Setelah ditutup selama tiga bulan, lokasi penutupan sementara perairan di Desa Popisi, Kabupaten Banggai Laut, dan Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Pulau, kini dibuka kembali. Pembukaan kembali ini menandai berakhirnya upaya pengelolaan perikanan berbasis masyarakat yang menggunakan sistem buka-tutup, khususnya untuk penangkapan gurita.
Yayasan Alam Lestari Indonesia (LINI) bekerja sama dengan Pemerintah Desa, Organisasi Perikanan Berbasis Masyarakat (POKMASWAS), organisasi penangkapan gurita, serta instansi perikanan dan pejabat desa di masing-masing wilayah untuk menyelenggarakan acara ini.
Desa Popisi dan Kalumbatan terkenal dengan penangkapan guritanya, yang telah dilakukan dengan cara yang sama selama beberapa generasi. Namun, pengumpulan data menunjukkan bahwa populasi gurita mengalami tekanan, baik dari segi jumlah maupun ukuran, dan lokasi penangkapan semakin jauh dari desa. Karena hal-hal tersebut, masyarakat sepakat untuk menutup area tersebut selama tiga bulan agar kehidupan laut dapat pulih.
Tujuan utama sistem ini adalah untuk memungkinkan kehidupan laut tumbuh dan berkembang, yang pada akhirnya akan meningkatkan manfaat ekonomi bagi nelayan dengan cara yang baik bagi lingkungan.
Ukuran dan Pencapaian
Upacara pembukaan, yang menandai pembukaan kembali resmi kawasan perikanan, dimulai dari dermaga di setiap komunitas dan berlanjut ke laut untuk mencapai pelampung batas. Sebelum parade simbolis, LINI dan para pemimpin pemerintah lainnya memberikan laporan tentang bagaimana keadaan berjalan.
Acara Popisi dihadiri oleh orang-orang dari UPT PP KKP3K Banggai (Unit Pelayanan Masyarakat), Dinas Perikanan Banggai Laut, pemerintah kecamatan dan desa, Babinsa (Badan Pengawas Desa), Kelompok Pemberdayaan Masyarakat (Pokmaswas), nelayan, pemimpin masyarakat, dan tim LINI. Orang-orang dari UPT PP KKP3K Banggai, pemerintah daerah, Babinsa (Badan Pengawas setempat), Kelompok Pemberdayaan Masyarakat (Pokmaswas), kelompok nelayan, dan LINI semuanya hadir di Kalumbatan.
Desa Popisi terpaksa ditutup sementara untuk kelima kalinya sejak tahun 2019. Pada tahun 2025, area yang ditutup akan mencapai 453,1 hektar. Penerbitan Peraturan Desa Popisi Nomor 02 Tahun 2024, yang mengatur tentang perlindungan area penangkapan ikan, membantu upaya ini.

Kec.Totikum Selatan, Kab.Banggai Kepulauan Prov. Sulawesi Tengah. (Foto: Yayasan LINI)
Di Desa Kalumbatan, di sisi lain, program ini telah berlangsung empat kali sejak tahun 2022, mencakup dua area yang totalnya lebih dari 137 hektar. Saat ini, desa dan masyarakat bekerja sama untuk membuat peraturan desa yang akan memudahkan pengelolaan perikanan lokal.
Hendrid Rahman, yang bekerja untuk LINI Banggai Laut, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas kerja samanya.
“Kegiatan penutupan sementara tahun ini merupakan yang ke-5 kalinya sejak 2019, harapannya hasilnya semakin baik dan dirasakan semua masyarakat,” ujarnya.
Jasdin Budia perwakilan dari LINI berbicara tentang manfaat yang mulai dirasakan oleh para nelayan. Metode ini telah berhasil bagi nelayan gurita di Desa Kalumbatan.
“Kegiatan ini telah memberikan hasil bagi nelayan gurita di Desa Kalumbatan untuk memperkuat upaya pengelolaan perikanan sedang proses pembuatan Peraturan Desa bersama masyarakat,” katanya.
Ninto, kepala Kelompok Pengawas Masyarakat Popisi (Pokmaswas), berbicara tentang hal baik dan buruk dari pengawasan.
“Hasilnya cukup baik, namun masih perlu bantuan dan dukungan dalam pengawasan belum ada perahu dan alat,” ujarnya.
Pada saat yang sama, Juwono dari Kelompok Pengawas Masyarakat Kalumbatan (Pokmaswas) mengatakan ia berharap mendapat bantuan.
“Semoga hasilnya terus meningkat dan dirasakan nelayan meskipun keterbatasan Pokmaswas, kami terus berupaya melanjutkan kegiatan baik ini,” terangnya.
Apresiasi dari Pemerintah
Rusdi Ali, kepala konservasi di Pelabuhan Perikanan dan Urusan Kelautan serta Kementerian Perikanan Wilayah VI Sulawesi Tengah, mengatakan bahwa kedua masyarakat tersebut berada di kawasan konservasi laut Banggai Dalaka.
“Program TC di Desa Popisi dan Desa Kalumbatan harus didukung penuh dan dilanjutkan karena mempermudah kita dalam mengelola perikanan dan menjaga ekosistem laut,” ujarnya.
Ia juga menyebut rencana pembangunan pos jaga serta pengaturan kapal penangkap ikan dari luar daerah.
Sistem buka-tutup yang digunakan oleh Popisi dan Kalumbatan adalah contoh bagaimana proyek berbasis masyarakat dapat membantu mengurangi tekanan pada sumber daya laut. Untuk memastikan bahwa model ini bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi benar-benar melindungi laut dan pekerjaan nelayan, Penting untuk mengatasi masalah pengawasan, dukungan infrastruktur, dan memperbaiki hukum lokal.