Hari Kesehatan Mental Sedunia, JALA INA Mengajak Warga Ambon Mengelola Emosi

Hari Kesehatan Mental Sedunia, JALA INA Mengajak Warga Ambon Mengelola Emosi

Kesehatan mental tidak pernah berdiri sendiri. Cara seseorang merasa, berpikir, dan menjalani keseharian turut dipengaruhi oleh lingkungan sosial, kondisi ekonomi, situasi politik, perkembangan teknologi, hingga berbagai krisis yang berlangsung di sekitarnya. Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan penuh ketidakpastian, menjaga kesehatan mental bukan sekadar persoalan bagaimana seseorang menenangkan diri, tetapi juga bagaimana kita memahami apa yang sedang terjadi di sekitar kita tanpa kehilangan kemampuan untuk merawat diri.

Memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, JALA INA menggelar diskusi publik bertajuk “Mindfulness in the Age of a Chaotic Country” dengan tema “Mengelola Emosi, Merawat Diri, dan Tetap Peduli di Tengah Krisis.” Kegiatan ini akan berlangsung pada 10 Oktober 2026 pukul 16.00 WIT, bertempat di Kantor JALA INA, BTN Wayame.

Istilah mindfulness dalam diskusi ini tidak ditempatkan semata-mata sebagai praktik untuk menjadi lebih tenang atau mengurangi stres. Di tengah berbagai persoalan yang hadir setiap hari, kemampuan untuk menyadari apa yang kita rasakan, memahami batas diri, dan mengambil jeda menjadi semakin penting. Namun, mindfulness juga perlu ditempatkan secara kritis: kesehatan mental tidak seharusnya dibebankan sepenuhnya kepada individu ketika sumber tekanan yang dihadapi juga berasal dari persoalan sosial yang lebih luas.

Kita hidup dalam situasi ketika informasi datang tanpa henti. Berita buruk dapat muncul di layar ponsel sejak pagi, konflik sosial mudah menyebar melalui media digital, sementara berbagai persoalan lingkungan, ekonomi, maupun ketidakpastian masa depan dapat memengaruhi rasa aman dan kondisi psikologis seseorang. Dalam situasi seperti ini, menjadi peduli terhadap keadaan sekitar terkadang juga berarti berhadapan dengan kelelahan emosional.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana kita tetap tenang, tetapi juga bagaimana kita tetap peduli tanpa kehilangan diri sendiri.

Diskusi ini akan menghadirkan Livia Suryanata, Psikolog dari Growing Soul Ambon, dan Cherubim Gihon Hendriks, Founder Tate Maluku, dengan Friska Kalia sebagai moderator. Percakapan diharapkan menjadi ruang untuk membicarakan pengalaman sehari-hari dalam menghadapi tekanan, mengelola emosi, merawat diri, sekaligus mempertahankan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitar kita.

Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi kesempatan untuk kembali melihat kesehatan mental secara lebih utuh. Merawat diri bukan berarti menutup mata terhadap keadaan. Beristirahat bukan berarti berhenti peduli. Dan mengakui bahwa kita sedang lelah bukan berarti kita lemah.

Di tengah situasi yang terasa semakin kacau, mungkin kita memang tidak selalu memiliki kendali atas apa yang terjadi di luar diri. Namun, kita dapat belajar mengenali apa yang terjadi di dalam diri, membangun ruang untuk bernapas, saling mendengarkan, dan menemukan cara untuk tetap hadir bagi diri sendiri maupun orang lain.

Mari berbincang tentang kesehatan mental, mindfulness, dan bagaimana tetap manusiawi di tengah dunia yang tidak selalu baik-baik saja.

Mindfulness in the Age of a Chaotic Country
📅 10 Oktober 2026
⏰ 16.00 WIT
📍 Kantor JALA INA, BTN Wayame
🎙️ Narasumber: Livia Suryanata & Cherubim Gihon Hendriks
🎤 Moderator: Friska Kalia

Selamat memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026.
Sebab merawat kesehatan mental bukan hanya tentang menjadi lebih kuat menghadapi dunia, tetapi juga tentang menciptakan ruang agar kita tidak harus menghadapinya sendirian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *