El Nino dan Beban Mental yang Tak Terlihat

El Nino dan Beban Mental yang Tak Terlihat

Tahun 2026 menjadi salah satu tantangan besar dalam menguji ketahanan iklim di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan fenomena El Nino dengan intensitas yang sangat kuat. Hal ini semakin diperparah dengan fenomena Indian Ocean Dipole yang semakin memperpanjang kekeringan di Indonesia.

Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 78% zona musim Indonesia mengalami kemarau. Kondisi tersebut telah menyebabkan hari tanpa hujan yang panjang di hampir sebagian besar daerah. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat telah terjadi 111 kejadian kekeringan di 26 provinsi terhitung 1 Januari hingga 17 September 2026. Kabupaten Bima, NTB dengan daerah tingkat kekeringan tertinggi yang tercatat.

Setiap kekeringan ekstrim telah menyebabkan ribuan keluarga kehilangan akses air bersih, gagal panen hingga mengubah pola hidup. Anak-anak harus ikut mengambil air dengan berjalan jauh, ibu-ibu menyiasati kebutuhan air dan para ayah harus berpikir ekstra untuk mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Beban Psikologis

Fenomena ini bukan lagi sekadar anomali lokal tetapi adalah sebuah tanda krisis iklim yang kian parah. Dari semua yang terjadi, paling jarang yang diperbincangkan adalah isu kesehatan mental saat krisis iklim melanda, terutama di kondisi sekarang ini.

Penelitian menunjukkan jika kekeringan yang berkepanjangan erat kaitannya dengan peningkatan kecemasan, gangguan stres hingga depresi. Penelitian yang diterbitkan oleh National Library of Medicine mencatat dampak lebih jauh adalah konflik rumah tangga, isolasi sosial hingga perasaan tidak berdaya dan kehilangan kontrol akan masa depan. Hal tersebut terjadi karena hilangnya mata pencaharian, kerawanan pangan hingga penurunan akses air bersih.

Di Indonesia sendiri yang 72,8% mengalami kemarau dan jutaan orang bergantung pada bantuan air bersih, ratusan ribu petani yang was-was terhadap keberlangsungan panennya memiliki beban psikologis yang jauh lebih besar.

Kebakaran Kian Memperparah

Kekeringan tahun ini tidak hanya sekedar kekurangan akses air, menurunnya produktivitas pangan. Namun lebih dari itu, kondisi ini telah memicu peningkatan titik panas dan kebakaran hutan dan lahan. Asap tebal dan berkepanjangan yang menyelimuti di beberapa wilayah terutama Sumatera, Kalimantan hingga Papua telah menambah beban psikologis.

Data dari Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan pada 6 Oktober 2026 terdapat 1.201 titik panas di Indonesia. Meskipun angkanya berkurang sebanyak 158 titik dibandingkan sehari sebelumnya, namun jumlah tersebut masih sangat besar. Kebakaran yang terus berlangsung selama beberapa bulan telah menyebabkan kualitas udara juga menurun. Berdasarkan konsentrasi PM2,5 beberapa wilayah yang masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat terdapat di Sumatera, Jawa dan Papua.

Paparan asap yang berkepanjangan akibat kebakaran hutan dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan hingga rasa duka yang mendapat. Riset yang dilakukan oleh Eisenman dan Galway pada tahun 2022 menjelaskan sebanyak 45,3 responden melaporkan terjadi kecemasan akibat asap. Selain itu sebanyak 21,4% persen lainnya mengalami perasaan depresi karena asap.

Riset tersebut juga memaparkan jika mereka yang terkena asap melaporkan terjadi peningkatan ketakutan, kemarahan isolasi hingga keputusasaan. Selain itu beberapa laporan juga menunjukkan terjadinya gangguan dalam rumah tangga, hilangnya lingkungan rumah yang aman dan bau asap yang menjadi sumber stres.

Walaupun belum adanya studi komprehensif di Indonesia, namun riset tersebut dapat memberikan gambaran kondisi psikologis bagi mereka yang terpapar asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Yang Dapat Dilakukan

Melihat situasi genting saat ini, perlu upaya konkrit dan sistematis untuk mengatasi tantangan kondisi psikologis dalam kemarau panjang. WHO dalam laporannya Operational Framework for Building Climate Resilient and Low-Carbon Health Systems telah merekomendasikan untuk mengintegrasikan dukungan kesehatan mental ke dalam strategi nasional kesehatan yang berkaitan dengan krisis iklim.

Hal ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Xue dan 5 peneliti lainnya tahun 2024 yang menjelaskan intervensi layanan kesehatan mental dalam isu krisis iklim menunjukkan hasil yang baik terhadap 37 intervensi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Pada tingkat level yang lebih dasar, melatih kader desa/puskesmas untuk mengenali tanda-tanda psikologis seperti kecemasan, stres hingga depresi penting dilakukan sehingga dapat segera mendapatkan perawatan yang maksimal. Memastikan posko dan puskesmas memiliki layanan skrining cepat dan alur layanan untuk rujukan lebih lanjut jika diperlukan.

Selain itu membuka ruang aman dan meyakinkan kepada setiap orang untuk berani menceritakan kondisi psikologisnya. Hal tersebut mampu mengurangi beban dan memastikan tidak ada stigma yang dimunculkan. Sehingga pentingnya literasi kesehatan mental, membentuk kelompok dukungan sebaya dan kolaborasi dengan berbagai stakeholder.

Kekeringan panjang telah mengindikasikan kerusakan yang masif terhadap bumi, menyebabkan krisis iklim yang semakin parah. Namun tidak soal dampak lingkungan, tapi jauh lebih mendalam, aspek mental yang juga harus diperhatikan.

Foto utama: Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di Ambon, Selasa (13/10/2026). (Foto: Dok. kumparan)

*Tulisan ini diterbitkan dalam Fakta Ekologi WALHI Sulsel Edisi Oktober 2026.

Penulis: Muhammad Riszky (Sekretariat Jaring Nusa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *