Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam E3S Web of Conferences MaCiFIC 2021 mengungkapkan bahwa kondisi terumbu karang di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, menunjukkan peningkatan tutupan karang hidup dalam kurun waktu 2015 hingga 2018. Meski begitu, status keseluruhan ekosistem terumbu karang di kawasan ini masih berada dalam kategori “sedang” (moderate) dan membutuhkan perhatian serius untuk pemulihan berkelanjutan.
Penelitian bertajuk “Status of Coral Reefs in the Water of Spermonde, Makassar, South Sulawesi” dilakukan oleh tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Universitas Hasanuddin. Studi ini memantau perubahan kondisi ekosistem terumbu di 13 titik pengamatan di sekitar perairan Spermonde, kawasan yang dikenal sebagai salah satu gugusan pulau terumbu karang paling penting di Indonesia bagian timur.
Peningkatan Tutupan Karang Hidup
Survei dilakukan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT), yang kemudian dianalisis dengan perangkat lunak Coral Point Count with Excel extensions (CPCe) untuk menghitung persentase tutupan karang hidup (live coral cover – LCC).
Hasilnya menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun:
-
2015: 19,64%
-
2016: 23,60%
-
2017: 23,72%
-
2018: 27,83%
Rata-rata peningkatan sekitar delapan poin persentase selama empat tahun menunjukkan adanya sinyal positif bagi pemulihan sebagian kawasan terumbu karang. Meski demikian, menurut indeks kesehatan terumbu karang, kondisi keseluruhan masih dikategorikan “sedang” dengan nilai indeks 4.
Kondisi Tidak Merata Antar Lokasi
Penelitian juga menemukan bahwa kondisi antarstasiun pengamatan sangat bervariasi. Beberapa lokasi mencatat peningkatan signifikan, sementara tiga lokasi mengalami penurunan tutupan karang antara 0,31% hingga 3,54%. Bahkan, ada stasiun dengan tutupan hanya sekitar 8,20%, yang dikategorikan dalam kondisi “buruk” (poor).
Perbedaan kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan lingkungan, aktivitas manusia, serta faktor geografis dan oseanografi lokal memainkan peran penting terhadap kesehatan karang di tiap pulau. Pulau-pulau yang dekat dengan Kota Makassar cenderung lebih terpapar sedimentasi dan aktivitas antropogenik, sementara pulau-pulau luar menunjukkan kondisi yang lebih baik.

Ancaman Masih Ada
Kawasan Spermonde berada di wilayah pesisir yang padat aktivitas: perikanan, pariwisata, dan transportasi laut. Tekanan akibat sedimentasi dari daratan, pencemaran, serta praktik pemanfaatan yang tidak ramah lingkungan masih menjadi ancaman nyata.
Para peneliti menilai bahwa peningkatan tutupan karang yang ditemukan dalam penelitian ini belum bisa dijadikan alasan untuk berpuas diri. Tanpa pengelolaan yang konsisten dan adaptif, tren positif tersebut berpotensi menurun kembali akibat tekanan lingkungan yang terus meningkat.
“Peningkatan ini adalah kabar baik, tapi masih rentan. Perlu memastikan bahwa upaya konservasi dan kesadaran masyarakat pesisir terus diperkuat,” ujar peneliti dalam laporan tersebut.
Terumbu karang tidak hanya menjadi benteng alami bagi pantai, tetapi juga berperan penting bagi keanekaragaman hayati laut dan ekonomi masyarakat pesisir. Di kawasan Spermonde, ribuan nelayan menggantungkan hidupnya pada ekosistem ini.
Dengan adanya data ilmiah dari penelitian ini, diharapkan pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dapat menyusun strategi konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Jika upaya pemulihan dapat dijaga konsistensinya, maka Spermonde berpotensi menjadi contoh sukses bagi daerah pesisir lainnya di Indonesia dalam menjaga ekosistem laut dari tekanan pembangunan.
“Terumbu karang adalah harta bawah laut kita. Menjaganya berarti menjaga masa depan pesisir dan generasi yang akan datang,” tulis tim peneliti dalam kesimpulan laporan.
Foto utama: Potret Terumbu Karang dengan kondisi baik dijumpai banyak ikan-ikan kecil di kepulauaan Spermonde. (Foto: YKL Indonesia)