemerintah hadir dengan kebijakan dan pengawasan yang tegas, supaya kerja warga tidak sia-sia,” lanjutnya.
Suhar mengajak masyarakat tidak ragu untuk hadir.
“Siapa saja bisa bergabung. Tidak perlu menunggu menjadi aktivis atau anggota komunitas. Datang, bawa semangat, dan mari kita rawat kampung kita bersama,” katanya.
Merawat Kampung, Merawat Budaya, Melestarikan Alam
Kegiatan ini mengusung tiga tagar: #jagakampung, #rawatbudaya, dan #lestarikanalam. Ketiganya mencerminkan pendekatan Pakativa, yang bergerak di bidang literasi budaya ekologi, bahwa menjaga alam tidak bisa dipisahkan dari menjaga cara hidup dan budaya masyarakat. Bagi masyarakat kepulauan seperti Maluku Utara, laut dan pesisir adalah bagian dari identitas, sumber pangan, dan warisan lintas generasi.
Sementara itu, KMPA Estuaria Maluku Utara sebagai komunitas pemuda pencinta alam ingin menunjukkan bahwa generasi muda punya peran nyata dalam menjaga lingkungan, bukan hanya melalui kampanye di media sosial, tetapi juga dengan turun langsung ke lapangan.
“Aksi untuk bumi ini diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif terkait dengan menjaga ekosistem pesisir dari bahaya sampah plastik. Melalui kegiatan ini juga diharapkan terbangunnya jaringan anak muda dalam mengkampanyekan isu sampah plastik serta membangun kesadaran terhadap masyarakat di Kota Ternate,” pungkasnya.
