Kora-kora adalah perahu tradisional khas Kepulauan Maluku yang dahulu diandalkan untuk kegiatan perdagangan sekaligus armada perang, menurut laporan Good News from Indonesia. Perahu ini memiliki bentuk yang panjang, sempit, terbuka, dan sepenuhnya mengandalkan tenaga dayung untuk bergerak.
Ukuran perahu ini pun beragam; sumber yang sama menyebutkan panjang sekitar 10 meter, sementara catatan penelitian sejarawan di Banda mencatat kora-kora perang dapat mencapai panjang hingga 30 meter dengan lebar sekitar 4 meter, lengkap dengan cadik penyeimbang di sisi kiri dan kanannya.
Menurut kajian Najirah Amsi, bagian haluan dan buritan kora-kora diukir indah serta menjulang hingga setinggi 2,5 meter. Dalam praktiknya, satu perahu mampu mengangkut 40 hingga 100 orang, dengan sepertiga dari total muatan tersebut bertindak sebagai pendayung. Di bagian tengah atau belakang perahu, terdapat atap pelindung bagi para pemimpin, sementara sang kapitan dan penabuh gong berdiri di atasnya guna mengatur keselarasan irama dayung.
Kora-Kora di Perairan Ambon
Ambon pernah menjadi salah satu panggung penting bagi kiprah kora-kora. Pada periode 1570–1571, Sultan Baabullah dari Ternate mengerahkan lima kora-kora yang mengangkut 500 prajurit ke Ambon untuk memukul mundur Portugis dari Maluku secara bertahap. Ekspedisi ini dipimpin oleh Kapita Kalakinko dan Kapita Rubohongi, sebagaimana dilaporkan oleh Good News from Indonesia. Catatan sejarah dari Banda juga merekam serangan armada kora-kora terhadap kapal-kapal Portugis di Ambon, serta pemanfaatan perahu serupa oleh VOC dalam pelayaran hongi untuk mengawasi monopoli perdagangan rempah.
Kendati demikian, penelitian yang sama mengingatkan bahwa kora-kora memiliki keterbatasan dan kurang tangguh jika diandalkan sebagai kapal perang utama. Dengan desain geladak yang terbuka serta persenjataan yang terbatas pada tombak dan parang, perahu ini cukup sulit menghadapi gempuran meriam. Seiring berjalannya waktu, VOC kemudian menggelar perlombaan antarnegeri, hingga akhirnya kora-kora perlahan bergeser fungsi menjadi perahu belang yang dilestarikan dalam bentuk kompetisi adu cepat.
Arumbae Manggurebe: Gengsi Antarnegeri
Di Ambon dan Maluku Tengah, perahu tradisional semacam ini lebih sering disebut sebagai arumbae atau belang. Berdasarkan catatan Antara, arumbae umumnya memiliki kapasitas 20 hingga 30 orang dengan panjang mencapai 10 meter, sementara istilah manggurebe sendiri memiliki arti lomba adu cepat. Dalam sebuah kesempatan, staf ahli wali kota yang membuka perlombaan ini menegaskan bahwa ajang tersebut merupakan tradisi untuk menguji kekuatan dan ketangkasan antardesa.
Pada pelaksanaan Festival Teluk Ambon 2019, misalnya, tercatat ada enam perahu yang berasal dari Rumatiga, Porto, Ihamahu, Haria (Saparua), serta Banda. Rute perlombaan kala itu mengambil titik start dari Pantai Amahusu dan berakhir di Pelabuhan Lantamal IX, Halong, sebagaimana dilaporkan Antara. Sebelum bendera start dikibarkan, panitia terlebih dahulu menghitung jumlah awak di atas perahu. Sebelumnya pada tahun 2015, Antara juga mencatat bahwa tim-tim dari berbagai negeri di Pulau Saparua sering kali diunggulkan, salah satunya karena material perahu mereka yang dibuat dari jenis kayu yang lebih ringan saat berada di atas air.

Batu Kora-Kora di Halong
Nama kora-kora tidak hanya hidup dalam catatan sejarah, tetapi juga diabadikan dalam cerita rakyat setempat. Dalam kisah yang dimuat Berita Maluku Online, diswayatkan mengenai seorang pedagang pendatang yang bernazar bahwa apabila perahunya kandas dan berubah menjadi batu, di sanalah ia akan membangun negerinya. Perahu tersebut akhirnya kandas di perairan Pantai Halong kawasan dekat pelabuhan angkatan laut dan menjelma menjadi batu berbentuk perahu. Menariknya, lokasi ini sempat menjadi garis finis bagi perlombaan arumbae pada tahun 2019 silam.
Catatan: Sejarah kora-kora selama ini lebih banyak didokumentasikan dari sudut pandang Ternate dan Banda. Kajian mengenai sejarah Banda juga menyebutkan bahwa asal-usul serta penamaan perahu ini masih menyisakan ruang perdebatan dengan ukuran yang sangat beragam. Laporan mengenai perlombaan di Ambon yang terhimpun bersumber dari arsip Antara rentang tahun 2012–2019, sehingga informasi mengenai penyelenggaraan terbaru perlu diverifikasi kembali melalui Dinas Pariwisata setempat. Selain itu, kisah Batu Kora-Kora merupakan bagian dari folklore (cerita rakyat) dan bukan dokumen sejarah resmi.
Tahukah Kamu?
- Pada periode 1570–1571, Kesultanan Ternate pernah mengirimkan lima kora-kora yang membawa 500 prajurit ke Ambon guna menekan pengaruh Portugis.
- Kata manggurebe bermakna lomba adu cepat, dengan kapasitas arumbae yang mampu memuat 20 hingga 30 orang.
- Perahu belang umumnya berukuran lebih pendek daripada kora-kora, yakni sekitar 17 meter dengan lebar 1,2 meter (sementara kora-kora perang bisa mencapai panjang 30 meter dan lebar 4 meter).
- Garis finis untuk ajang lomba arumbae tercatat pernah dipusatkan di beberapa titik berbeda, seperti di Galala (2015), sekitar Jembatan Merah Putih (2018), hingga Pelabuhan Halong (2019).
Warisan yang Layak Dijaga
Kora-kora berawal dari sebuah armada perahu perang yang ganas, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi perahu lomba yang mempererat persaudaraan antarnegeri. Di Teluk Ambon hari ini, tombak perang dan tabuhan gong komando telah berganti menjadi irama dayung, sorak-sorai penonton, serta gelora kebanggaan kampung halaman. Agar warisan ini tidak sekadar menjadi tontonan seremonial tahunan, diperlukan dukungan dokumentasi sejarah yang kuat serta regenerasi pengetahuan pertukangan perahu tradisional, mengingat sumber tertulis mengenai perahu Nusantara masih tergolong terbatas.
Foto utama: Suasana perlombaan perahu tradisional arumbae dalam ajang Pesta Teluk Ambon pada 28 September 2015, yang disaksikan oleh ribuan warga di sepanjang pesisir. (Foto: Antara)