Sahendaruman Terancam, Kehidupan Endemik Sangihe di Ujung Tanduk

Sahendaruman Terancam, Kehidupan Endemik Sangihe di Ujung Tanduk

Kepulauan Sangihe, gugusan pulau-pulau kecil di Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan Filipina merupakan lapoiratorium keanekaragaman hayati. Bentang alamnya yang terisolasi membentuk habibat bagi berbagai flora fauna yang tidak ditemukan di belahan bumi lainnya.

Namun, kekayaannya tidak berlangsung lama. Akumulasi dari krisis iklim, perburuan liar, alih fungsi hutan hingga industri ekstraktif mengancam benteng biodiversitas terdepan Indonesia ini.

Secara ekologi, ekosistem pulau kecil memiliki kerentanan lebih tinggi dibandikan daratan utama. Isolasi pulau kecil ini membuat banyak spesies terbatas wilayah jelajahnya. Di satu sisi, kerentanan pulau kecil tentu akan menyebabkan spesies di dalamnya juga terancam.

Penyerbuk Alami di Ambang Kepunahan

Program Manager Burung Indonesia Kepulauan Sangihe, Ganjar Aprianto menyebut, saat ini terdapat 10 spesies burung endemik yang mendiami Sangihe.

“Dari 10 burung yang kami catat, 7 diantaranya terancam punah. Status kritis itu menunjukkan satu langkah lagi sebelum dia punah,” ujarnya.

Jika mengacu kategori dari International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), buruh yang berstatus kritis di Kepulauan Sangihe diantaranya Seriwang Sangihe (Eutrichomyias rowleyi). Adapun status genting yakni Burung-Madu Sangihe (Aethopyga duyvenbodei) berstatus Genting (Endangered). Selain spesies burung, terdapat pula mamalia endemik seperti kuskus (Ailurops) dan tarsius (Tarsius).

Menjadi soal karena perbedaan status lembaga internasional dengan di Indonesia. Beberapa spesies yang sudah masuk kategori kritis ternyata belum masuk dalam daftar perlindungan berdasarkan regulasi Indonesia. Celah hukum ini membuat upaya perlindungan dan penegakan hukumnya semakin sulit dilakukan.

Menurut Ganjar, salah satu ancaman serius yang mengikis populasi burung endemik di Kepulauan Sanghihe perburuan komersial. Meningkatnya perlombaan burung menurutnya telah memicu masifnya perburuan pada burung sunbird. 

“Si murai itu semacam memimikri, meniru suara,” terang Ganjar. 

“Di beberapa postingan Facebook mereka berani menaruh banderol satu burung itu sekian puluh ribu,” tambahnya.

Masalahnya, harga itu berbahaya ketika sampai ke warga. Masyarakat bisa tertarik menangkap, dan burung pun hilang dari alam.

Padahal, kata Ganjar peran burung dalam ekosistem hutan sangat penting. Perburuan burung semakin masif akan berdampak pada rantai makanan dan kesejahteraan warga. Ia menerangkan burung pemakan nektor merupakan penyerbuk alami terutama bagi komoditas yang ditanam oleh wrga Sangohe seperti pala, cengkeh dan kepalah.

Ketika populasi burung merosot tajam akibat perburuan liar, menyebabkan proses pembuahan tanaman komoditas akan terganggung. Pada akhirnya mengancam pendapatan warga.

“Jika burung-burung ini hilang di alam, otomatis produksi kopra, produksi pala, produksi cengkeh, atau buah-buahan lain yang diserbukan oleh burung ini menurut menurun,” jelas Ganjar.

Sahendaruman, Benteng Terakhir Selatan Sangihe

Selain perburuan, alih fungsi tutupan hutan menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem di Kepulauan Sangihe. Hutan Lindung Gunung Sahendaruman sendiri memiliki luas sebesar 3.549 hektar yang merupakan benteng terakhir hutan primer di Kepulauan Sangihe. Seperti yang telah dijelaskan di awal, ruang jelajah satwa di Pulau Sangihe tidak memiliki banyak pilihan tempat tinggal ketika ruang hidupnya dirusak.

“Ketika kondisi alam berubah, otomatis satwa endemik akan gagal beradaptasi,” tegasnya.

Penyempitan dan fragmentasi hutan Sahendaruman otomatis menyebabkan terhimpitnya ruang ekologis burung-burung dan satwa lainnya. Jika Hutan Lindung terus menerus mengalami degradasi, maka angka harapan hidup spesies lainnya akan semakin kecil. 

Hutan Lindung Gunung Sahendaruman sendiri masuk dalam kawasan konseling PT Tambang Mas Sangihe (PT TMS) yang mencakup area kurang lebih 45.000 hektar. Hal ini menjadi alarm bagi keberlanjutan ekosistem di Pulau Sangihe.

Potret Keanekaragaman Hayati

Selama lebih dari 2 dekade terakhir berbagai hasil riset menunjukkan posisi Kepulauan Sangihe yang krusial dalam keakekargaman hayati secara global. Riset dari Jon Riley tahun 2002 yang diterbitkan dalam Bird Conservation International menobatkan Hutan Gunung Sahendaruman dengan kawasan konsentrasi avifauna yang terancam tertinggi di Indonesia. 3 spesies burung endemik yang terancam punah diantaranya Seriwang sangihe (Eutrichomyias rowleyi), Sohabe sangihe (Colluricincla sanghirensis) dan Kacamata sangihe (Zosterops nehrkorni).

Penelian yang ditulis oleh Angga dan Ganjar dari Burung Indonesia pada tahun 2025 yang memantau populasi burung Seriwang Sangihe (Eutrichomyias rowleyi) menunjukkan arah yang positif. Riset yang dipublikasikan dalam BIO Web of Conferences mencatat tren kenaikan populasi burung endemik di kawasan Hutan Lindung Gunung Sahendaruman.

Hasil pemantauan tercatat pada tahun 1998, populasi diperkirakan hanya tersisa 19 hingga 35 individu. Lalu pada tahun 2014 meningkat antara 34 hingga 150 individu. Pada tahun 2021 sendiri meningkatkan lagi menjadi 48 hingga 188 individu dewasa.

Seriwang sangihe, atau yang disebut masyarakat lokal sebagai manu’ niu, adalah burung yang hanya ada di Pulau Sangihe. (Foto: Burung Indonesia)

Sementara itu, riset lainnya menunjukkan tingginya burung yang ada di Pulau Sangihe. Wangka, Tasirin dan Langi dalam penelitiannya mendokumentasikan 27 jenis burung di sepanjang pesisir Teluk Tahuna. Riset yang dipublikasikan oleh Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado pada tahun 2019 burung yang paling banyak dijumpai di kawasan Teluk Tahuna adalah Burung Gereja Erasia.

Riset tersebut juga menemukan tutupan alami sangat menentukan jenis burung. Pada mangrove rendah aktivitas terdapat 15 spesies burung, pada kawasan mangrove ramai terdapat 14 spesies, kawasa pelabuhan sebanyak 12 spesies, daerah hutan pantai terdapat 10 spesies dan pada kawasan pemukiman sebanyak 6 spesies.

Banyaknya spesies burung di Kepulauan Sangihe juga ditopang keananekaragaman hayati pohon di Hutan Lindung Gunung Sahendaruman. Studi yang dilakukan oleh Reynold pada tahun 2011 mengindentifikasi sedkitnya terdapat 70 spesies pohon dari 58 genus dan 32 famili kelas Magnoliopsida. Struktur pohon yang kompleks tersebut mampu menyediakan tempat burung bersarang, berlindung hinggga sebagai sumber pakan bagi keanekaragaman hayati satwa di Kepulauan Sangihe.

Sehingga kata Ganjar, Kepulauan Sangihe ini memiliki nilai ekologi yang tinggi namun rentan terhadap perubahan harus dijaga kondisi alaminya.

“Mereka bisa menghadapi kepunahan karena tidak lagi mendapatkan apa yang dibutuhkan dari habitat, atau bahkan kehilangan habitat itu sepenuhnya,” terangnya.

Bagi satwa endemik di Kepulauan Sangihe, tidak ada cadangan tutupan hutan. Rusaknya habitat berarti hilangnya rumah bagi banyak spesies endemik yang tidak dijumpai di belahan bumi lainnya.

Ganjar menjelaskan beberapa spesies burung endemik di Kepulauan Sangihe dalam kegiatan Kelas Konservasi Bagi Pelajar pada Jumat, 25 September 2026. (Foto: Muhammad Riszky/Jaring Nusa)

Harmoni Budaya dan Kelestarian Sangihe

Ganjar meluruskan pemahaman yang sempit tentang keanekaragaman hayati. Menurut dia, ada empat unsur: ekosistem, spesies, genetik, dan pengetahuan tradisional.

Bagi masyarakat Sangihe, ekosistem di Kepulauan Sangihe bukan sedakar bentang alam yang pasir, namun lebih dari itu merupakan pondasi identitas dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurut Ganjar, terdapat empat unsur keanekaragaman hayati yakni ekosisten, spesies, genetik dan pengetahuan tradisional. Ia menekankan kepunahan salah satu spesies akan secara langsung turut menghapus jejak kebudayaan lokal.

“Hampir semua pengetahuan tradisional itu berhubungan dengan keragaman hayati,” tutur Ganjar.

Ia mencotohkan instrumen budaya khas orang Sangihe sepert imusik bambu yang membutukan sumber bambu lokal tertentu yang tumbuh di hutan. Sama halnya dengan beragammnya kuliner dan pengobatan tradisional yang bahan bakunya berasal dari pulau Sangihe itu sendiri. Para leluhur Sangihe sendiri telah menjalankan tata kelola lingkungan yang berbasis daya dukung dan daya tampung pulaunya.

“Saya yakin orang Sangihe zaman dulu sudah paham posisi mereka. Untuk bertahan hidup, mau tidak mau mereka harus memanfaatkan alam secara arif,” jelasnya.

Di Pasar Tamako, Keberagaman hasil bumi di Pulau Sangihe dijual oleh warga. (Foto: Muhammad Riszky/ Jaring Nusa)

Membangun Kesadaran Jaga Pulau

Di tengah kerentanan yang dihadapi Kepulauan Sangihe, perlu adanya upaya dalam mewariskan nilai-nilai lokal yang dapat dimanfaatkan untuk kelestarian lingkungan. Upaya yang dilakukan oleh warga sendiri menurut Ganjar adalah memutus rantai perburuan liar dan kerusakan hutan. 

Bersama dengan komunitas lokal, warga membangun skema ekowisata khususnya pada pengamatan burung. Inisiaitif yang dibangun ini merangkul mantan pemburu burung yang beralih profesi sebagai pemandu wisata. Warga lokal sendiri memiliki pengetahuan tentang posisi, kebiasaan hingga perilaku satwa yang dapat membawa wisatawan untuk mengamati burung di habitat aslinya.

“Dengan tamu yang terus datang, ia bisa mengajak orang lain, sebagai juru masak, porter, atau pemandu jalan,” ujar Ganjar.

Pola yang dibangun seperti ini memberikan ekonomi berkelanjutan bagi warga lokal dan ekosistem pulau terus terjaga. Manfaat finansial tidak hanya dinikmati oleh pemandu wisata.

“Dengan cara ini, burung hidup lebih bernilai bagi warga daripada burung yang ditangkap dan dijual,” tambahnya.

Selain itu, pendekatan berkelanjutan ini juga diperkuat dengan memberikan pengetahuan tentang lingkungan Kepulauan Sangihe kepada generasi muda melalui beragam aktivitas. Salah satunya melalui kelas konservasi pelajar.

Ganjar menjelaskan jika kegiatan ini sebagai bentuk untuk mendekatkan pengetahuan leluhur Sangihe yang hidup selaras dengan alam kepada generasi muda. Pelajar dikenalkan kembali nama-nama lokal tentang flora dan fauna di Kepulauan Sangihe.

“Kita ini menanamkan rasa bangga akan warisan keanekaragaman hayati di pulau mereka sendiri,” pungkasnya.

 

Foto utama: Potret Teluk Tahuna pada sore hari. (Foto: Muhammad Riszky/Jaring Nusa)

 

Tulisan ini merupakan salah satu dari beberapa tulisan dalam Nusa Kumbahang Katumpaeng: Menjaga Tanah, Laut, dan Adat Sangihe di Tengah Kepungan Krisis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *