Copernicus Climate Change Service: Suhu Bumi Capai Rekor Tertinggi dalam Setahun Terakhir

Copernicus Climate Change Service: Suhu Bumi Capai Rekor Tertinggi dalam Setahun Terakhir

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Copernicus Climate Change Service (C3S), layanan pemantauan perubahan iklim Uni Eropa mencatat Juni menjadi bulan terpanas. Hal ini menambah catatan panjang rekor suhu dunia dan memperkuat prediksi 2024 bakal jadi tahun terpanas dunia.

Menurut catatan Copernicus Climate Change Service (C3S) Uni Eropa, rata-rata suhu dunia terus mencatatkan rekor selama 13 bulan berturut-turut.  

Zeke Hausfather, ilmuwan peneliti di Berkeley Earth, seperti dikutip dari Reuters menyebut, data terbaru menunjukkan tahun 2024 mengungguli tahun 2023 sebagai tahun terpanas sejak pencatatan dimulai setelah perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia dan fenomena cuaca alam El Nino mendorong suhu mencapai rekor tertinggi pada tahun ini. 

“Ada sekitar 95 persen kemungkinan bahwa 2024 mengalahkan 2023 sebagai tahun terpanas sejak pencatatan suhu permukaan global dimulai pada pertengahan tahun 1800-an,” kata Zeke dikutip Senin, 8 Juli 2024. 

Perubahan iklim menimbulkan konsekuensi bencana di seluruh dunia pada 2024. Lebih dari 1.000 orang tewas selama ibadah haji bulan lalu akibat suhu panas.

Kemudian, kematian akibat panas tercatat di New Dehli, yang mengalami gelombang panas yang sangat panjang, dan pada wisatawan Yunani.

Friederike Otto, ilmuwan iklim di Institut Grantham Imperial College London, mengatakan ada kemungkinan besar tahun 2024 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.

“El Nino merupakan fenomena alam yang selalu datang dan pergi. Kita tidak bisa menghentikan El Nino, tapi kita bisa menghentikan pembakaran minyak, gas, dan batu bara,” kata Otto. 

Fenomena alam El Nino yang menghangatkan permukaan perairan di bagian timur Samudera Pasifik cenderung meningkatkan suhu rata-rata global.

Dampak tersebut mereda dalam beberapa bulan terakhir, dan dunia kini berada dalam kondisi netral sebelum kondisi La Nina yang lebih dingin diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun. Emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil merupakan penyebab utama perubahan iklim. 

Meskipun ada komitmen dalam penurunan suhu global, banyak negara sejauh ini gagal mengurangi emisi, sehingga suhu terus meningkat selama beberapa dekade.

“Dalam dua belas bulan terakhir, suhu rata-rata dunia merupakan rekor tertinggi pada periode tersebut, yaitu 1,64 derajat Celcius di atas rata-rata pada periode pra-industri tahun 1850-1900,” tulis C3S.

Artikel ini bersumber dari betahita.id. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *