Teluk Ambon, dengan ekosistem pesisirnya yang bervariasi, seharusnya menjadi jantung kehidupan bagi ribuan organisme laut dan tumpuan ekonomi masyarakat Maluku. Namun, di balik keindahannya, teluk ini menyimpan ancaman senyap yang terus bertumbuh: sampah plastik.
Riset terbaru dari tim peneliti Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Pattimura, menyingkap fakta mengkhawatirkan mengenai kepadatan sampah plastik terapung di perairan Poka-Galala, sebuah area vital yang menjadi pusat pendidikan, transportasi, hingga budidaya laut di Kota Ambon.
Studi yang ditulis oleh Syaranamual, Tuahatu dan Tubalawony tahun 2025 ini mengonfirmasi bahwa Indonesia masih bergelut dengan posisi sulit sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua ke laut di dunia. Di tingkat lokal, perairan Teluk Ambon Dalam (TAD) kini berada di ambang krisis polusi yang memerlukan penanganan mendesak.
Ancaman di Balik Konsumsi Plastik yang Masif
Sampah laut bukan sekadar pemandangan yang merusak mata, melainkan limbah padat hasil aktivitas manusia yang secara langsung maupun tidak langsung mencemari lingkungan perairan. Masalah utamanya terletak pada karakteristik plastik itu sendiri.
“Sampah plastik merupakan jenis sampah laut yang menjadi ancaman serius untuk lingkungan, selain karena kuantitasnya yang semakin banyak, juga sulit terurai oleh proses alam,” terang tim penulis.
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas sampah yang mencemari Poka-Galala adalah sampah kemasan. Selama fase bulan purnama, sampah jenis ini mendominasi hingga 80,7% pada saat air pasang.
Barang-barang seperti botol minuman, kemasan makanan, kantong plastik supermarket, hingga kemasan deterjen menjadi bukti nyata dari tingginya daya konsumsi masyarakat di sekitar teluk yang tidak dibarengi dengan sistem pengelolaan limbah yang mumpuni.

Mengapa Sampah Lebih Banyak Saat Air Pasang?
Salah satu temuan menarik dari riset ini adalah pengaruh siklus pasang surut terhadap distribusi sampah. Data menunjukkan bahwa komposisi sampah plastik apung jauh lebih tinggi saat kondisi pasang dibandingkan saat surut.
Fenomena ini dijelaskan melalui mekanisme arus pasut. Pada saat pasang, muka air di laut lebih tinggi daripada di dalam teluk, sehingga arus bergerak masuk membawa sampah dari luar atau area sekitar menuju bagian dalam teluk (kondisi flood). Sebaliknya, saat surut (ebb), arus cenderung membawa sampah keluar dari teluk menuju laut lepas.
Hal ini mengindikasikan bahwa Teluk Ambon Dalam berperan seperti jebakan bagi sampah-sampah plastik yang terbawa arus, menyebabkan akumulasi yang signifikan di area pesisir seperti Poka-Galala.
Poka: Titik Panas Polusi di Teluk Ambon
Riset ini membagi lokasi penelitian menjadi beberapa sub-blok untuk melihat persebaran kepadatan sampah secara spesifik. Hasilnya, Sub-blok 1 (Perairan Poka) tercatat sebagai area dengan kepadatan tertinggi. Pada fase purnama saat surut saja, kepadatan sampah kemasan mencapai 152 item per 2.500 m².
Tingginya kepadatan di Poka sejalan dengan data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (kini BRIN-P2LD) yang menyatakan bahwa Poka menyumbang persentase kepadatan sampah tertinggi di Teluk Ambon, yakni sebesar 47,42%.
Kawasan ini memang sangat aktif, mencakup area pelayaran kapal, rumah makan pesisir, hingga budidaya Keramba Jaring Apung (KJA). Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya akan sangat fatal bagi rantai makanan, ekonomi perikanan, dan kesehatan masyarakat yang mengonsumsi hasil laut dari wilayah tersebut.

Sinergi Anak Muda Peduli Lingkungan
Riset tersebut menunjukkan jika sampah merupakan ancaman serius di pesisir Ambon yang dapat mengancam ekosistem. Upaya Moluccas Coastal Care di Ambon yang menggerakkan anak muda untuk menjaga pesisir Ambon dilihat dari berbagai aksi yang dilakukan.
Menurut Cyecilia Pical yang mewakili MCC menjelaskan jika sampah yang tidak terkelola telah mengancam ekosistem pesisir dan laut.
“Ini merupakan persoalan yang sudah ada di depan mata. Jadi kalau dibilang ancamannya, kondisinya sudah kritis,” ungkapnya dalam sharing session yang dilakukan oleh Jaring Nusa.
Ia juga menjelaskan jika terdapat beberapa faktor yang menyebabkan krisis sampah di pulau-pulau kecil. Pertama adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dari rumah. Kemudian penggunaan plastik sekali pakai yang belum dikendalikan.
Selain itu kurangnya edukasi terkait ancaman sampah bagi pulau kecil. Masih minimnya teknologi dan inovasi pengelolaan sampah di pulau kecil.
Hal ini juga ditambah dengan rendahnya penegakkan aturan pengolahan sampah di berbagai level pemerintahan. Sehingga mereka juga turut berpartisipasi aktif dalam mengurangi sampah di pesisir Ambon. Aksi bersih pantai yang dilakukan oleh MCC bersama berbagai elemen berhasil mengumpulkan 32 ton sampah.
“Kita tahu bahwa orang-orang di pulau kecil hidup di laut. Jadi jika kondisi pesisir dan lautnya rusak, maka berdampak sangat besar terhadap masyarakat,” terangnya.
Foto utama: Kegiatan aksi bersih pantai yang dilakukan oleh MCC bersama berbagai organisasi (Foto: MCC)