Search
Close this search box.
Search

Krisis Iklim dan Pudarnya Pengetahuan Navigasi Tradisional Nelayan NTT

Krisis Iklim dan Pudarnya Pengetahuan Navigasi Tradisional Nelayan NTT

Di ujung selatan Nusa Tenggara Timur, tempat Laut Sawu bertemu dengan Samudra Hindia, hidup nelayan Rote dan Sabu telah lama diatur oleh ritme yang tak tertulis di buku mana pun. Bukan aplikasi cuaca yang menuntun mereka menentukan hari melaut, melainkan arah angin, bentuk awan, gerak burung, dan posisi bulan.

Pengetahuan ini diwariskan dari generasi ke generasi, dibentuk oleh pengalaman panjang berhadapan dengan laut lepas yang keras dan pulau-pulau kecil yang minim perlindungan alami. Namun kini, pengetahuan leluhur itu perlahan kehilangan pijakannya, terguncang oleh pola cuaca yang semakin sulit ditebak akibat perubahan iklim.

Kalender Musim yang Diwariskan Turun-Temurun

Bagi nelayan tradisional di pesisir NTT, laut bukan ruang kosong yang bisa ditaklukkan begitu saja, melainkan sesuatu yang harus dibaca, ditunggu, dan dihormati sebelum diarungi. Pengetahuan lokal semacam ini biasanya mengambil bentuk kalender musim: pemetaan bulan-bulan sepanjang tahun beserta kondisi angin, gelombang, dan potensi tangkapan yang menyertainya.

Musim barat yang berlangsung sekitar Januari hingga Maret, misalnya, dikenal luas sebagai periode gelombang tinggi dan angin kencang, saat perahu-perahu kecil lebih sering ditambatkan di darat daripada dilepas ke laut.

Sebuah riset yang dilakukan di kawasan Kabupaten dan Kota Kupang mencatat bahwa pengetahuan lokal nelayan terutama berkisar pada tiga hal: arah dan kecepatan angin, awal datangnya musim badai atau angin barat, serta waktu-waktu panen berbagai jenis hasil laut [1].

Berbeda dengan petani yang lebih membutuhkan informasi soal awal dan akhir musim hujan, nelayan justru sangat bergantung pada pembacaan angin karena keselamatan mereka di tengah laut ditentukan langsung oleh faktor itu.

Sayangnya, riset yang sama juga menemukan bahwa nelayan dan petani tidak banyak mendapatkan manfaat dari informasi cuaca resmi yang disediakan otoritas terkait, baik karena keterbatasan akses maupun kesulitan memahami format informasinya.

Tanda-Tanda Alam sebagai “Radar” Nelayan

Secara umum, nelayan tradisional di kawasan pesisir NTT termasuk nelayan Rote dan Sabu yang wilayah tangkapnya berhadapan langsung dengan Samudra Hindia yang ganas. Mengandalkan sejumlah penanda alam sebelum memutuskan melaut. Pada siang hari, mereka mencermati bentuk awan, arah angin, dan pola arus air sebagai indikator kondisi laut.

Awan tebal berwarna abu-abu kehitaman yang menggantung memanjang di atas laut dipercaya sebagai pertanda cuaca buruk yang akan datang dari arah tertentu. Pada malam hari, posisi dan fase bulan menjadi rujukan utama, baik untuk menentukan arah maupun memperkirakan pasang-surut dan potensi tangkapan [2].

Pengetahuan seperti ini bukan sekadar teknik praktis, melainkan bagian dari kosmologi yang menempatkan laut sebagai sumber kehidupan sekaligus entitas yang harus diperlakukan dengan hormat dan kehati-hatian. Di beberapa desa pesisir NTT, tanda-tanda yang lebih halus juga menjadi rujukan warga perilaku hewan yang tidak biasa, seperti anjing yang menggonggong tanpa henti atau ayam berkokok di luar waktunya, kerap dimaknai sebagai peringatan oleh generasi tua.

Namun generasi muda yang tumbuh dengan gawai dan aplikasi cuaca semakin jarang memperhatikan tanda-tanda semacam ini, sehingga transmisi pengetahuan antar-generasi ikut terputus.

Perahu nelayan tradisional saat merapat pagi hari di Pelabuhan Perikanan Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia)

Ketika Pola Lama Tak Lagi Bisa Dipercaya

Persoalan mulai muncul ketika pola cuaca yang dulunya relatif konsisten sepanjang musim kini menjadi liar dan sulit diprediksi. Seorang nelayan di Kelurahan Nun Baun Sabu, Kota Kupang, menuturkan bahwa perubahan iklim membuat mereka kerap tidak bisa lagi memprediksi cuaca secara akurat kondisi yang tampak tenang di pesisir bisa berubah drastis menjadi angin kencang begitu perahu sudah berada di tengah laut, memaksa mereka membatalkan perjalanan dan menanggung kerugian biaya bahan bakar yang telah dikeluarkan [4].

Ketidakpastian semacam ini konsisten dengan pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa perubahan iklim global adalah kenyataan yang tercermin dari meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, mulai dari kekeringan panjang akibat El Niño hingga musim hujan basah berkepanjangan akibat La Niña.

Riset akademik turut memperkuat gambaran ini. Kajian tentang strategi adaptasi nelayan Bajo di Kabupaten Sikka, Flores, NTT, mendokumentasikan bagaimana perubahan iklim memaksa nelayan menempuh jarak dan waktu tangkap yang lebih jauh akibat bergesernya habitat ikan, sementara kenaikan muka laut turut meningkatkan intensitas gelombang tinggi yang mengancam infrastruktur pesisir dan keselamatan jiwa [5].

Dampaknya terasa langsung pada pendapatan. Seorang nelayan di Kupang mengenang bahwa lebih dari satu dekade lalu, sekali melaut tiga hari bisa membawa pulang hasil tangkapan senilai puluhan juta rupiah; kini, pada hari-hari baik sekalipun, hasilnya jauh menyusut sementara biaya operasional tetap tinggi [4].

Nelayan lain di Teluk Kupang juga mengakui bahwa jenis ikan tertentu yang dulu melimpah pada bulan-bulan tertentu kini semakin jarang ditemukan, memaksa mereka bergeser ke lokasi tangkap yang lebih jauh dan berisiko [6].

Perpaduan Pengetahuan Lokal dan Sains Modern

Di tengah tantangan ini, sejumlah komunitas nelayan di NTT mulai mencari jalan tengah: memadukan kearifan lokal dengan informasi ilmiah modern. Salah satu contohnya adalah kelompok nelayan di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, yang sejak 2019 menjalin kemitraan dengan BMKG Kupang.

Melalui program sekolah lapang cuaca, para nelayan dilatih membaca data tinggi gelombang dan peringatan dini cuaca ekstrem, yang kemudian dipadukan dengan pengalaman lapangan mereka sendiri. Ketua kelompok tersebut mengklaim bahwa sejak kerja sama ini berjalan, angka kecelakaan laut akibat cuaca buruk di kelompoknya turun hingga nol [6].

Para perempuan dan anak-anak yang berada di kapal purse seine usai menjual ikan hasil tangkapan di TPI Alok Maumere, kabupaten Sikka, NTT. (Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia)

Pendekatan gabungan semacam ini sejalan dengan temuan riset internasional tentang peran Traditional Ecological Knowledge (TEK) dalam adaptasi perubahan iklim di kalangan masyarakat pesisir dan kepulauan Indonesia.

Kajian terhadap komunitas Orang Suku Laut di Kepulauan Riau menemukan bahwa sebagian besar dari mereka menyadari perlunya mengintegrasikan sains dan teknologi modern dengan pengetahuan tradisional guna memperkuat kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim [7]. Namun kajian yang sama juga mencatat masih banyaknya tantangan dalam upaya integrasi tersebut, termasuk kesenjangan akses teknologi dan minimnya pengakuan formal terhadap pengetahuan lokal dalam kebijakan pengelolaan sumber daya pesisir.

Tantangan integrasi ini juga tercermin dalam gambaran umum kondisi armada nelayan NTT. Di Kabupaten Sabu Raijua misalnya, sebagian besar nelayan masih mengandalkan perahu tradisional tanpa motor atau dengan mesin sederhana, beroperasi di perairan dangkal karena keterbatasan biaya bahan bakar dan teknologi.

Kondisi ini membuat mereka sangat bergantung pada keakuratan pembacaan tanda-tanda alam sekaligus sangat rentan bila prediksi tersebut meleset akibat pola cuaca yang kian menyimpang dari kebiasaan lama.

Merawat Pengetahuan yang Terancam Punah

Ancaman terhadap pengetahuan navigasi dan cuaca tradisional nelayan Rote-Sabu bukan hanya soal akurasi prediksi yang menurun akibat perubahan iklim, tetapi juga soal keberlangsungan transmisi pengetahuan itu sendiri.

Ketika generasi muda lebih mempercayai aplikasi cuaca di ponsel dibandingkan naluri dan tanda-tanda alam yang diwariskan orang tua mereka, ada risiko nyata bahwa sistem pengetahuan yang telah teruji selama ratusan tahun ini akan hilang sebelum sempat didokumentasikan secara memadai.

Para peneliti dan pegiat lingkungan mendorong agar pengetahuan lokal semacam ini tidak dipandang sebagai warisan usang yang harus digantikan sepenuhnya oleh sains modern, melainkan sebagai basis pengetahuan yang bisa memperkaya sistem peringatan dini formal. Harapannya sederhana namun mendasar, pengakuan bahwa pengetahuan lokal adalah bagian sah dari sistem mitigasi bencana, bukan sekadar cerita masa lalu yang ditinggalkan begitu saja seiring modernisasi kehidupan pesisir.

Referensi

  1. Ratumakin, A., & Fanggidae, S. (2015). Nelayan dan Petani Membaca Cuaca dan Musim. Yayasan PIKUL. https://pikul.id/2015/02/10/nelayan-dan-petani-membaca-cuaca-dan-musim/
  2. Kompas.com. (2023, 17 November). Kebiasaan Nelayan dalam Memprediksi Cuaca Ketika Melaut. https://www.kompas.com/skola/read/2023/11/17/030000469/kebiasaan-nelayan-dalam-memprediksi-cuaca-ketika-melaut
  3. de Rosary, E. (2022, 9 Desember). Apa Dampak Perubahan Iklim Bagi Nelayan NTT? Mongabay Indonesia. https://www.mongabay.co.id/2022/12/09/apa-dampak-perubahan-iklim-bagi-nelayan-ntt/
  4. Nurlaili, N. (2012). Strategi Adaptasi Nelayan Bajo Menghadapi Perubahan Iklim: Studi Nelayan Bajo di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 14(3), 599–624.
  5. de Rosary, E. (2023, 14 Desember). Begini Cara Nelayan NTT Hadapi Dampak Perubahan Iklim. Mongabay Indonesia. https://www.mongabay.co.id/2023/12/14/begini-cara-nelayan-ntt-hadapi-dampak-perubahan-iklim/
  6. Wiryawan, B., et al. (2019). Traditional Ecological Knowledge of Indigenous Peoples on Climate Change Adaptation: A Case Study of Sea Nomads “Orang Suku Laut”, Lingga Regency, Riau Islands Province, Indonesia. https://www.researchgate.net/publication/337032781

Foto utama: Para perempuan dan anak-anak yang berada di kapal purse seine usai menjual ikan hasil tangkapan di TPI Alok Maumere, kabupaten Sikka, NTT. (Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *