Search
Close this search box.
Search

Merawat Bumi, Menjaga Kehidupan: Refleksi Ekofeminisme dari Perempuan Sulawesi Selatan untuk Hari Bumi 2026

Merawat Bumi, Menjaga Kehidupan: Refleksi Ekofeminisme dari Perempuan Sulawesi Selatan untuk Hari Bumi 2026

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan bersama Yayasan Pemerhati Masalah Perempuan (YPMP) dan Both ENDS resmi meluncurkan buku kumpulan tulisan berjudul “Merawat Bumi, Menjaga Kehidupan”. Buku ini merupakan karya kolektif dari alumni Sekolah Perempuan dan Ekologi WALHI Sulawesi Selatan yang menyoroti krisis ekologi dari sudut pandang perempuan.

Buku ini menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup saat ini termasuk perubahan iklim dan degradasi lahan bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis struktural yang berakar pada sistem patriarki-kapitalistik. Melalui kacamata ekofeminisme, para penulis memaparkan bagaimana penindasan terhadap alam berjalan beriringan dengan penindasan terhadap perempuan.

“Merawat Bumi, Menjaga Kehidupan mengajak pembaca untuk memahami bahwa kerja merawat alam adalah kerja politik, sebuah praktik perlawanan terhadap sistem yang merusak kehidupan dan meminggirkan perempuan,” tulis Slamet Riadi, Kepala Departemen Riset dan Keterlibatan Publik WALHI Sulawesi Selatan.

Buku ini disusun dalam tiga bagian utama yang saling berkaitan untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang relasi gender dan ekologi yakni Landasan Teoritik dan Kritik Struktural (Bagian I): Menguraikan bagaimana kebijakan pembangunan modern, ekonomi ekstraktif, dan revolusi hijau sering kali memposisikan alam dan perempuan sebagai entitas yang dapat dikontrol dan dieksploitasi demi akumulasi modal. Bagian ini menekankan bahwa keadilan ekologis tidak akan tercapai tanpa transformasi relasi gender.

Demo Perempuan Pulau Kodingareng pada tahun 2020 akibat tambang pasir laut. (Foto: WALHI Sulawesi Selatan)

Lalu Suara Perempuan dan Perlawanan di Wilayah (Bagian II): Menampilkan kisah-kisah nyata perempuan dari berbagai wilayah, seperti tanah adat, pesisir, dan komunitas agraris. Mereka bukan hanya korban krisis, melainkan aktor politik dan produsen pengetahuan lokal yang aktif melakukan strategi perlawanan terhadap perampasan ruang hidup. Contoh yang diangkat termasuk perjuangan perempuan di Luwu melawan tambang emas dan perempuan pesisir di Makassar.

Terakhir adalah Visi Masa Depan yang Adil (Bagian III): Menawarkan refleksi untuk membangun masa depan ekologis yang tidak hanya bertumpu pada inovasi teknologi, tetapi pada prinsip perawatan (care) dan keberlanjutan kehidupan. Ekofeminisme dihadirkan sebagai kerangka transformatif untuk melawan kolonialisme ekologis baru.

“Sebagai releksi kolektif dari Sekolah Perempuan dan Ekologi WALHI Sulawesi Selatan, buku ini menegaskan bahwa pengetahuan ekologis tidak hanya diproduksi di ruang akademik, tetapi juga lahir dari pengalaman hidup perempuan yang berhadapan langsung dengan krisis lingkungan,” tutup Memet.

Dengan menghubungkan kritik struktural, pengalaman wilayah, dan visi masa depan, buku ini berkontribusi pada penguatan diskursus ekofeminisme dan ekologi politik feminis di indonesia, sekaligus menjadi pijakan bagi perjuangan menuju keadilan ekologis dan gender.

Tulisan selengkapnya dapat dibaca disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *