Koalisi masyarakat sipil Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang tergabung dalam Jaring Nusa menggelar sharing session nasional bertema “Karhutla Meluas, Wilayah Pesisir dan Kepulauan Terkepung Asap” pada Rabu, 21 Oktober 2026. Forum ini diselenggarakan guna merespons krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tidak hanya melalap kawasan daratan dan gambut di enam provinsi prioritas, melainkan telah meluas secara masif ke wilayah non-gambut, kawasan hutan lindung pesisir, hingga pulau-pulau kecil di kawasan timur Nusantara.
Salah satu narasumber yang menyampaikan paparan langsung dari kondisi lapangan adalah Jhonli Mamuka, perwakilan dari Forum Komunikasi Peduli Sangihe, Sulawesi Utara. Dalam paparannya, ia membeberkan gambaran geografis serta kronologi krisis karhutla yang melanda Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kepulauan Sangihe terletak di garis terluar utara Sulawesi Utara, yang membutuhkan waktu tempuh pelayaran laut sekitar 8 hingga 10 jam dari Kota Manado. Krisis kebakaran ini diawali oleh fenomena kekeringan ekstrem akibat dampak gelombang El Nino kuat yang melanda wilayah kepulauan.
Petaka kebakaran mulai pecah pada 5 September 2026 sekitar pukul 17.00 WITA. Dalam waktu yang hampir bersamaan, muncul dua titik api secara mendadak di dua perbukitan yang berbeda yakni satu titik di kawasan puncak Gunung Awu dan satu titik di perbukitan yang berdekatan dengan permukiman warga.
Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian dan keterangan relawan, kebakaran di Gunung Awu dipicu oleh faktor kelalaian manusia saat menggunakan kompor portabel di kawasan Pos 8 jalur pendakian. Kompor portabel yang tumpah langsung menyambar vegetasi alang-alang dan semak yang mengering akibat kemarau panjang. Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Sangihe telah menahan seorang tersangka berinisial IAB guna proses hukum lebih lanjut.
Kobaran api yang terus menjalar selama kurang lebih 32 hari tersebut akhirnya menghanguskan sekitar 1.100 hektar kawasan hutan lindung di Gunung Awu. Meski dampak kerusakan sangat dahsyat dan mengancam keselamatan warga, Jhonli Mamuka menyoroti adanya jurang pemisah yang tajam antara realitas kegentingan di tingkat relawan tapak dengan respons para pemangku kebijakan pemerintah daerah.
“Ini darurat karhutla cuma ada di kata-kata atau di tingkat relawan. Tapi kalau dari sisi stakeholder yang terkait, nggak ada darurat karhutla. Buktinya kemarin, Gubernur sempat keluarin statement bahwa enggak ada darurat di Sulawesi Utara sendiri,” tegas Jhonli.

Medan Terjal di Gunung Api
Proses pemadaman karhutla di Gunung Awu menyajikan tantangan teknis yang sangat berat bagi tim pemadam. Berbeda dengan kebakaran hutan pada umumnya, vegetasi yang terbakar di kawasan puncak Gunung Awu didominasi oleh alang-alang dan tanaman pakis hutan. Jhonli Mamuka menjelaskan bahwa karakter ekologis hutan pakis memiliki kemiripan yang signifikan dengan karakteristik lahan gambut dalam hal penanganan api.
“Penanganan hutan pakis dan gambut itu agak mirip. Kontur tanah di lokasi bukan sekadar tanah biasa, melainkan tumpukan tumbuhan pakis yang sudah membusuk bertahun-tahun. Jika pakisnya tidak dibelah untuk menyiramkan air sampai ke bagian dalam, apinya akan terus menyala di bawah permukaan tanah. Hal itulah yang membuat pemadaman membutuhkan waktu hingga 32 hari,” jelasnya.
Selain kendala vegetasi pakis yang menyimpan bara api di dalam tanah, medan geografis Gunung Awu sangat ekstrem. Para relawan kemanusiaan bersama unsur TNI, Polri, dan BPBD harus mendaki jalur terjal, melintasi kecuraman lereng, serta berhadapan langsung dengan jurang-jurang dalam di tengah keterbatasan alat dan ketiadaan sumber air di lokasi kebakaran. Kencangnya tiupan angin musim kemarau turut mempercepat rambatan api menuruni lembah menuju kawasan perbatasan perkebunan warga.
Dampak kebakaran ini juga merusak infrastruktur penting pemantauan bencana. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos Pengamatan Gunung Awu melaporkan bahwa satu stasiun pemantauan kegempaan yang berada tepat di puncak Gunung Awu ikut ludes terbakar sehingga tidak lagi berfungsi. Hujan yang turun di Pulau Sangihe cukup membantu dalam memadamkan api.
“Kemarin ada lumayan hujan dan cukup deras. Walaupun enggak sampai sejam. Tapi sudah bisa padamkan api yang ada di Hutan Pakis,” tambah Jhonli.

Swadaya Masyarakat Tapak
Di tengah ketiadaan respons penanganan darurat formal dari pemerintah provinsi, mobilisasi penanganan karhutla di Kepulauan Sangihe bertumpu penuh pada aksi swadaya dan solidaritas masyarakat lokal. Para pemuda, komunitas pecinta alam, relawan BPBD, serta warga kampung bahu-membahu mendirikan posko penanggulangan bencana di titik-titik pendakian.
Pasokan logistik untuk para relawan yang berjibaku di puncak gunung disuplai secara mandiri oleh warga sekitar, organisasi keagamaan dari gereja-gereja dan masjid-masjid lokal, serta komunitas masyarakat sipil. Setelah berjuang tanpa kenal lelah selama satu bulan lebih, pertolongan alam akhirnya datang lewat curahan hujan deras yang mengguyur kawasan puncak Gunung Awu, yang membantu memadamkan sisa-sisa bara api di lapisan pakis.
“Dimulai dengan warga, bantu warga. Jadi, kita bentuk dirikan posko, dimulai oleh relawan. Untuk posko logistik disuplai oleh warga-warga sekitar, warga terdampak, organisasi-organisasi gereja, organisasi masjid,” ujar Jhonli.
Rangkaian diskusi dalam sharing session Jaring Nusa menggarisbawahi fakta bahwa karhutla di wilayah pulau kecil dan pesisir membawa dampak berantai yang sangat kompleks bagi kehidupan warga. Kebakaran hutan pulau kecil tidak hanya merusak vegetasi lindung dan mengancam satwa liar endemik seperti kuskus kerdil, melainkan juga memicu krisis air bersih dan polusi asap pekat yang mengepung perairan pesisir.
Di berbagai wilayah kepulauan KTI, paparan kabut asap akibat karhutla dilaporkan telah mengganggu aktivitas nelayan tradisional secara serius. Secara nasional, dilasir oleh Kompas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat pajanan asap karhutla telah menembus angka 277.075 kasus di 63 kabupaten/kota terdampak.
Dari total kasus tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen di antaranya menyerang kelompok rentan anak-anak dan balita usia 0–5 tahun. Selain Sangihe, karhutla hebat pada periode Juli–Oktober 2026 juga melanda wilayah Kepulauan Taliabu di Maluku Utara dengan total luas terbakar mencapai 4.000 hektar menurut catatan JPIK, serta wilayah adat Moi di Malaumkarta (Papua Barat Daya) dan wilayah adat Buano (Sulawesi Tengah).
Foto utama: Ilustrasi gunung terkabar.