Jibu-Jibu, Menghidupi Keluarga dan Merawat Persaudaraan

Jibu-Jibu, Menghidupi Keluarga dan Merawat Persaudaraan

Pagi di Kota Ambon sudah ramai sebelum toko-toko membuka pintu. Perempuan-perempuan berkain sarung atau batik, dengan nyiru berisi hasil bumi di atas kepala, menyusuri kampung dan kota, sebagaimana dilaporkan Antara. Mereka dikenal sebagai papalele, yang oleh BPK Wilayah XX Maluku disebut juga tradisi jibu-jibu. Pada 2025, tradisi ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Siapa Itu Jibu-Jibu?

Jibu-jibu adalah sebutan lain bagi papalele, yakni kegiatan jual beli yang dilakukan perempuan. Warga setempat menyapa pelakunya dengan sebutan mama-mama atau tanta-tanta papalele, menurut Good News From Indonesia. Dagangannya beragam, mulai dari ikan segar, sayuran, hasil kebun, hingga kue tradisional dari kawasan pesisir maupun pegunungan. Dengan berjalan kaki atau menumpang angkutan umum, mereka menjadi penghubung antara produsen di desa dan pembeli di kota.

Skalanya kecil dan sederhana. Sebuah kajian mahasiswa Universitas Surabaya mencatat bahwa barang yang dijual biasanya hasil kebun sendiri atau dibeli dari tetangga, dalam jumlah kecil.

Menurut kajian yang sama, papalele diduga berkembang sejak masa VOC. Saat itu sistem hongi dan aturan niaga cengkih dan pala membatasi ruang ekonomi warga, sehingga muncul barter diam-diam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketika ekonomi uang menguat, penjualan hasil tani kepada pembeli yang lebih luas pun berkembang menjadi pola yang kini disebut papalele.

Soal asal kata, kajian itu tidak menemukan padanan papalele dalam kamus Portugis, tetapi menemukan kata papalvo yang berarti orang sederhana. Penulisnya menyebut maknanya mungkin berkaitan dengan usaha individu yang sederhana. Penjelasan sejarah dan bahasa ini sebaiknya dibaca sebagai dugaan, bukan kepastian.

Ketika konflik Ambon pecah pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, pasar dibakar dan komunikasi antarwarga terputus. Dalam situasi itu, menurut kajian Universitas Surabaya, sebagian papalele dari kedua komunitas secara diam-diam dan penuh risiko tetap bertukar kebutuhan pangan, bahkan membuka pertemuan di wilayah netral. Di satu sisi hal ini bisa dibaca sebagai peluang ekonomi. Di sisi lain, penulisnya melihatnya sebagai buah nilai budaya lama, termasuk semangat pela gandong.

Nilai di Balik Nyiru

Mama-mama papalele menggelar dagangan. (Foto: EcoNusa)

Kajian tersebut merangkum beberapa nilai yang melekat pada budaya papalele. Pertama, kesederhanaan dalam cara berusaha. Kedua, kepercayaan, misalnya papalele yang membeli ikan dari pedagang pengumpul sering boleh membayar siang atau keesokan harinya. Ketiga, pela gandong, ikatan persaudaraan khas Maluku yang membuat sesama pelaku saling menopang.

Cara berjualannya pun khas. Papalele biasa baronda, yaitu berkeliling dari rumah ke rumah sambil menjunjung bakul beralas kain, yang dalam bahasa setempat disebut keku. Sebagian memilih tetap baronda karena hubungan dengan pelanggan lama sudah terjalin dan ingin dijaga, selain peluang dagangan cepat habis.

Peran ekonominya nyata. Studi di Desa Pelauw, Pulau Haruku, Maluku Tengah (Latuconsina dkk., 2023), dengan 10 responden perempuan papalele, mencatat jam kerja hingga 19 jam sehari dan hanya sekitar 5 jam istirahat malam. Sebanyak 60 persen responden menyumbang Rp120.000 hingga Rp150.000 per hari. Dengan asumsi 25 hari kerja sebulan, rata-rata penerimaannya sekitar Rp2,9 juta per bulan.

Alasan mereka berjualan pun berasal dari kebutuhan rumah tangga. Enam dari sepuluh responden menyebut pendapatan suami rendah, tiga menyebut kebutuhan meningkat, dan satu ingin punya uang sendiri. Penelitian di Desa Tulehu (UIN Alauddin) juga menggambarkan papalele sebagai peran ganda, mencari nafkah sekaligus mengurus rumah tangga. Angka-angka ini berasal dari desa di Maluku Tengah dengan sampel kecil, sehingga lebih tepat dibaca sebagai potret kasus, bukan rata-rata seluruh Ambon.

Diakui Negara, Diuji Zaman

Penetapan papalele sebagai warisan budaya takbenda menambah daftar Maluku menjadi 32 warisan budaya takbenda nasional, naik dari 28 sebelumnya, menurut Good News From Indonesia. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon, Christian Tukloy, seperti dikutip Antara, menyebut pemerintah kota tengah menyiapkan langkah agar tradisi ini bertahan dan mampu beradaptasi di era modern.

Tantangannya jelas. Banyak orang kini berbelanja di pasar modern atau toko daring. Meski begitu, pelanggan setia tetap ada. Mama Sientje (52) dari Desa Hative Besar, yang berjualan pisang, keladi, dan sayur sejak usia 20 tahun, mengaku kini banyak anak muda yang membeli darinya. Menurutnya, mereka berkata ingin “bantu mama-mama papalele”.

Jibu-jibu bukan sekadar pedagang keliling. Mereka menghubungkan kebun dan kota, menopang ekonomi keluarga, dan pernah menjaga jalur persaudaraan di saat kota terbelah. Melestarikannya berarti menghargai kerja keras perempuan Maluku sekaligus memastikan mereka mendapat dukungan agar tradisi ini tetap hidup.

Foto utama: Jibu-jibu di Negeri Liang, Maluku Tengah. (Foto: Muhammad Riszky/Jaring Nusa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *