Pulihkan Habitat yang Hilang, Jala Ina Ajak Masyarakat Adopsi Mangrove

Pulihkan Habitat yang Hilang, Jala Ina Ajak Masyarakat Adopsi Mangrove

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Ambon – Kondisi sejumlah hutan mangrove di Ambon yang mulai tergerus dan rusak mendorong Yayasan Jala Ina menggagas program adopsi mangrove untuk masyarakat. Direktur Eksekutif Jala Ina, Yusuf Sangadji mengatakan, program adopsi mangrove ini merupakan program rutin Jala Ina setiap tahun.

“Salah satu alasan kami konsisten menjalankan program ini karena rasa khawatir akan kondisi hutan mangrove di Ambon. Jika kita lihat banyak hutan mangrove yang rusak dan kehilangan fungsinya,” kata Yusuf Sangadji, Jumat (2/12/2022).

Kata dia, berdasarkan pantauan Jala Ina ada sejumlah penyebab mengapa hutan mangrove di Ambon rusak. Beberapa diantaranya karena alih fungsi, pencemaran limbah hingga karena tumpukan sampah yang menggenangi teluk-teluk di Ambon.

“Padahal mangrove punya fungsi yang cukup besar untuk lingkungan. Program adopsi mangrove ini merupakan salah satu upaya kami untuk tetap menjaga ekosistem mangrove di Ambon. Donaturnya bisa dari mana saja dan siapa saja, selama punya tujuan yang sama yakni menjaga Ambon dari kerusakan akibat rusaknya ekosistem mangrove,” tambah Yusuf.

Dalam program adopsi mangrove kali ini, Jala Ina bekerjasama dengan seniman komik asal Jakarta, Irene Meriska Esterlita. Setiap adopter yang berdonasi sebesar Rp200.000 akan mendapatkan 1 anakan mangrove dan sejumlah benefit seperti gambar karikatur gratis, piagam penghargaan dan foto bibit mangrove dengan label nama donatur.

“Adopsi bibit mangrove kami buka selama periode Desember 2022 hingga Januari 2023. Nantinya bibit ini akan kami tanam pada awal Februari 2023 di sejumlah lokasi yang kondisi mangrovenya mengalami kerusakan,” ujar Yusuf.

Seperti diketahui. Indonesia merupakan salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Indonesia juga dikenal sebagai negara yang juga menyumbang 25% dari total hutan Mangrove di dunia. Setidaknya hutan Mangrove di Indonesia membentang lebih dari 90.000 km garis pantai.

Sayangnya, fakta ini berbanding terbalik dengan kondisi hutan bakau yang ada. Laju kerusakan Mangrove di Indonesia menjadi yang tercepat di dunia. Catatan terakhir menyebut, kita kehilangan sekitar 40% dari total luas Mangrove yang ada.

Narahubung:
Direktur Konservasi Jala Ina – M. Fahrul Barcinta (+62 822-3913-9311)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *